Parenting
Rahman Abdullah

Kontrol Diri Anak Belum Terlatih? 6 Kebiasaan Ini Bisa Membantu Melatih Kesabaran

Kontrol Diri Anak Belum Terlatih? 6 Kebiasaan Ini Bisa Membantu Melatih Kesabaran

28 Agustus 2026 | 14:39

Keboncinta.com-- Anak yang sulit menunggu, sering menyela pembicaraan, atau langsung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya mungkin bukan sekadar sedang “nakal”. Ada keterampilan penting yang masih perlu dilatih, yaitu kemampuan mengendalikan diri.

Bagi orang tua, menghadapi anak yang terburu-buru dalam berbicara maupun bertindak tentu tidak selalu mudah. Ketika perilaku tersebut terjadi berulang kali, anak bahkan bisa dianggap tidak mau mendengarkan atau sulit diatur.

Padahal, kemampuan mengendalikan dorongan atau impuls merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Anak membutuhkan waktu untuk belajar menunggu, mengelola emosi, mempertimbangkan pilihan, serta memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Pada masa bayi dan balita, kemampuan kontrol diri memang masih berkembang. Anak belum mampu mengendalikan keinginan seperti orang dewasa. Namun, seiring bertambahnya usia, terutama ketika memasuki sekolah dasar, kemampuan tersebut perlu terus dilatih melalui pengalaman sehari-hari.

Lantas, apa yang terjadi ketika kontrol diri anak masih lemah? Dan bagaimana orang tua dapat membantu melatih kesabaran serta kemampuan anak mengendalikan impuls?

Baca Juga: Kemenag Perkuat Pencegahan Perkawinan Anak, BRUS Jadi Bekal Penting bagi Remaja

Kontrol Diri Anak Tidak Terbentuk Secara Instan

Kemampuan mengendalikan diri berkembang secara bertahap. Bayi dan balita biasanya masih kesulitan menunda keinginan karena mereka belum sepenuhnya memahami konsep waktu, menunggu, maupun akibat dari sebuah tindakan.

Ketika menginginkan sesuatu, anak pada usia tersebut cenderung ingin mendapatkannya segera. Kondisi ini merupakan bagian dari perkembangan dan tidak selalu menunjukkan adanya masalah.

Seiring pertumbuhan, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Kontrol diri yang semakin matang akan membantu anak belajar berpikir sebelum bertindak, menunggu giliran, mengatur reaksi emosional, serta tetap fokus meskipun terdapat gangguan.

Anak Bisa Bertindak Tanpa Memikirkan Akibatnya

Kontrol diri dapat diibaratkan sebagai “rem” yang membantu seseorang mengatur tindakan. Jika kemampuan tersebut belum berkembang dengan baik, anak mungkin lebih mudah mengikuti dorongan yang muncul secara spontan.

Akibatnya, anak dapat melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan risiko maupun dampaknya terhadap orang lain.

Dalam kondisi tertentu, perilaku impulsif bahkan dapat membuat anak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri atau orang di sekitarnya.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami hubungan antara pilihan, tindakan, dan konsekuensi secara perlahan sesuai dengan usia mereka.

Baca Juga: Beasiswa Swiss 2027–2028 Resmi Dibuka, Ada Jalur PhD dan Research Fellowship untuk Warga Indonesia

1. Hubungan Sosial Anak Bisa Terganggu

Salah satu dampak yang dapat terlihat adalah ketika anak berinteraksi dengan orang lain.

Anak yang kesulitan mengendalikan impuls mungkin sering memotong pembicaraan, tidak sabar menunggu giliran, langsung bereaksi ketika kecewa, atau berbicara tanpa memikirkan perasaan lawan bicara.

Jika tidak diarahkan, kebiasaan tersebut dapat membuat anak mengalami kesulitan dalam membangun hubungan dengan teman.

Namun, orang tua tidak perlu langsung memberikan cap negatif. Perilaku tersebut justru dapat dijadikan kesempatan untuk mengajarkan keterampilan sosial, seperti mendengarkan orang lain, bergiliran, menunggu, dan mengungkapkan keinginan dengan cara yang lebih baik.

2. Anak Bisa Kesulitan Merencanakan Sesuatu

Kemampuan mengendalikan impuls juga berkaitan dengan kemampuan berpikir sebelum mengambil keputusan.

Anak yang terbiasa langsung bertindak mungkin lebih kesulitan ketika harus menyusun langkah untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Padahal, kemampuan membuat rencana akan semakin dibutuhkan ketika anak mulai menghadapi tugas sekolah, kegiatan bersama teman, maupun tanggung jawab lainnya.

Orang tua dapat membantu dengan mengajak anak membuat urutan sederhana. Misalnya, menentukan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum beralih ke kegiatan berikutnya.

Latihan sederhana seperti ini dapat membantu anak belajar berpikir secara lebih teratur.

Baca Juga: Mutasi ASN Tak Lagi Harus Tunggu 10 Tahun? Muncul Usulan Bisa Ajukan Pindah Setelah 5 Tahun

3. Ajarkan Anak Menunda Keinginan

Salah satu cara sederhana untuk membangun kontrol diri adalah mengajarkan anak bahwa keinginan tidak selalu harus dipenuhi seketika.

Dalam situasi yang sesuai dengan usia anak, orang tua dapat mengajak mereka belajar menunggu.

Contohnya, ketika anak meminta sesuatu saat orang tua sedang menyelesaikan pekerjaan, jelaskan dengan bahasa sederhana kapan permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Hindari memberikan janji yang tidak dapat ditepati. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami bahwa menunggu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

4. Berikan Pilihan yang Terbatas

Memberikan pilihan juga dapat menjadi cara untuk melatih kemampuan anak dalam mengambil keputusan.

Orang tua dapat menawarkan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima. Misalnya, anak boleh memilih pakaian yang akan dipakai atau menentukan buku cerita yang ingin dibaca sebelum tidur.

Dengan cara tersebut, anak belajar mempertimbangkan pilihan tanpa harus mengikuti setiap dorongan yang muncul.

Orang tua juga dapat menjelaskan konsekuensi yang logis dari keputusan anak.

Tags:
Pola Asuh Anak Parenting Kesabaran

Komentar Pengguna