Keboncinta.com-- Keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik di sekolah. Kemampuan bergerak yang berkembang sejak usia dini ternyata memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk kecerdasan, kesehatan, karakter, hingga kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Karena itu, pengembangan kompetensi motorik kini menjadi perhatian serius para peneliti sebagai salah satu fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Pendidikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arisco Mardiansyah, menjelaskan bahwa kemampuan motorik merupakan dasar penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Ia mengibaratkan pembangunan kemampuan anak seperti mendirikan sebuah bangunan. Agar bangunan mampu berdiri kokoh, diperlukan fondasi yang kuat. Begitu pula dengan perkembangan anak, penguasaan gerak dasar menjadi landasan sebelum mereka mempelajari keterampilan yang lebih kompleks di masa mendatang.
Menurutnya, pembinaan kompetensi motorik bukan hanya bertujuan mencetak atlet berprestasi, tetapi juga membangun masyarakat yang sehat, aktif, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik sepanjang hayat.
Kemampuan menguasai gerakan dasar memberikan dampak positif terhadap rasa percaya diri anak dalam mengikuti berbagai aktivitas fisik.
Anak yang mampu berlari, melompat, melempar, atau menangkap dengan baik cenderung lebih aktif mengikuti kegiatan olahraga maupun permainan bersama teman-temannya. Kebiasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi gaya hidup sehat hingga mereka dewasa.
Sebaliknya, anak yang mengalami keterbatasan kemampuan motorik sering kali merasa kurang percaya diri sehingga memilih menghindari aktivitas fisik.
Karena itu, Arisco menilai pengembangan motorik perlu dilakukan sejak usia dini melalui pengalaman bergerak yang beragam, pembiasaan aktivitas fisik, serta penguatan karakter.
Baca Juga: Status Oren di Info GTK Jangan Diabaikan! Ini Penyebab SKTP Guru Belum Terbit
Hasil penelitian BRIN terhadap anak-anak usia PAUD hingga sekolah dasar di Sumatera Barat menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang belum menguasai keterampilan gerak dasar secara optimal.
Padahal, kemampuan tersebut menjadi syarat penting sebelum anak mempelajari teknik olahraga yang lebih spesifik pada jenjang berikutnya.
Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih besar terhadap pembelajaran pendidikan jasmani sejak usia dini agar perkembangan motorik anak dapat berlangsung secara maksimal.
Arisco menjelaskan bahwa setiap gerakan tubuh sebenarnya melibatkan proses kerja otak yang kompleks.
Ketika seorang anak melakukan aktivitas sederhana, seperti menendang bola, otak terlebih dahulu menerima informasi dari lingkungan, menganalisis situasi, menentukan arah gerakan, menjaga keseimbangan tubuh, lalu mengirimkan perintah kepada otot agar gerakan dapat dilakukan dengan tepat.
Proses tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan motorik berjalan seiring dengan perkembangan fungsi kognitif. Dengan kata lain, aktivitas fisik tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir anak.
Baca Juga: Soal Matematika TKA SMA 2026 Dikurangi Jadi 25 Nomor, Kemendikdasmen Ungkap 3 Materi Tersulit
Menurut Arisco, terdapat tiga kelompok keterampilan gerak dasar yang idealnya telah berkembang sebelum anak berusia sembilan tahun.
Kelompok pertama adalah keterampilan lokomotor, seperti berjalan, berlari, melompat, dan meloncat.
Kelompok kedua merupakan keterampilan manipulatif, yang meliputi aktivitas melempar, menangkap, menendang, maupun memukul objek.
Sementara itu, kelompok ketiga adalah keterampilan stabilitas yang berkaitan dengan kemampuan menjaga keseimbangan tubuh ketika bergerak maupun saat diam.
Penguasaan ketiga kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi anak dalam mengikuti berbagai aktivitas olahraga maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam penelitiannya, Arisco juga menemukan bahwa pembelajaran melalui permainan mampu meningkatkan kompetensi motorik anak secara signifikan.
Metode yang menyenangkan membuat anak lebih antusias mengikuti aktivitas fisik sekaligus mempercepat penguasaan keterampilan gerak dasar.
Ia juga mendorong guru pendidikan jasmani untuk terus berinovasi memanfaatkan berbagai alat sederhana sebagai media pembelajaran sehingga keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang dalam menciptakan proses belajar yang menarik.
Baca Juga: TKA SMA/SMK 2026 Resmi Dimulai! Ini Jadwal Lengkap dari Pendaftaran hingga Pengumuman Hasil
Arisco mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda.
Karena itu, proses identifikasi bakat olahraga tidak seharusnya dilakukan terlalu dini hanya berdasarkan usia. Penilaian kemampuan perlu mempertimbangkan tingkat kematangan biologis masing-masing anak agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan berkembang sesuai potensinya.
Penguatan kompetensi motorik sejak usia dini menjadi salah satu investasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, aktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Kemampuan gerak dasar tidak hanya mendukung prestasi olahraga, tetapi juga berperan besar dalam meningkatkan fungsi kognitif, membentuk karakter, serta menumbuhkan kebiasaan hidup sehat sepanjang hayat.
Melalui pembelajaran yang kreatif, dukungan guru yang inovatif, dan perhatian terhadap perkembangan setiap anak, kompetensi motorik dapat berkembang secara optimal. Dengan fondasi tersebut, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mewujudkan sumber daya manusia unggul sebagai pilar utama menuju Indonesia Emas 2045.***