Keboncinta.com - Pengakuan mengejutkan datang dari kalangan parlemen terkait peta ketahanan energi nasional, khususnya pasokan Liquid Petroleum Gas (LPG) yang menjadi kebutuhan pokok jutaan rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia.
Dalam sebuah sesi wawancara program "Sudut Dengar Parlemen", Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Dony Maryadi Oekon, membeberkan fakta miris: produksi LPG dalam negeri ternyata maksimal hanya menyumbang 20% dari total kebutuhan nasional!
Fakta ini mendadak menjadi sorotan publik karena menggambarkan betapa rentannya posisi Indonesia terhadap gejolak pasar dan situasi politik global.
Kebutuhan Capai 9 Juta Kiloliter, Beban Subsidi Negara Membengkak!
Dony Maryadi Oekon menjelaskan detail angka konsumsi LPG nasional yang sangat fantastis. Setiap tahunnya, kebutuhan LPG masyarakat Indonesia mencapai 9 juta kiloliter. Dari total kuota raksasa tersebut, porsi yang mendapatkan subsidi dari negara mencapai 8,5 juta kiloliter, sedangkan kategori non-subsidi hanya berkisar 500 ribu kiloliter.
"Bayangkan besarnya subsidi itu... dan itu yang dipikul oleh negara. Produksi LPG kita di Indonesia ini hanya 20% maksimum," tegas Dony.
Kondisi ini kian genting ketika gejolak geopolitik dunia menghantam. Salah satu pemicu kenaikan harga LPG di tanah air belakangan ini adalah terganggunya fasilitas penampungan dan rantai pasok LPG di wilayah Timur Tengah, tempat Indonesia bergantung pada pemenuhan pasokan impor.
Meski Indonesia berupaya mencari jalur alternatif impor hingga ke Amerika Serikat, biaya dan cost yang ditanggung tetap melonjak drastis.
Dilema Transisi ke Gas Alam (CNG & LNG)
Guna mengurangi ketergantungan ekstrem pada LPG impor, pemerintah sebenarnya terus mendorong pemanfaatan gas alam (seperti Compressed Natural Gas / CNG dan Liquefied Natural Gas / LNG). Gas alam dinilai cocok untuk sektor industri maupun jaringan perumahan berbasis kluster.
Namun, transisi ini bukan tanpa hambatan. Peralihan dari LPG ke CNG tidaklah mudah dan membutuhkan investasi infrastruktur yang sangat tinggi. Mulai dari penyiapan tabung khusus hingga spesifikasi jaringan distribusi yang sangat berbeda.
Pertamina Didesak Amankan Stok Demi Hindari Kelangkaan
Menjawab kekhawatiran terkait potensi kelangkaan LPG di masyarakat, parlemen secara tegas mendesak PT Pertamina (Persero) untuk mengambil langkah cepat.
Pertamina diminta untuk tetap proaktif berburu dan mengamankan pasokan barang dari luar negeri tanpa peduli seberapa mahal harganya di tingkat global (at any cost) demi menjamin ketersediaan energi nasional.
Fakta bahwasanya 80% pasokan LPG kita bergantung pada luar negeri menjadi sinyal peringatan keras bagi ketahanan energi Indonesia ke depan. (swd)