Keboncinta.com-- Tempe telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Makanan berbahan dasar kedelai yang difermentasi ini dikenal memiliki cita rasa khas, kaya nutrisi, dan mudah ditemukan di berbagai daerah. Bahkan, tempe kini telah mendunia dan menjadi salah satu pangan fermentasi yang banyak diminati di berbagai negara.
Namun, di balik popularitasnya masih muncul pertanyaan yang sering diperdebatkan, yaitu apakah tempe benar-benar berasal dari Indonesia atau justru merupakan warisan kuliner dari Tiongkok karena menggunakan kedelai sebagai bahan utamanya.
Sejumlah penelitian sejarah dan kajian ilmiah memberikan gambaran menarik mengenai asal-usul makanan tradisional tersebut.
Baca Juga: Perjalanan Spiritual Imam Al-Ghazali: Dari Guru Besar Menjadi Sufi yang Disegani
Tempe merupakan hasil fermentasi biji kedelai menggunakan jamur Rhizopus oligosporus, yang menghasilkan tekstur padat dan cita rasa khas.
Di Pulau Jawa, tempe telah menjadi makanan sehari-hari masyarakat sejak berabad-abad lalu. Salah satu bukti tertulis mengenai keberadaan tempe dapat ditemukan dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa yang disusun pada awal abad ke-19.
Dalam naskah tersebut, tempe disebut sebagai hidangan yang telah akrab dikonsumsi masyarakat Jawa bersama nasi dan berbagai lauk lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tempe bukanlah makanan baru, melainkan telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Nusantara sejak lama.
Sejumlah sejarawan kuliner juga meyakini bahwa teknik fermentasi tempe mulai berkembang di Jawa sekitar abad ke-17, setelah tanaman kedelai diperkenalkan ke Nusantara.
Secara historis, kedelai (Glycine max) memang berasal dari Tiongkok dan telah dibudidayakan selama ribuan tahun.
Masyarakat Tiongkok sejak dahulu telah mengembangkan berbagai produk fermentasi berbahan kedelai, seperti tahu fermentasi, saus kedelai, dan kecap. Produk-produk tersebut memiliki sejarah panjang dalam tradisi kuliner Asia Timur.
Namun, berbagai literatur klasik Tiongkok tidak mencatat adanya makanan fermentasi yang memiliki bentuk dan karakteristik seperti tempe, yaitu kedelai utuh yang direkatkan oleh jaringan jamur hingga membentuk balok padat.
Bahkan dalam karya terkenal Bencao Gangmu (Compendium of Materia Medica) yang disusun oleh Li Shizhen pada abad ke-16, banyak jenis makanan fermentasi dijelaskan, tetapi tidak ditemukan uraian mengenai tempe sebagaimana dikenal saat ini.
Baca Juga: Ini 10 Jurusan Kuliah yang Paling Banyak Disesali Lulusannya, Nomor Satu Bikin Kaget
Sejumlah penelitian modern semakin memperkuat pandangan bahwa tempe merupakan hasil inovasi masyarakat Nusantara.
Dalam buku The Book of Tempeh, peneliti William Shurtleff dan Akiko Aoyagi menjelaskan bahwa hingga kini tidak ditemukan bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan tempe di Tiongkok maupun Jepang sebelum makanan tersebut diperkenalkan dari Indonesia.
Selain itu, teknik fermentasi menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dinilai sangat khas dan berbeda dengan metode fermentasi kedelai yang berkembang di negara-negara Asia Timur lainnya.
Keunikan proses tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa banyak ahli berpendapat bahwa teknologi pembuatan tempe berkembang secara mandiri di Pulau Jawa.
Walaupun bahan baku utamanya berasal dari luar Indonesia, proses pengolahan kedelai menjadi tempe merupakan hasil kreativitas masyarakat lokal.
Perpaduan teknik fermentasi, pemanfaatan jamur tertentu, serta budaya konsumsi yang berkembang selama ratusan tahun menjadikan tempe memiliki identitas yang berbeda dari produk olahan kedelai di negara lain.
Karena alasan tersebut, tempe tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai salah satu warisan budaya kuliner Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah.
Baca Juga: Ingin Otak Tetap Tajam di Usia Tua? Coba Olahraga Raket yang Direkomendasikan Dokter
Dalam beberapa dekade terakhir, tempe semakin dikenal di berbagai negara sebagai makanan bergizi tinggi.
Kandungan protein nabati, serat, vitamin, serta proses fermentasi alami membuat tempe banyak dipilih sebagai alternatif sumber protein, terutama oleh kalangan vegetarian dan vegan.
Popularitasnya di pasar internasional semakin memperkuat posisi tempe sebagai salah satu produk pangan khas Indonesia yang berhasil menembus dunia.
Berbagai bukti sejarah, naskah kuno Jawa, serta hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tempe merupakan makanan asli Indonesia, khususnya berkembang di Pulau Jawa. Meskipun kedelai berasal dari Tiongkok, teknik fermentasi yang menghasilkan tempe diyakini lahir dari inovasi masyarakat Nusantara dan tidak ditemukan dalam catatan kuliner klasik Tiongkok.
Baca Juga: Diam-Diam Bisa Merusak Daya Ingat! Ini 5 Makanan yang Sebaiknya Dibatasi agar Otak Tetap Sehat
Oleh karena itu, tempe tidak hanya menjadi makanan bergizi yang digemari berbagai kalangan, tetapi juga merupakan warisan budaya Indonesia yang patut dijaga, dilestarikan, dan terus diperkenalkan kepada dunia sebagai salah satu identitas kuliner bangsa.***