Pendidikan
Rahman Abdullah

Usai Sinkronisasi Dapodik 2027 Jangan Lakukan 7 Kesalahan Ini, Bisa Berdampak pada Data Sekolah

Usai Sinkronisasi Dapodik 2027 Jangan Lakukan 7 Kesalahan Ini, Bisa Berdampak pada Data Sekolah

26 Juli 2026 | 17:18

Keboncinta.com-- Sinkronisasi Dapodik Versi 2027 bukanlah tahap akhir dalam pengelolaan Data Pokok Pendidikan. Setelah data berhasil dikirim ke server pusat, operator sekolah masih memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keakuratan dan konsistensi data yang telah tersimpan.

Banyak operator mengira seluruh proses telah selesai setelah sinkronisasi berhasil dilakukan. Padahal, tindakan yang keliru setelahnya justru dapat memicu masalah pada berbagai layanan pendidikan, mulai dari validasi data peserta didik, beban kerja guru, hingga penyaluran tunjangan profesi.

Oleh karena itu, memahami hal-hal yang tidak boleh dilakukan setelah sinkronisasi menjadi langkah penting agar kualitas data tetap terjaga.

Baca Juga: Kabar Baik Guru! MenPANRB dan Kemendikdasmen Bergerak Benahi Aturan 24 Jam Mengajar dan Formasi ASN Guru

Sinkronisasi Berhasil Bukan Berarti Pengelolaan Data Selesai

Sinkronisasi berfungsi mengirimkan data dari aplikasi Dapodik ke server pusat. Namun setelah proses tersebut selesai, seluruh data yang telah tersimpan harus tetap dijaga agar tidak mengalami perubahan yang berpotensi menimbulkan konflik pada sistem.

Perubahan yang dilakukan tanpa mengikuti prosedur dapat memengaruhi validitas data dan berdampak pada berbagai layanan administrasi pendidikan yang menggunakan basis data Dapodik.

Tujuh Kesalahan yang Harus Dihindari Setelah Sinkronisasi

Berdasarkan panduan dan infografis resmi Dapodik Versi 2027, terdapat tujuh tindakan yang sebaiknya tidak dilakukan setelah sinkronisasi data.

1. Menghapus Rombongan Belajar (Rombel)

Menghapus rombongan belajar dapat menghilangkan riwayat pembelajaran yang telah tersimpan sehingga keterkaitan data peserta didik menjadi terganggu. Akibatnya, laporan sekolah maupun data historis pembelajaran menjadi tidak lengkap.

Baca Juga: Sinkronisasi Dapodik 2027 Berhenti di Tengah Jalan? Jangan Diulang Terus, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

2. Memindahkan Siswa Tanpa Prosedur Resmi

Perpindahan peserta didik ke rombel lain harus dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku. Perubahan secara sembarangan berpotensi menyebabkan ketidaksesuaian data nilai rapor, presensi, hingga riwayat pembelajaran siswa.

3. Mendaftarkan Siswa pada Dua Rombel Sejenis

Satu peserta didik tidak boleh didaftarkan pada dua rombongan belajar yang memiliki jenis pembelajaran sama. Kondisi ini dapat memunculkan benturan jadwal sekaligus menyebabkan data gagal divalidasi oleh sistem.

4. Menghapus Pembelajaran untuk Mengganti Guru

Pergantian guru pengampu tidak dilakukan dengan cara menghapus data pembelajaran sebelumnya. Tindakan tersebut dapat menghilangkan histori beban kerja guru yang lama sehingga berdampak pada rekam administrasi dan validasi data.

Baca Juga: Sinkronisasi Dapodik 2027 Gagal Terus? Jangan Panik, Lakukan 7 Cara Ini agar Berhasil

5. Memberikan Penugasan TTU atau TTLE Melebihi Ketentuan

Pengisian Tugas Tambahan Utama (TTU) maupun Tugas Tambahan Lainnya (TTLE) harus mengikuti aturan yang berlaku. Jika jumlah penugasan melebihi batas yang ditentukan, sistem akan menandai data sebagai tidak valid.

6. Mengabaikan Pengisian Guru Wali

Penugasan wali kelas, khususnya pada jenjang SMP dan pendidikan di atasnya, merupakan bagian penting dalam struktur administrasi sekolah. Keterlambatan atau tidak mengisi data guru wali dapat memengaruhi kelengkapan administrasi serta perhitungan beban kerja guru.

7. Memasukkan Jam Mengajar Melebihi Struktur Kurikulum

Jumlah jam pelajaran harus sesuai dengan struktur kurikulum resmi.

Tags:
pendidikan Tutorial Dapodik terbaru Dapodik

Komentar Pengguna