Keboncinta.com – Tuberkulosis atau TBC dapat menyerang siapa saja. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi karena lebih sering terpapar bakteri penyebab TBC atau memiliki kondisi tubuh yang membuat infeksi lebih mudah berkembang menjadi penyakit.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meskipun bakteri juga dapat memengaruhi organ tubuh lainnya.
Penularan terutama terjadi melalui udara ketika seseorang dengan TBC paru atau saluran napas yang menular melepaskan bakteri saat batuk, berbicara, atau melakukan aktivitas yang menghasilkan partikel di udara. Orang lain yang menghirup udara tersebut dapat terinfeksi.
Lantas, siapa saja yang perlu lebih waspada?
Anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Risiko paparan meningkat karena mereka dapat berada dalam satu ruangan dengan pasien dalam waktu lama, terutama jika ventilasi udara kurang baik.
Karena itu, orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC dianjurkan mengikuti skrining sesuai arahan fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan penting dilakukan meskipun belum muncul keluhan.
Kontak erat bukan berarti seseorang pasti akan mengalami TBC. Namun, pemeriksaan dapat membantu menemukan infeksi atau penyakit lebih awal sehingga penanganan dapat diberikan jika diperlukan.
Orang dengan HIV termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami TBC karena sistem kekebalan tubuh dapat melemah.
Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri TBC yang sebelumnya dapat dikendalikan oleh sistem imun memiliki peluang lebih besar berkembang menjadi penyakit aktif.
Karena itu, skrining TBC menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan bagi orang dengan HIV.
Diabetes melitus juga menjadi salah satu kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko seseorang mengalami penyakit TBC.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat memengaruhi kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi infeksi.
Penderita diabetes yang mengalami gejala mengarah pada TBC, seperti batuk berkepanjangan, demam, berat badan turun tanpa sebab jelas, atau berkeringat pada malam hari perlu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Anak-anak juga membutuhkan perhatian khusus. Setelah terinfeksi bakteri TBC, bayi dan anak kecil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit dibandingkan sejumlah kelompok usia lainnya.
Pada anak, gejala TBC tidak selalu sama seperti orang dewasa sehingga pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan apabila terdapat faktor risiko maupun keluhan yang mencurigakan.
Anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC juga menjadi kelompok penting dalam pemeriksaan kontak dan upaya pencegahan.
Lansia maupun orang dengan kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah dapat lebih rentan mengalami penyakit setelah terinfeksi TBC.
Penurunan daya tahan tubuh dapat dipengaruhi berbagai kondisi kesehatan maupun penggunaan obat tertentu yang menekan sistem imun.
Oleh sebab itu, faktor kesehatan secara keseluruhan perlu diperhatikan ketika menilai risiko seseorang terhadap TBC.
Status gizi juga memiliki hubungan dengan kemampuan tubuh melawan infeksi.
Orang yang mengalami kekurangan gizi mempunyai risiko lebih tinggi mengalami TBC karena sistem kekebalan tubuh tidak bekerja seoptimal pada kondisi gizi yang baik.
Pola makan bergizi seimbang karena itu menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kondisi tubuh, meskipun bukan satu-satunya cara untuk mencegah TBC.
Kebiasaan merokok juga termasuk faktor yang meningkatkan risiko penyakit TBC.
Paparan tembakau dapat merusak sistem pertahanan saluran pernapasan dan berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan seseorang mengalami TBC.
Berhenti merokok tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan paru, tetapi juga mengurangi berbagai risiko penyakit lainnya.
Risiko paparan TBC juga dapat meningkat pada lingkungan tempat banyak orang berada dalam ruang bersama, terutama jika sirkulasi udara tidak memadai.
Lingkungan padat, tempat tinggal komunal, asrama, rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan, maupun tempat lain dengan interaksi dekat dalam waktu lama memerlukan perhatian terhadap ventilasi dan deteksi dini.
Hal tersebut terjadi karena TBC menular melalui udara, sehingga ruang tertutup dengan sirkulasi udara buruk dapat meningkatkan peluang paparan apabila terdapat seseorang dengan TBC menular.
Memahami kelompok berisiko bukan berarti orang dengan TBC harus dijauhi atau dikucilkan.
TBC merupakan penyakit yang dapat diobati. Dukungan keluarga dan masyarakat justru penting agar pasien menjalani pemeriksaan serta pengobatan sampai tuntas.
Orang yang pernah melakukan kontak erat atau masuk dalam kelompok berisiko juga tidak otomatis berarti menderita TBC.
Langkah yang tepat adalah menjalani skrining ketika dianjurkan, mengenali gejala, dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan yang mengarah pada TBC.
Deteksi dini tidak hanya membantu pasien mendapatkan pengobatan lebih cepat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan di masyarakat.