TANGERANG, KEBONCINTA.COM – Pelajar Indonesia kembali mencatatkan prestasi di tingkat internasional dengan membawa pulang dua medali emas dan satu medali perunggu dari International Geography Olympiad atau iGeo 2026.
Selain tiga medali tersebut, delegasi Indonesia memperoleh penghargaan kehormatan dalam kategori presentasi poster melalui karya berjudul The Ronda System: The Indonesian Tradition to Keep Communities Safe.
Olimpiade Geografi Internasional ke-22 tersebut diselenggarakan di Istanbul, Turki, pada 11–17 Agustus 2026. Kompetisi diikuti 184 peserta dari 50 negara yang mempertemukan pelajar tingkat sekolah menengah atas dengan kemampuan terbaik di bidang geografi.
Hasil tersebut diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Siaran Pers Nomor 749/sipers/A6/VIII/2026 yang diterbitkan pada 23 Agustus 2026.
Dua medali emas untuk Indonesia masing-masing diraih oleh Kaleb Lash Elnathan Naibaho dari SMA Labschool Kebayoran, DKI Jakarta, dan Rafif Adinata Ramadhan dari MAN 1 Pekanbaru, Riau.
Sementara itu, medali perunggu diperoleh Arkha Enzi Anagi yang juga berasal dari SMA Labschool Kebayoran, DKI Jakarta.
Delegasi Indonesia lainnya adalah Luminaire Tribuana Celmira dari SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan, Banten. Meski belum mendapatkan medali individu, Luminaire tetap memperoleh apresiasi atas perjuangannya mewakili Indonesia di kompetisi tersebut.
Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, memberikan penghargaan kepada para peserta, pembina, sekolah, dan orang tua yang mendukung perjalanan tim Indonesia.
Capaian tersebut dinilai menjadi hadiah membanggakan dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Delegasi Indonesia tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam mengerjakan berbagai ujian geografi. Mereka juga memperkenalkan salah satu tradisi masyarakat Indonesia melalui presentasi poster.
Poster bertajuk The Ronda System: The Indonesian Tradition to Keep Communities Safe mengangkat sistem ronda sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.
Ronda selama ini dikenal sebagai kegiatan warga yang dilakukan secara bergiliran, terutama pada malam hari. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun kerja sama, pembagian tugas, kepedulian lingkungan, dan sistem keamanan berbasis komunitas.
Pengangkatan tradisi lokal dalam kompetisi internasional menunjukkan bahwa kajian geografi tidak hanya membahas bentang alam, peta, cuaca, dan wilayah. Geografi juga mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan serta pola kehidupan sosial yang berkembang di suatu tempat.
Poster tim Indonesia berhasil mendapatkan honorable mention dalam kategori presentasi poster. Penghargaan itu menjadi capaian tersendiri karena tradisi masyarakat Indonesia dapat diperkenalkan kepada peserta dan juri dari berbagai negara.
Empat pelajar yang mewakili Indonesia merupakan peraih medali Olimpiade Sains Nasional bidang Geografi. Mereka kemudian mengikuti rangkaian seleksi dan pembinaan secara bertahap yang dilaksanakan Pusat Prestasi Nasional.
Dalam Pembinaan Tahap II iGeo 2026, sebanyak 14 pelajar terbaik sebelumnya mengikuti pelatihan selama dua pekan. Para peserta mendapatkan pendalaman materi serta latihan menghadapi berbagai bentuk ujian yang digunakan dalam kompetisi geografi internasional.
Materi persiapan meliputi Written Response Test atau tes tertulis, Multimedia Test yang menggunakan bahan visual dan multimedia, serta Fieldwork Test atau tes lapangan.
Tes lapangan menjadi salah satu bagian penting karena peserta harus melakukan pengamatan langsung, mengolah informasi wilayah, serta menyusun analisis berdasarkan kondisi yang ditemukan.
Setelah rangkaian pembinaan dan seleksi selesai, empat murid ditetapkan menjadi delegasi Indonesia untuk bertanding di Istanbul.
Proses tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan di tingkat internasional tidak diperoleh secara instan. Para peserta harus melewati kompetisi dari tingkat sekolah, daerah, nasional, pembinaan intensif, hingga seleksi akhir.
Selama proses persiapan dan kompetisi, delegasi Indonesia didampingi Dewayany dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Asri Oktavioni Indraswari dari Universitas Indonesia.
Pendampingan pembina diperlukan untuk memperkuat penguasaan konsep, kemampuan analisis, teknik observasi lapangan, serta kesiapan peserta dalam menghadapi tekanan kompetisi internasional.
Dewayany menilai capaian di iGeo 2026 menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia. Prestasi itu juga mencerminkan hasil pembinaan talenta yang dilakukan secara panjang, bertahap, dan berjenjang.
Keterlibatan sekolah, keluarga, pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam pembinaan tersebut. Sekolah memberi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan, sedangkan pembina membantu mengarahkan potensi mereka sesuai standar kompetisi internasional.
International Geography Olympiad memperlihatkan bahwa kemampuan geografi tidak cukup hanya dengan menghafal nama negara, ibu kota, gunung, atau sungai.
Peserta dituntut memahami persoalan lingkungan dan sosial, membaca hubungan antarruang, mengolah data, menafsirkan gambar, melakukan observasi, serta menyusun argumentasi berdasarkan bukti.
Kemampuan berpikir analitis menjadi salah satu bekal utama. Pelajar juga perlu memahami isu global seperti perubahan iklim, urbanisasi, penggunaan lahan, kependudukan, pengelolaan bencana, hingga pembangunan berkelanjutan.
Karena itu, keberhasilan Kaleb, Rafif, Arkha, dan Luminaire dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain untuk memandang geografi sebagai ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Prestasi ini juga menjadi pengingat bahwa pembinaan siswa berbakat perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kesempatan mengikuti kompetisi, akses terhadap pembina berkualitas, materi latihan, dan dukungan sekolah dapat membantu lebih banyak pelajar Indonesia berkembang.
Dua medali emas, satu medali perunggu, dan penghargaan presentasi poster dari iGeo 2026 bukan hanya menjadi catatan prestasi individual. Capaian tersebut sekaligus membawa nama sekolah, daerah, dan Indonesia ke panggung pendidikan internasional.