Berita
Hilmi An Naufal

Kemdiktisaintek Jajaki Afiliasi Ganda untuk Hubungkan Ilmuwan Diaspora dengan Kampus Indonesia

Kemdiktisaintek Jajaki Afiliasi Ganda untuk Hubungkan Ilmuwan Diaspora dengan Kampus Indonesia

23 Agustus 2026 | 22:38

JAKARTA, KEBONCINTA.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjajaki skema penugasan lintas institusi dan afiliasi ganda agar ilmuwan Indonesia yang berkarier di luar negeri dapat terlibat lebih langsung dalam kegiatan akademik serta penelitian di perguruan tinggi dalam negeri.

Pembahasan tersebut dilakukan saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menerima audiensi Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau I4, Hendro Wicaksono, di Jakarta pada 21 Agustus 2026.

Pertemuan membahas peluang pemanfaatan kepakaran, jejaring, dan pengalaman internasional para ilmuwan diaspora untuk membantu memperkuat pendidikan tinggi, riset, serta inovasi nasional.

Kolaborasi diharapkan tidak berhenti dalam bentuk seminar, forum, atau kunjungan tahunan. Pemerintah dan I4 ingin membangun hubungan yang lebih terstruktur sehingga kontribusi ilmuwan diaspora dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Skema Penugasan Lintas Institusi dan Afiliasi Ganda

Salah satu gagasan yang dibicarakan adalah pengembangan skema cross-assignment dan double affiliation antara ilmuwan diaspora dengan perguruan tinggi di Indonesia.

Melalui penugasan lintas institusi, ilmuwan berpeluang menjalankan tugas akademik atau penelitian bersama kampus Indonesia tanpa harus sepenuhnya meninggalkan institusi tempat mereka bekerja di luar negeri.

Sementara itu, afiliasi ganda berpotensi memungkinkan ilmuwan memiliki hubungan akademik dengan institusi luar negeri sekaligus perguruan tinggi di Indonesia.

Namun, Kemdiktisaintek belum mengumumkan ketentuan teknis, perguruan tinggi peserta, persyaratan ilmuwan, mekanisme pendaftaran, pendanaan, maupun jadwal pelaksanaan program tersebut.

Karena itu, pembahasan ini perlu dipahami sebagai upaya membangun skema kolaborasi, bukan pengumuman rekrutmen atau pembukaan pendaftaran bagi dosen dan peneliti.

Diaspora Didorong Membentuk Kelompok Riset

Keterlibatan ilmuwan diaspora nantinya dapat diarahkan pada pembentukan kelompok riset atau research group bersama dosen serta peneliti di perguruan tinggi Indonesia.

Mereka juga dapat berperan dalam pendampingan penelitian, pengembangan kapasitas peneliti muda, serta mempertemukan kampus Indonesia dengan lembaga riset dan perguruan tinggi di negara lain.

Pengalaman bekerja di institusi internasional dinilai dapat membantu peneliti Indonesia memahami standar metodologi, pengelolaan laboratorium, penyusunan proposal, publikasi ilmiah, serta pengembangan jejaring penelitian global.

Mahasiswa juga berpotensi memperoleh manfaat melalui keterlibatan dalam penelitian bersama, kuliah tamu, pendampingan akademik, serta akses ke jaringan ilmuwan dan laboratorium di luar negeri.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga memperkuat kemampuan perguruan tinggi dalam mengembangkan riset yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Lima Kelompok Keahlian Strategis

I4 menyampaikan rencana mengelompokkan ilmuwan diaspora berdasarkan bidang keahlian dan kebutuhan strategis nasional.

Sedikitnya terdapat lima kelompok bidang yang dibahas, yaitu:

  1. Kecerdasan artifisial atau AI;

  2. Ilmu kesehatan dan ilmu hayati;

  3. Teknologi dan material;

  4. Bisnis; serta

  5. Ilmu sosial dan kebijakan.

Pengelompokan diperlukan agar kolaborasi tidak dilakukan secara umum tanpa sasaran. Perguruan tinggi dapat menghubungkan kebutuhan risetnya dengan ilmuwan yang memiliki kepakaran sesuai.

Dalam bidang kecerdasan artifisial, misalnya, kolaborasi dapat diarahkan pada penguatan kapasitas peneliti dan pengembangan teknologi. Pada bidang kesehatan dan ilmu hayati, jejaring diaspora dapat membantu mempertemukan peneliti dengan institusi internasional yang memiliki fasilitas serta pengalaman penelitian terkait.

Sementara itu, keahlian dalam ilmu sosial, bisnis, dan kebijakan dibutuhkan untuk memastikan perkembangan teknologi dapat diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat, tata kelola, serta dampaknya terhadap pembangunan.

I4 Menjadi Jembatan Ilmuwan Diaspora

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional ingin menjalankan peran sebagai jembatan antara ilmuwan diaspora dan ekosistem riset nasional.

Organisasi tersebut berharap kontribusi diaspora tidak hanya hadir ketika diselenggarakan konferensi atau kegiatan tertentu. Hubungan dengan perguruan tinggi perlu dibangun melalui program yang memiliki sasaran, jangka waktu, dan keluaran yang jelas.

Bagi kampus Indonesia, jejaring diaspora dapat membuka akses menuju mitra penelitian baru, program pertukaran akademik, penggunaan fasilitas riset bersama, dan peluang pengembangan penelitian lintas negara.

Di sisi lain, ilmuwan diaspora memperoleh ruang untuk tetap berkontribusi kepada Indonesia tanpa harus menghentikan karier yang telah dibangun di luar negeri.

Skema tersebut dapat menjadi pilihan di tengah tantangan menarik ilmuwan Indonesia untuk pulang secara permanen. Kontribusi tidak selalu harus dilakukan melalui perpindahan tempat tinggal, tetapi dapat dikembangkan lewat riset bersama dan penugasan akademik yang terencana.

Aturan Teknis Perlu Diperjelas

Apabila skema afiliasi ganda diterapkan, pemerintah dan perguruan tinggi perlu menyiapkan aturan teknis secara jelas. Hal itu mencakup pembagian beban kerja, pendanaan penelitian, pengakuan afiliasi dalam publikasi, kepemilikan kekayaan intelektual, penggunaan data, dan evaluasi kinerja.

Transparansi juga dibutuhkan agar kolaborasi tidak hanya menguntungkan institusi tertentu. Kampus di luar kota besar perlu memperoleh kesempatan untuk terhubung dengan diaspora sesuai kebutuhan dan potensi riset daerahnya.

Indikator keberhasilan sebaiknya tidak terbatas pada jumlah ilmuwan yang terlibat atau banyaknya pertemuan. Dampak dapat diukur melalui kelompok riset yang terbentuk, peningkatan kapasitas peneliti, penelitian bersama, publikasi berkualitas, pengembangan teknologi, hingga solusi yang dapat digunakan masyarakat.

Kemdiktisaintek berharap kolaborasi dengan I4 dapat menjadikan ilmuwan diaspora semakin terintegrasi dalam ekosistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional.

Penguatan hubungan tersebut juga diharapkan memperluas jejaring internasional perguruan tinggi Indonesia serta mempercepat kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap pembangunan.

Masyarakat akademik perlu menunggu pengumuman berikutnya mengenai bentuk program, perguruan tinggi yang terlibat, mekanisme penugasan, dan ketentuan resmi lainnya.

Tags:
Berita Pendidikan

Komentar Pengguna