Pendidikan
Rahman Abdullah

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran Mulai Dirasakan hingga Daerah 3T

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran Mulai Dirasakan hingga Daerah 3T

10 September 2026 | 11:14

Keboncinta.com-- Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran mulai memberikan perubahan nyata bagi sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut tidak hanya menyasar pembenahan sarana dan prasarana, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih nyaman serta membuka akses pembelajaran berbasis teknologi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, sepanjang 2025 program revitalisasi telah dilaksanakan pada 16.167 satuan pendidikan. Pada periode yang sama, pemerintah juga menyalurkan Interactive Flat Panel (IFP) ke sejumlah sekolah sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi pembelajaran digital.

Menurut Abdul Mu’ti, revitalisasi merupakan bagian dari kebijakan untuk membangun sekolah yang aman dan nyaman sekaligus menciptakan iklim belajar yang humanis, inklusif, serta melibatkan partisipasi warga sekolah.

Program tersebut juga dikaitkan dengan gerakan budaya ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah, yang menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik.

Baca Juga: Pesantren Menatap Masa Depan, 5–10 Tahun ke Depan Santri Disiapkan Tak Hanya Saleh tetapi Juga Berilmu

Sekolah di Daerah 3T Mulai Merasakan Manfaat Digitalisasi

Dampak revitalisasi dan digitalisasi turut dirasakan satuan pendidikan di Kabupaten Keerom, Papua. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom, Deivy Regar, menilai perbaikan fasilitas membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih nyaman bagi guru maupun peserta didik.

Sementara itu, digitalisasi memberikan pengalaman baru bagi siswa yang sebelumnya lebih banyak mengikuti pembelajaran dengan metode konvensional. Kehadiran perangkat teknologi membuka kesempatan bagi peserta didik di wilayah 3T untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih beragam.

Meski demikian, menurut Deivy, keberlanjutan digitalisasi perlu disertai dengan peningkatan kompetensi guru. Pengadaan perangkat dan akses teknologi perlu diimbangi kemampuan pendidik dalam menggunakannya agar manfaat program dapat dirasakan secara maksimal.

Digitalisasi Diharapkan Mempersempit Kesenjangan Pembelajaran

Harapan serupa disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo. Menurutnya, program revitalisasi dan digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan, pedesaan, hingga daerah pedalaman.

Perbedaan akses pendidikan selama ini menjadi salah satu tantangan di wilayah yang secara geografis sulit dijangkau. Dengan dukungan sarana dan teknologi, sekolah di daerah pedalaman diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas.

Salah satu inovasi yang dikembangkan di Kalimantan Tengah adalah Kelas Digital Huma Betang. Model ini memanfaatkan pembelajaran hibrida untuk membantu mengatasi keterbatasan jumlah guru di sejumlah wilayah.

Dukungan koneksi internet dan perangkat Starlink dari pemerintah provinsi memungkinkan guru memberikan pembelajaran kepada siswa dari lokasi yang berbeda. Skema tersebut juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pembelajaran pada mata pelajaran yang sebelumnya terkendala keterbatasan tenaga pendidik.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Ini Arah Besar Pesantren Indonesia dalam Peta Jalan 5 hingga 10 Tahun

Revitalisasi Mengubah Kondisi Fisik Sekolah di Banten

Perubahan juga terlihat di Provinsi Banten, terutama pada sekolah yang sebelumnya mengalami kerusakan atau belum memiliki ruang belajar yang memadai.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Jamaluddin, mengatakan sebanyak 110 sekolah di Banten menjadi penerima manfaat program revitalisasi pada tahun sebelumnya. Sejumlah sekolah yang berada di wilayah seperti Lebak dan Pandeglang, termasuk sekolah di kawasan perkotaan, kini memiliki lingkungan belajar yang lebih nyaman dan kondusif.

Dukungan pemerintah daerah turut memperkuat pelaksanaan program tersebut, termasuk melalui anggaran APBD Provinsi Banten.

Selain perbaikan fisik, pemanfaatan IFP turut memberikan warna baru dalam proses pembelajaran. Teknologi tersebut dapat mendukung kegiatan belajar yang lebih interaktif dan membantu menghubungkan guru dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran dari rumah.

Intan Jaya Masih Menghadapi Tantangan Infrastruktur

Kondisi berbeda dihadapi Kabupaten Intan Jaya, Papua. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya, Ertinus, melihat revitalisasi sebagai sebuah harapan bagi sekolah di wilayahnya, terlebih setelah daerah tersebut menghadapi persoalan konflik dalam waktu yang panjang.

Namun, penerapan digitalisasi di Intan Jaya masih menghadapi sejumlah kendala. Ketersediaan jaringan internet dan listrik menjadi tantangan yang perlu diselesaikan agar perangkat teknologi yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, pelaksanaan digitalisasi pendidikan perlu mempertimbangkan kondisi setiap daerah. Bantuan teknologi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur agar perangkat tersebut benar-benar dapat digunakan dalam kegiatan belajar.

Baca Juga: Kemenag Siapkan Masa Depan Pesantren, Peta Jalan 5–10 Tahun Arahkan Pendidikan hingga Ekonomi Umat

Revitalisasi dan Digitalisasi Perlu Berjalan Beriringan

Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran dapat memberikan dampak yang saling melengkapi. Perbaikan ruang dan fasilitas menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman, sedangkan teknologi memperluas pilihan dan akses terhadap sumber pembelajaran.

Namun, keberhasilan program tetap membutuhkan dukungan berkelanjutan. Peningkatan kapasitas guru, ketersediaan jaringan internet, listrik, serta penyesuaian program dengan kondisi geografis menjadi faktor penting agar transformasi pendidikan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas.

Dengan pendekatan tersebut, revitalisasi dan digitalisasi diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi sekolah, tetapi juga membantu menciptakan kualitas pembelajaran yang lebih merata, termasuk bagi peserta didik di wilayah pedalaman dan daerah 3T.***

Tags:
pendidikan Pembelajaran Aktif Digitalisasi

Komentar Pengguna