Keboncinta.com – Pemerintah tengah menyiapkan pembaruan kualitas buku ajar nasional untuk memperkuat proses pembelajaran di sekolah. Evaluasi tidak hanya menyentuh isi materi, tetapi juga tampilan, ukuran tulisan, hingga ketahanan fisik buku yang digunakan siswa dari jenjang SD sampai SMA.
Langkah tersebut berawal dari perhatian Presiden Prabowo Subianto setelah meninjau langsung sejumlah sekolah dan melihat buku pelajaran yang digunakan para siswa. Dari peninjauan itu, ditemukan sejumlah aspek yang dinilai masih perlu diperbaiki agar buku lebih nyaman digunakan dalam kegiatan belajar.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, Presiden memperhatikan kondisi sejumlah buku yang mudah rusak serta ukuran tulisan yang dinilai terlalu kecil, terutama bagi siswa sekolah dasar. Karena itu, pemerintah ingin melakukan pengecekan lebih menyeluruh terhadap buku pelajaran di berbagai jenjang pendidikan.
Evaluasi buku pelajaran tidak berhenti pada kondisi buku yang saat ini digunakan di sekolah.
Pemerintah juga akan membandingkan buku ajar Indonesia dengan buku yang digunakan sejumlah negara tetangga. Perbandingan tersebut akan menjadi salah satu bahan untuk melihat bagian-bagian yang dapat diperbaiki dalam penyusunan buku nasional.
Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan buku pelajaran yang tidak hanya memenuhi kebutuhan kurikulum, tetapi juga lebih efektif dalam membantu siswa memahami materi.
Pemerintah ingin proses pembaruan dilakukan dengan melihat buku yang sudah ada terlebih dahulu, kemudian mempelajari praktik dari negara lain sebelum menentukan bentuk perbaikan yang akan diterapkan.
Selain bentuk dan kualitas fisik, isi buku pelajaran juga menjadi bagian penting dalam evaluasi.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian Presiden. Salah satunya adalah penguatan karakter dan nilai kebangsaan dalam pendidikan.
Pemerintah juga ingin meningkatkan kemampuan siswa dalam bidang sains dan teknologi. Matematika dipandang sebagai salah satu kemampuan dasar yang penting untuk mendukung penguasaan bidang tersebut.
Kemampuan bahasa asing turut mendapat perhatian dalam menghadapi persaingan global. Bahasa Inggris menjadi salah satu kemampuan yang ingin diperkuat dalam proses pendidikan.
Dengan demikian, pembaruan buku ajar nantinya tidak hanya berkaitan dengan desain, tetapi juga diharapkan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran pada bidang-bidang yang dianggap penting untuk masa depan siswa.
Kenyamanan siswa ketika membaca juga menjadi salah satu fokus pemerintah.
Buku pelajaran diharapkan memiliki ukuran yang nyaman, tampilan lebih menarik dan tulisan yang tidak terlalu kecil. Hal ini terutama penting bagi siswa pada jenjang pendidikan dasar yang masih membangun kebiasaan membaca.
Bahan yang digunakan untuk mencetak buku juga menjadi perhatian. Pemerintah menginginkan buku memiliki daya tahan lebih baik sehingga tidak cepat rusak dan dapat digunakan dalam jangka waktu lebih lama.
Ketahanan tersebut dinilai penting karena buku pelajaran di sekolah dapat digunakan kembali oleh siswa lain atau diteruskan kepada adik kelas.
Artinya, peningkatan kualitas fisik buku juga dapat membuat penggunaannya menjadi lebih efektif dalam jangka panjang.
Pembaruan buku ajar juga berjalan seiring dengan upaya mendorong budaya membaca di lingkungan pendidikan.
Menurut Prasetyo, kebiasaan membaca sejak usia dini menjadi perhatian Presiden. Pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kembali meningkatkan kebiasaan membaca buku di kalangan peserta didik.
Budaya membaca dinilai penting karena buku yang berkualitas tetap membutuhkan kebiasaan literasi yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Pemerintah berharap siswa tidak hanya menggunakan buku ketika mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga terbiasa membaca dan memahami informasi secara mandiri.
Pusat Perbukuan Kemendikdasmen sendiri saat ini juga menyediakan layanan buku pendidikan dalam berbagai format melalui sistem perbukuan digital sebagai salah satu pendukung pembelajaran bagi guru dan siswa.
Pembaruan buku ajar nasional pun menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat fondasi pendidikan. Mulai dari kualitas materi, kenyamanan membaca, ketahanan buku, kemampuan sains dan bahasa hingga budaya literasi menjadi sejumlah aspek yang akan mendapat perhatian.