Bisnis
SUWANDI

Mengapa Bank Ketat Menyeleksi Kredit? PERBANAS Buka Suara Soal Prinsip Kehati-hatian Perbankan

Mengapa Bank Ketat Menyeleksi Kredit? PERBANAS Buka Suara Soal Prinsip Kehati-hatian Perbankan

20 Juli 2026 | 13:13

Keboncinta.com - Anggapan bahwa perbankan bersikap "pelit" atau terkesan mempersekat proses pengajuan kredit masyarakat kerap menjadi perbincangan di tengah publik. Tidak sedikit nasabah yang mengeluhkan ketatnya persyaratan serta tingginya potensi penolakan permohonan pinjaman.

Namun, Perhimpunan Bank-Bank Nasional (PERBANAS) memberikan klarifikasi dan edukasi mendalam mengenai alasan mendasar di balik prosedur seleksi kredit yang selektif tersebut.

Melalui unggahan edukatif resminya, PERBANAS menjelaskan bahwa dana yang dipinjamkan oleh bank kepada para debitur bukanlah uang milik lembaga perbankan itu sendiri. Seluruh dana kredit disalurkan dari hasil penghimpunan dana masyarakat yang menyimpan uangnya dalam bentuk simpanan tabungan, deposito, maupun giro.

Dana tersebut mencakup dana simpanan jutaan warga Indonesia, mulai dari dana pensiun, dana pendidikan anak, hingga tabungan keluarga. Oleh sebab itu, setiap keputusan pemberian kredit wajib dilakukan secara matang dan penuh kehati-hatian.

Apabila bank tidak melakukan seleksi secara ketat dan asal memberi pinjaman, risiko kerugian tidak hanya berdampak pada internal bank saja. Kegagalan pengembalian kredit justru berpotensi mengancam keamanan dana masyarakat yang dipercayakan di perbankan.

Pengetatan kriteria permohonan kredit pada dasarnya bertujuan untuk memastikan bahwa uang milik nasabah penyimpan tetap aman dan terlindungi dari risiko kredit macet.

Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi & Perbankan PERBANAS, Aviliani, menegaskan pentingnya penerapan standar kehati-hatian dalam industri ini.

Menurutnya, aset paling berharga dalam dunia perbankan bukan sekadar besarnya modal, melainkan tingkat kepercayaan dari masyarakat. Beliau menyampaikan bahwa penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) bukan lagi sekadar pilihan (opsi), melainkan sebuah kewajiban mutlak yang harus dipegang teguh oleh setiap lembaga keuangan.

PERBANAS menyimpulkan bahwa tolok ukur bank yang baik tidak dilihat dari seberapa banyak kredit yang berhasil disalurkan.

Bank yang sehat adalah bank yang mampu menjaga keseimbangan secara konsisten antara peran mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan kewajiban melindungi dana simpanan masyarakat.

Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat melihat proses verifikasi kredit bukan sebagai bentuk pembatasan, melainkan sebagai langkah perlindungan finansial bersama. (swd)

Tags:
Pinjaman Online Sehat Finansial KUR

Komentar Pengguna