Keboncinta.com – Telur dikenal sebagai makanan bergizi yang mudah ditemukan dan dapat diolah menjadi berbagai menu. Namun, kandungan kolesterol pada kuning telur membuat makanan ini kerap dituding sebagai penyebab meningkatnya kolesterol darah dan risiko penyakit jantung.
Lantas, apakah makan telur benar-benar harus dihindari agar kolesterol tetap terkendali?
Penelitian mengenai hubungan telur, kolesterol, dan kesehatan jantung terus berkembang. Pemahaman saat ini menunjukkan bahwa pengaruh telur tidak dapat dilihat hanya dari kandungan kolesterolnya. Pola makan secara keseluruhan, kadar kolesterol seseorang, faktor genetik, serta jumlah lemak jenuh yang dikonsumsi juga perlu diperhitungkan.
Anggapan bahwa telur mengandung kolesterol bukanlah mitos. Sebagian besar kolesterol pada telur terdapat dalam bagian kuningnya.
American Heart Association (AHA) menyebut satu butir telur utuh berukuran besar mengandung sekitar 200 miligram kolesterol makanan, sedangkan putih telur tidak mengandung kolesterol dalam jumlah tinggi.
Meski demikian, kolesterol yang terdapat dalam makanan tidak sama dengan kolesterol yang beredar di dalam darah.
Tubuh manusia bahkan memproduksi kolesterol sendiri, terutama melalui hati. Kolesterol dibutuhkan tubuh untuk membangun sel dan menghasilkan hormon, tetapi kadar kolesterol darah yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Inilah bagian yang sering menimbulkan kesalahpahaman.
Seseorang yang mengonsumsi makanan mengandung kolesterol tidak berarti kadar kolesterol darahnya akan meningkat dalam jumlah yang sama.
AHA menjelaskan bahwa penelitian secara umum tidak menunjukkan hubungan sederhana antara kolesterol dari makanan dan risiko penyakit kardiovaskular. Perhatian kini lebih banyak diarahkan pada keseluruhan pola makan, termasuk konsumsi lemak jenuh.
Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL atau kolesterol yang sering disebut sebagai kolesterol “jahat”. Kadar LDL yang terlalu tinggi berhubungan dengan penumpukan plak pada pembuluh darah yang kemudian dapat meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Masalahnya terkadang bukan hanya telur yang dimakan, tetapi makanan yang menyertainya.
Telur dapat dikonsumsi bersama sayuran, biji-bijian utuh, atau sumber makanan bergizi lainnya. Namun dalam menu tertentu, telur juga sering disajikan bersama makanan tinggi lemak jenuh seperti sosis, daging olahan, mentega, maupun makanan yang digoreng menggunakan banyak lemak.
AHA mencatat bahwa hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat penelitian mengenai telur dan kesehatan jantung cukup kompleks. Sulit menilai dampak telur secara terpisah apabila pola makan seseorang juga tinggi lemak jenuh, gula, garam, atau rendah serat.
Karena itu, kesehatan jantung sebaiknya tidak dinilai dari satu jenis makanan saja.
Bagi orang sehat, telur masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat.
Pedoman ilmiah AHA menyebut orang sehat dapat memasukkan hingga sekitar satu telur utuh per hari sebagai bagian dari pola makan yang sehat. Namun, kebutuhan dan kondisi setiap orang dapat berbeda.
Artinya, bukan berarti setiap orang harus makan satu telur setiap hari, melainkan telur tidak perlu otomatis dianggap sebagai makanan yang harus dihindari.
Perhatian lebih besar dibutuhkan pada orang yang sudah memiliki kadar LDL tinggi atau faktor risiko penyakit kardiovaskular. Kelompok tersebut perlu mempertimbangkan asupan kolesterol makanan sekaligus lemak jenuh dan sebaiknya menyesuaikan pola makan berdasarkan kondisi kesehatannya.
Terlepas dari perdebatan mengenai kolesterol, telur merupakan salah satu sumber protein yang dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari.
Alih-alih hanya berfokus pada satu makanan, pendekatan yang lebih baik untuk kesehatan jantung adalah memperhatikan komposisi makanan secara keseluruhan.
Pola makan yang banyak mengandung sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, sumber protein yang sehat, serta lemak tak jenuh lebih dianjurkan untuk membantu menjaga kesehatan jantung.
Jika disebut “makan telur pasti membuat kolesterol tinggi dan menyebabkan penyakit jantung”, pernyataan tersebut terlalu sederhana.
Faktanya, telur memang mengandung kolesterol. Namun dampaknya terhadap kesehatan dipengaruhi jumlah yang dikonsumsi, pola makan secara keseluruhan, kadar kolesterol darah, serta faktor risiko masing-masing individu.
Bagi orang sehat, konsumsi telur dalam jumlah wajar dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi. Sementara orang dengan kolesterol LDL tinggi atau kondisi kesehatan tertentu sebaiknya mendapatkan rekomendasi yang disesuaikan dari dokter atau tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan jantung bukan sekadar soal menghindari telur, melainkan membangun pola makan seimbang dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.