Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Ketika Budaya Konsumsi Berlebihan Membentuk Wajah Dekadensi Zaman Sekarang

Ketika Budaya Konsumsi Berlebihan Membentuk Wajah Dekadensi Zaman Sekarang

24 Juni 2026 | 21:59

Keboncinta.com-- Coba perhatikan, betapa sering kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tapi karena “lagi pengen aja” atau karena takut ketinggalan tren. Barang baru datang, langsung terasa lama. Promo muncul, rasanya sulit dilewatkan. Bahkan sebelum sesuatu dipakai sampai habis, pikiran sudah melompat ke versi berikutnya yang lebih baru dan lebih menarik.

Budaya seperti ini bukan sekadar soal belanja, tapi tentang cara hidup yang perlahan berubah. Konsumerisme modern tumbuh dari kombinasi antara kemudahan akses, dorongan sosial, dan sistem yang memang dirancang untuk membuat kita terus ingin. Iklan tidak lagi hanya muncul di tempat tertentu, tapi menyatu dalam keseharian kita di layar, di media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Keinginan tidak lagi datang dari kebutuhan, tapi sering kali dipicu oleh paparan yang terus-menerus.

Lama-kelamaan, pola ini membentuk sesuatu yang lebih dalam: cara kita memaknai kepuasan. Banyak orang mulai terbiasa dengan sensasi “baru” sebagai sumber kebahagiaan cepat, tapi juga cepat hilang. Akibatnya, rasa cukup jadi semakin sulit dipertahankan. Ada dorongan halus untuk terus mengisi sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kosong. Di sinilah dekadensi modern mulai terlihat bukan dalam bentuk kehancuran besar, tapi dalam penurunan halus terhadap kedalaman makna dan kepuasan hidup.

Konsumsi berlebihan tidak hanya mengisi ruang fisik, tapi juga ruang mental. Semakin banyak pilihan, semakin besar juga kelelahan untuk memilih. Semakin sering membeli, semakin cepat sesuatu kehilangan nilai emosionalnya. Bahkan pengalaman pun bisa terasa dangkal karena selalu dibandingkan dengan yang berikutnya. Hidup jadi seperti katalog yang tidak pernah selesai dibuka.

Namun, menariknya, manusia tetap punya kemampuan untuk berhenti sejenak. Kesadaran untuk tidak selalu mengikuti dorongan sesaat bisa menjadi titik kecil yang mengubah arah. Bukan berarti menolak modernitas, tapi belajar kembali membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang hanya lewat.

Tags:
Fenomena Sosial Gen Milenial Wajib Tau! Batasan Diri

Komentar Pengguna