Khazanah
Hilmi An Naufal

Bukan Sekadar Lama Main HP, Ini Tantangan Parenting Anak di Era Digital

Bukan Sekadar Lama Main HP, Ini Tantangan Parenting Anak di Era Digital

12 Agustus 2026 | 06:19

KebonCinta.com – Pemandangan anak kecil memegang smartphone atau tablet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gadget digunakan untuk menonton video, bermain gim, belajar, menelepon keluarga, hingga mengerjakan tugas sekolah.

Karena begitu dekat dengan kehidupan anak, pertanyaan yang muncul di banyak keluarga hampir selalu sama: sebenarnya berapa lama anak boleh berada di depan layar?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana menghitung jumlah jam.

Panduan terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) pada 2026 mengajak orang tua melihat penggunaan media digital secara lebih luas. Durasi tetap penting, tetapi orang tua juga perlu memperhatikan apa yang ditonton anak, kapan perangkat digunakan, dengan siapa anak menggunakannya, dan aktivitas apa yang akhirnya tersingkir karena waktu layar.

Artinya, satu jam melakukan panggilan video bersama kakek-nenek atau menonton materi pendidikan bersama orang tua tentu berbeda dengan satu jam menggulir video pendek sendirian tanpa henti.

Layar Bukan Musuh, tetapi Bisa Mengambil Waktu Penting Anak

Teknologi digital tidak selalu membawa dampak buruk.

Konten yang dirancang dengan baik dapat membantu pembelajaran. Pada anak usia sekolah, AAP mencatat media digital berkualitas dengan tujuan pendidikan dapat berkaitan dengan pembelajaran matematika dan membaca.

Masalah mulai muncul ketika penggunaan layar berlebihan mengambil waktu yang seharusnya digunakan anak untuk tidur, bergerak, membaca, bermain, belajar, atau berinteraksi dengan keluarga.

Pada anak usia sekolah, penggunaan media digital yang berlebihan dikaitkan dengan prestasi akademik yang lebih rendah, kontrol perhatian yang lebih lemah, aktivitas fisik yang lebih sedikit, serta gangguan terhadap waktu dan kualitas tidur.

Namun hubungan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Artinya, tidak semua masalah konsentrasi atau prestasi sekolah otomatis disebabkan oleh gadget. Banyak faktor lain dapat ikut berperan.

Yang perlu diperhatikan orang tua adalah polanya.

Jika anak mulai tidur terlalu malam karena menonton, meninggalkan aktivitas fisik, menolak berhenti menggunakan gadget, atau waktu bersama keluarga terus terganggu, penggunaan media sudah layak dievaluasi.

Anak Usia Dini Membutuhkan Interaksi Dunia Nyata

Pada masa awal kehidupan, anak belajar sangat banyak melalui interaksi langsung.

Mereka mendengar orang tua berbicara, melihat ekspresi wajah, menyentuh benda, bergerak, mencoba sesuatu, dan mendapatkan respons dari orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, WHO memberikan rekomendasi yang cukup ketat untuk anak di bawah usia lima tahun.

Untuk bayi di bawah satu tahun, sedentary screen time tidak direkomendasikan. Untuk anak usia satu tahun juga tidak direkomendasikan, sementara anak usia dua tahun disarankan tidak lebih dari satu jam sehari dan semakin sedikit semakin baik. Anak usia tiga hingga empat tahun juga disarankan tidak lebih dari satu jam sedentary screen time dalam sehari.

WHO menekankan bahwa waktu duduk pada anak lebih baik diisi dengan kegiatan seperti membaca, bercerita, bernyanyi, bermain puzzle, dan berinteraksi dengan pengasuh.

Tujuannya bukan membuat rumah bebas teknologi sama sekali.

Yang dijaga adalah agar layar tidak menggantikan pengalaman yang sangat penting bagi perkembangan anak.

Masalah Tidak Hanya Ada pada Durasi

Salah satu perubahan besar dalam panduan parenting digital terbaru adalah perhatian terhadap desain aplikasi.

Banyak platform modern menggunakan autoplay, endless scroll, notifikasi, hadiah virtual, dan algoritma rekomendasi yang memang dirancang agar pengguna bertahan lebih lama.

Bagi anak yang kemampuan mengendalikan dirinya masih berkembang, berhenti dari aktivitas seperti ini bisa terasa jauh lebih sulit.

Karena itu, ketika anak marah saat gadget diambil, orang tua tidak selalu cukup hanya mengatakan bahwa anak “kecanduan HP”.

Perhatikan juga sistem yang sedang digunakan.

Video berikutnya mungkin otomatis diputar. Gim memberikan hadiah jika pemain terus masuk. Notifikasi muncul berkali-kali. Konten baru tidak pernah habis karena layar dapat terus digulir.

Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat batas penggunaan perlu dibuat sejak awal.

Tidur Jadi Salah Satu Hal Pertama yang Perlu Dijaga

Jika orang tua bingung harus memulai dari mana, periksa pola tidur anak.

AAP mencatat teknologi digital dapat mengganggu durasi, waktu mulai, dan kualitas tidur anak. Salah satu faktor yang ikut berperan adalah penggunaan perangkat di kamar tidur dan paparan konten menjelang tidur.

Karena itu, keluarga dapat membuat aturan sederhana: kamar tidur dan satu jam menjelang tidur menjadi waktu bebas gadget.

Aturan ini sebaiknya tidak hanya berlaku kepada anak.

Kalau orang tua meminta anak menyimpan smartphone tetapi pada saat yang sama terus menggulir media sosial di meja makan atau sebelum tidur, pesan yang diterima anak menjadi berbeda.

Anak belajar bukan hanya dari aturan yang dikatakan, tetapi juga dari kebiasaan yang dilihat setiap hari.

Buat Zona Bebas Gadget di Rumah

Tidak semua aturan harus berbentuk “maksimal sekian jam”.

AAP menyarankan keluarga membuat Family Media Plan yang disesuaikan dengan rutinitas dan nilai masing-masing keluarga.

Salah satu cara termudah adalah menentukan lokasi dan waktu yang bebas layar.

Contohnya:

- meja makan;
- saat mengerjakan pekerjaan rumah;
- satu jam menjelang tidur;
- kamar tidur pada malam hari;
- waktu bermain bersama keluarga.

Keluarga juga dapat menerapkan aturan satu layar dalam satu waktu, mematikan televisi jika tidak sedang ditonton, serta menonaktifkan autoplay dan notifikasi yang tidak diperlukan.

Langkah ini sering lebih mudah diterapkan daripada terus-menerus menghitung menit penggunaan setiap anggota keluarga.

Temani Anak, Jangan Hanya Menyerahkan Tablet

Cara anak menggunakan teknologi juga penting.

Jika memungkinkan, orang tua dapat menonton atau bermain bersama anak.

Pendampingan memberi kesempatan untuk bertanya mengenai apa yang mereka lihat, menjelaskan sesuatu yang belum dipahami, mengenali iklan, serta mengetahui jenis konten yang sedang disukai anak.

AAP menyebut joint media engagement atau penggunaan media bersama pengasuh berkaitan dengan pembelajaran yang lebih baik pada anak dan remaja.

Karena itu, tablet tidak harus selalu berfungsi sebagai “pengasuh digital” ketika orang tua sedang sibuk.

Sesekali duduk bersama anak dan mengikuti apa yang ditontonnya dapat membuat pengalaman digital berubah menjadi kesempatan untuk berkomunikasi.

Jangan Lupa Kualitas Kontennya

Dua anak bisa sama-sama menggunakan tablet selama satu jam tetapi mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda.

Anak pertama menggunakan aplikasi menggambar bersama orang tua.

Anak kedua menonton video pendek acak dengan autoplay dan iklan tanpa pendampingan.

Durasi mereka sama.

Kualitas pengalaman mereka tidak.

AAP menyarankan keluarga memprioritaskan konten berkualitas yang dapat mengembangkan kemampuan sosial-emosional, membaca, matematika, kreativitas, bermain, dan berpikir kritis.

Sebaliknya, orang tua perlu lebih hati-hati terhadap konten dengan terlalu banyak iklan, hadiah yang mendorong penggunaan terus-menerus, unsur menakutkan, kekerasan, maupun materi yang tidak sesuai usia.

Parental Control Membantu, tetapi Bukan Pengganti Komunikasi

Smartphone, tablet, konsol gim, router internet dan platform digital sekarang menyediakan berbagai fitur parental control.

Orang tua dapat mengatur batas waktu, instalasi aplikasi, pembelian, kontak, hingga akses terhadap jenis konten tertentu.

Fitur tersebut berguna, terutama untuk anak yang masih kecil.

Namun kontrol teknis tidak dapat menggantikan komunikasi.

Semakin besar usia anak, semakin penting menjelaskan alasan di balik aturan. Bicarakan tentang iklan, privasi, influencer, data pribadi, konten yang menakutkan, dan apa yang harus dilakukan ketika mereka menemukan sesuatu yang membuat tidak nyaman.

Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh ketika orang tua berada di sampingnya.

Tujuan yang lebih penting adalah membantu anak perlahan mampu mengambil keputusan digital yang sehat ketika suatu hari mereka menggunakan internet tanpa pengawasan langsung.

Jangan Mengejar Rumah yang Sepenuhnya Bebas Layar

Menjadi orang tua di era digital memang tidak mudah.

Sekolah membutuhkan internet. Komunikasi keluarga terjadi melalui WhatsApp. Hiburan hadir melalui televisi dan streaming. Bahkan pembelajaran kini menggunakan aplikasi dan kecerdasan artifisial.

Karena itu, menganggap semua layar sebagai sesuatu yang harus dihilangkan bukan solusi yang realistis.

AAP sendiri kini bergerak melampaui pendekatan yang hanya berfokus pada hitungan screen time.

Pertanyaan yang lebih berguna bagi orang tua adalah:

Apa yang sedang ditonton anak?

Apakah sesuai usia?

Apakah layar mengganggu tidur?

Apakah anak masih bermain dan bergerak?

Apakah ia masih punya waktu berbicara dengan keluarga?

Apakah ia mampu berhenti ketika waktunya selesai?

Jika jawabannya mulai mengkhawatirkan, aturan penggunaan perangkat perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, tantangan parenting di era digital bukan memenangkan pertarungan antara anak dan gadget.

Yang perlu dibangun adalah kebiasaan agar teknologi tetap berada pada tempatnya: menjadi alat untuk belajar, berkomunikasi, berkreasi dan bersenang-senang, tanpa mengambil alih bagian penting dari masa tumbuh anak.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna