Sains
Hilmi An Naufal

Kenapa Ketombe Muncul? Mengenal Peran Jamur Malassezia di Kulit Kepala

Kenapa Ketombe Muncul? Mengenal Peran Jamur Malassezia di Kulit Kepala

19 Agustus 2026 | 06:13

Keboncinta.com – Ketombe menjadi masalah kulit kepala yang sangat umum. Serpihan putih yang menempel pada rambut atau jatuh ke bahu sering disertai rasa gatal dan dapat membuat seseorang merasa kurang nyaman. Salah satu mikroorganisme yang diketahui memiliki hubungan erat dengan munculnya ketombe adalah jamur dari genus Malassezia.

Menariknya, keberadaan Malassezia sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi tubuh manusia. Jamur ini merupakan bagian dari mikroorganisme yang secara alami hidup pada permukaan kulit, terutama di area yang kaya minyak atau sebum. Masalah dapat muncul ketika interaksi antara jamur, minyak kulit, dan kondisi kulit kepala menjadi tidak seimbang.

Malassezia Sebenarnya Hidup Normal di Kulit

Kulit manusia bukanlah permukaan yang benar-benar bebas mikroorganisme. Berbagai jenis bakteri dan jamur hidup sebagai bagian dari ekosistem kulit.

Malassezia termasuk jamur yang menyukai lingkungan kaya lemak. Karena itu, kulit kepala menjadi salah satu lokasi yang sesuai untuk pertumbuhannya karena memiliki banyak kelenjar sebaceous yang menghasilkan minyak.

Keberadaan jamur tersebut tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami ketombe. Penelitian menunjukkan hubungan antara ketombe dengan Malassezia cukup kompleks dan juga dipengaruhi kondisi lapisan pelindung kulit serta respons masing-masing individu.

Apa Hubungan Malassezia dengan Ketombe?

Malassezia memanfaatkan lipid atau lemak yang terdapat pada sebum di kulit sebagai sumber nutrisi.

Dalam proses tersebut, aktivitas jamur dapat menghasilkan senyawa tertentu yang pada orang yang rentan dapat mengganggu lapisan terluar kulit kepala. Kondisi itu kemudian dapat mempercepat pergantian sel kulit.

Ketika sel-sel kulit terlepas lebih cepat dan berkumpul dalam jumlah besar, serpihan menjadi terlihat pada rambut maupun pakaian. Inilah salah satu mekanisme yang dikaitkan dengan terbentuknya ketombe.

Namun, Malassezia sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya penyebab. Kondisi kulit, produksi minyak, keseimbangan mikrobioma, dan respons tubuh terhadap jamur tersebut juga turut berperan.

Ketombe Tidak Berarti Rambut Kotor

Munculnya ketombe sering kali dianggap sebagai tanda seseorang jarang membersihkan rambut. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Ketombe merupakan kondisi kulit kepala yang dapat terjadi pada siapa saja. Mayo Clinic menjelaskan ketombe menyebabkan serpihan kulit pada kulit kepala dan dapat disertai rasa gatal. Kondisi ini tidak menular dan pada umumnya tidak berbahaya.

Meski demikian, jarang mencuci rambut pada sebagian orang dapat membuat minyak dan sel kulit mati lebih mudah menumpuk sehingga serpihan terlihat semakin jelas.

Gejala ketombe juga dapat menjadi lebih terasa pada kondisi tertentu. Stres dan cuaca dingin serta kering, misalnya, diketahui dapat memperburuk gejala pada sebagian orang.

Ketombe dan Dermatitis Seboroik Tidak Selalu Sama

Ketombe sering dikaitkan dengan dermatitis seboroik karena keduanya berada dalam spektrum masalah kulit yang serupa.

Ketombe umumnya terbatas pada kulit kepala dan ditandai oleh pengelupasan kulit. Sementara dermatitis seboroik dapat menimbulkan peradangan yang lebih jelas dan muncul di area lain yang banyak menghasilkan minyak, seperti sekitar alis, sisi hidung, telinga, atau dada.

Karena itu, kulit kepala yang sangat merah, terasa nyeri, atau memiliki sisik tebal belum tentu merupakan ketombe biasa.

Bagaimana Ketombe Bisa Dikendalikan?

Pada kasus ringan, membersihkan rambut dan kulit kepala secara teratur dapat membantu mengendalikan serpihan.

Apabila sampo biasa tidak cukup, sampo khusus ketombe dapat digunakan. American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa beberapa sampo bekerja dengan membantu mengendalikan pertumbuhan jamur, sedangkan jenis lainnya membantu mengurangi sisik pada kulit kepala.

Artikel sumber TentangGuru juga menyebut sejumlah bahan yang umum ditemukan dalam sampo antiketombe, seperti ketoconazole dan selenium sulfida.

Penggunaannya sebaiknya mengikuti petunjuk pada kemasan karena setiap bahan memiliki cara penggunaan berbeda.

Jika ketombe tidak membaik setelah penggunaan sampo antiketombe secara teratur, Mayo Clinic menyarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Menjaga Keseimbangan Kulit Kepala

Malassezia menunjukkan bahwa mikroorganisme yang secara alami hidup bersama manusia tidak selalu menjadi masalah.

Ketombe muncul melalui interaksi berbagai faktor, termasuk aktivitas jamur, minyak kulit dan respons kulit kepala. Karena itu, tujuan perawatan bukan sekadar menghilangkan serpihan yang terlihat, tetapi membantu menjaga kondisi kulit kepala tetap sehat dan terkendali.

Memahami penyebab ketombe juga dapat membantu menghindari anggapan bahwa kondisi tersebut selalu berkaitan dengan kebersihan yang buruk.

Dengan perawatan yang sesuai, sebagian besar kasus ketombe dapat dikendalikan sehingga rasa gatal dan serpihan yang mengganggu dapat berkurang.

 

Tags:
Sains

Komentar Pengguna