keboncinta.com – Membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts awalnya mungkin hanya untuk mengisi waktu beberapa menit. Namun, satu video berganti ke video berikutnya dan tanpa terasa waktu yang dihabiskan di depan layar sudah jauh lebih lama.
Kebiasaan seperti inilah yang mulai mendapat perhatian serius dari peneliti. Sebuah tinjauan ilmiah terbaru menemukan adanya hubungan antara penggunaan video pendek secara intensif dan tidak terstruktur dengan sejumlah persoalan pada anak muda, mulai dari perhatian yang lebih mudah terpecah hingga kemampuan memori kerja dan pengendalian diri yang lebih rendah.
Temuan tersebut berasal dari kajian yang diterbitkan pada Juni 2026 di jurnal European Child & Adolescent Psychiatry. Peneliti menelaah puluhan studi mengenai penggunaan platform video pendek pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda hingga usia 25 tahun.
Penelitian berjudul Taming the endless scroll? Short-form videos, digital routines and neurocognitive outcomes in youth menyaring hampir 1.500 catatan penelitian dan akhirnya memasukkan 42 studi yang memenuhi kriteria.
Secara keseluruhan, data dalam tinjauan tersebut mencakup 46.912 peserta dengan usia rata-rata 16,8 tahun. Studi yang ditelaah berasal dari periode 2015 hingga 2025.
Hasilnya menunjukkan pola yang layak diperhatikan. Penggunaan video pendek yang berat dan tidak terstruktur dikaitkan dengan meningkatnya masalah perhatian dan impulsivitas. Peneliti juga menemukan hubungan dengan kapasitas memori kerja yang lebih rendah serta kemampuan mengatur diri yang lebih lemah.
Memori kerja sendiri digunakan ketika seseorang harus menyimpan informasi untuk sementara sembari menggunakannya, misalnya saat mengikuti penjelasan guru, mengerjakan soal bertahap, membaca instruksi, atau mengingat apa yang baru saja dipelajari.
Karena itu, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang menatap layar. Cara aplikasi menyajikan informasi juga ikut menjadi perhatian.
Video pendek memiliki pola yang berbeda dengan menonton televisi atau sebuah video panjang.
TikTok, Reels, dan Shorts menawarkan pergantian konten yang sangat cepat, rekomendasi yang terus disesuaikan dengan pengguna, serta sistem infinite scroll yang membuat konten berikutnya terus tersedia tanpa pengguna harus mencari secara manual.
Peneliti Universitas Bayreuth menyoroti tiga karakteristik utama tersebut, yakni kecepatan pergantian konten, rekomendasi algoritmik yang dipersonalisasi, serta fitur gulir tanpa akhir.
Dalam tinjauan ini, penggunaan empat jam atau lebih dalam sehari digunakan sebagai gambaran praktis untuk kategori penggunaan intensif dalam sebagian analisis, meski para peneliti juga mengingatkan bahwa studi-studi yang mereka kaji tidak memakai satu batas waktu yang seragam. Definisi penggunaan berlebihan pada penelitian sebelumnya bervariasi.
Yang turut menjadi sorotan adalah penggunaan yang tidak terstruktur. Contohnya, membuka video pendek secara spontan lalu terus menggulir hingga waktu belajar tertunda atau jam tidur bergeser.
Situasi seperti itu berbeda dengan penggunaan yang lebih terencana, misalnya menonton pada waktu tertentu saat perjalanan atau sebagai kegiatan bersama teman.
Beberapa penelitian yang masuk dalam tinjauan menemukan hubungan antara penggunaan video pendek yang lebih berat dengan gangguan perhatian.
Dua penelitian berbasis sekolah juga menghubungkan konsumsi video pendek yang lebih tinggi dengan kapasitas memori kerja dan performa akademik yang lebih rendah. Salah satunya melibatkan lebih dari 3.000 siswa sekolah menengah.
Ada pula penelitian menggunakan EEG terhadap mahasiswa yang menemukan perbedaan pada respons P300 antara pengguna berat dan pengguna reguler. P300 merupakan respons otak yang kerap digunakan untuk mempelajari proses perhatian terhadap suatu rangsangan.
Meski hasilnya menarik, penelitian EEG tersebut hanya melibatkan 29 mahasiswa. Para peneliti sendiri menekankan bahwa hasil semacam ini masih perlu dibaca dengan hati-hati dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa video pendek secara langsung merusak otak.
Istilah brain rot belakangan semakin sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan perasaan sulit berkonsentrasi, jenuh, atau terlalu banyak mengonsumsi konten internet yang dianggap ringan dan tidak menantang.
Popularitas istilah tersebut meningkat tajam hingga Oxford University Press memilih brain rot sebagai Oxford Word of the Year 2024. Oxford mendefinisikannya sebagai dugaan penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang, terutama yang dianggap terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi materi yang remeh atau tidak menantang, khususnya konten daring.
Namun, istilah tersebut jangan diperlakukan sebagai diagnosis medis.
Studi mengenai video pendek lebih tepat dibaca sebagai bukti adanya hubungan antara pola penggunaan tertentu dengan fungsi kognitif dan kesejahteraan psikologis, bukan sebagai bukti bahwa seseorang yang sering menonton Reels atau TikTok pasti mengalami kerusakan otak.
Bagian ini justru menjadi salah satu hal terpenting dalam membaca hasil penelitian.
Sebanyak 88 persen studi yang masuk dalam kajian menggunakan desain cross-sectional. Artinya, sebagian besar mengamati kondisi peserta pada suatu waktu dan belum dapat memastikan mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat.
Seluruh bukti dalam tinjauan tersebut juga dinilai memiliki tingkat kepastian rendah atau sangat rendah berdasarkan metode GRADE. Sebagian besar penelitian masih bergantung pada laporan penggunaan dari peserta, bukan data penggunaan langsung dari perangkat.
Ada kemungkinan seseorang yang sejak awal lebih mudah terdistraksi lebih tertarik pada video pendek. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan juga mungkin ikut memperburuk kemampuan mengendalikan perhatian. Untuk menjawab hubungan sebab-akibat dengan lebih jelas, penelitian jangka panjang dan eksperimen masih diperlukan.
Para peneliti tidak berhenti pada sisi negatif.
Kajian tersebut juga menemukan sejumlah faktor yang berpotensi membantu, seperti lingkungan sosial yang mendukung, rutinitas digital yang jelas, kemampuan mengendalikan penggunaan, dan literasi mengenai cara kerja platform serta algoritma.
Artinya, solusinya tidak sesederhana menyuruh anak muda berhenti menggunakan ponsel.
Orang tua dan sekolah dapat membantu membangun kebiasaan menggunakan teknologi dengan tujuan yang lebih jelas. Waktu belajar dan tidur juga sebaiknya tidak terus-menerus disela oleh aktivitas scrolling.
Di tengah video berdurasi belasan detik yang tidak pernah habis, kemampuan untuk berhenti, memilih apa yang ingin ditonton, lalu kembali berkonsentrasi pada satu pekerjaan mungkin justru menjadi keterampilan digital yang semakin berharga.
Teknologinya kemungkinan tidak akan menghilang.