Keboncinta.com-- “Bukan aku yang mulai,” “Aku tidak sengaja,” atau “Dia juga melakukannya.” Kalimat seperti ini mungkin cukup sering terdengar ketika anak melakukan kesalahan. Bagi orang tua, kebiasaan anak mengelak tentu bisa membuat khawatir, terutama jika dilakukan berulang kali.
Padahal, anak yang menghindari kesalahan tidak selalu berarti sengaja ingin berbohong. Bisa jadi mereka merasa takut dimarahi, khawatir mendapat hukuman, atau belum memahami bagaimana cara menghadapi konsekuensi dari tindakannya.
Karena itu, menghadapi anak yang sering “ngeles” tidak cukup hanya dengan memarahinya. Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, tetapi berani mengakui dan memperbaikinya merupakan bentuk tanggung jawab.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untuk membantu anak lebih jujur dan berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Baca Juga: Persiapan Bahasa Inggris Wajib di SD Dimulai, 90 Ribu Sekolah Jadi Sasaran Penguatan Kompetensi Guru
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu alasan di balik perilaku anak. Jangan langsung memberikan label sebagai anak pembohong atau tidak bertanggung jawab.
Anak mungkin mengelak karena takut dimarahi, cemas akan hukuman, atau khawatir mengecewakan orang tua. Dalam kondisi tertentu, menghindari pengakuan bisa menjadi cara anak melindungi dirinya dari sesuatu yang dianggap menakutkan.
Orang tua dapat mencoba mengajak anak berbicara dengan tenang. Tanyakan apa yang terjadi dan bagaimana perasaannya tanpa langsung memberikan penilaian.
Ketika penyebabnya sudah diketahui, orang tua dapat membantu anak menghadapi rasa takut tersebut. Anak perlu memahami bahwa mengakui kesalahan tidak selalu berujung pada kemarahan atau hukuman.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, sikap orang tua ketika melakukan kesalahan memiliki pengaruh besar terhadap cara anak menghadapi kesalahannya sendiri.
Jika orang tua berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berusaha memperbaikinya, anak akan mendapatkan contoh nyata tentang arti tanggung jawab.
Misalnya, ketika orang tua melakukan kesalahan dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya menunjukkan kepada anak bagaimana cara menghadapinya dengan jujur.
Orang tua dapat mengatakan bahwa kesalahan memang bisa terjadi, tetapi setiap orang tetap perlu bertanggung jawab terhadap tindakannya.
Dengan melihat contoh tersebut secara langsung, anak akan belajar bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan.
Lingkungan keluarga yang aman untuk berbicara dapat membantu anak lebih berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika anak melakukan kesalahan, berikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan situasi dari sudut pandangnya. Dengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan respons.
Orang tua juga dapat menggunakan pertanyaan terbuka seperti, “Menurut kamu, apa yang terjadi?” atau “Apa yang bisa kita lakukan supaya masalah ini selesai?”
Pertanyaan seperti itu dapat membantu anak berpikir mengenai tindakannya sekaligus mencari solusi.
Sebaliknya, jika setiap pengakuan selalu disambut dengan kemarahan, anak bisa semakin takut untuk berkata jujur. Akibatnya, mereka justru lebih memilih mencari alasan untuk menghindari konsekuensi.
Anak perlu memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Yang penting bukan sekadar tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan mampu mengakui, memperbaiki, dan belajar dari apa yang telah dilakukan.
Ketika anak berani berkata jujur, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap keberaniannya mengakui kesalahan. Setelah itu, arahkan anak untuk memikirkan tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
Misalnya, jika anak menumpahkan sesuatu, ajarkan mereka untuk membantu membersihkannya. Jika anak menyakiti temannya, bantu mereka memahami dampak perbuatannya dan belajar meminta maaf.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar mengakui kesalahan, tetapi juga memahami konsekuensi dan tanggung jawab.
Baca Juga: Sekolah Kedinasan 2026 Resmi Dibuka, Catat Jadwal Pendaftaran hingga Pengumuman Kelulusan Akhir
Orang tua sebaiknya berhati-hati ketika memberikan teguran. Sebutan seperti “pembohong”, “anak nakal”, atau “memang suka ngeles” dapat membuat anak merasa dirinya memiliki sifat tersebut secara permanen.
Lebih baik fokus pada perilakunya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu melakukan kesalahan, tetapi kamu bisa memperbaikinya,” daripada memberikan label terhadap kepribadian anak.
Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa perilaku tertentu dapat diperbaiki.
Membentuk sikap jujur dan bertanggung jawab pada anak tidak dapat dilakukan dalam satu atau dua kali percakapan. Kebiasaan tersebut membutuhkan proses, contoh yang konsisten, dan lingkungan keluarga yang mendukung.
Ketika anak mengelak setelah melakukan kesalahan, orang tua tidak perlu langsung bereaksi dengan emosi.