TEKNOLOGI – Smartphone sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari berkomunikasi, belajar, bekerja, menonton video hingga bermain media sosial, hampir semuanya dapat dilakukan melalui satu perangkat.
Namun, kebiasaan menggunakan gadget selama berjam-jam tanpa jeda juga perlu diperhatikan.
Masalahnya bukan terletak pada gadget itu sendiri, melainkan ketika penggunaan perangkat digital mulai mengurangi waktu tidur, aktivitas fisik, belajar maupun interaksi dengan orang-orang di sekitar.
Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan apabila penggunaan gadget mulai berlebihan.
Menatap layar komputer, tablet maupun smartphone dalam waktu lama dapat menyebabkan digital eye strain atau ketegangan mata akibat penggunaan perangkat digital.
Keluhannya dapat berupa mata terasa lelah, kering, perih, penglihatan kabur hingga sakit kepala. Penggunaan layar yang terlalu lama juga dapat berkaitan dengan keluhan pada leher dan bahu.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak menatap layar secara terus-menerus.
Salah satu kebiasaan yang dapat dilakukan adalah metode 20-20-20, yaitu setiap sekitar 20 menit mengalihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih enam meter.
Masih bermain smartphone ketika sudah berada di tempat tidur menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan.
Awalnya mungkin hanya ingin mengecek pesan selama beberapa menit, tetapi kemudian berlanjut membuka media sosial atau menonton video sampai larut malam.
Penggunaan perangkat digital menjelang tidur dapat membuat seseorang semakin sulit berhenti dan akhirnya menunda waktu istirahat.
CDC menyarankan perangkat elektronik dimatikan setidaknya sekitar 30 menit sebelum tidur sebagai salah satu kebiasaan untuk mendapatkan tidur yang lebih baik.
Bagi anak-anak dan remaja, American Academy of Pediatrics juga menyarankan perangkat dijauhkan ketika waktu tidur dan penggunaan layar dibatasi menjelang tidur.
Masalah lain muncul ketika berjam-jam waktu luang dihabiskan sambil duduk memainkan gadget.
Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk berjalan, berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya akhirnya tergantikan oleh aktivitas di depan layar.
WHO merekomendasikan anak dan remaja membatasi perilaku sedentari, terutama waktu layar untuk hiburan.
Sementara bagi orang dewasa, aktivitas fisik secara rutin memberikan banyak manfaat, termasuk meningkatkan kualitas tidur, kesehatan jantung dan membantu menjaga berat badan.
Smartphone terus-menerus memberikan berbagai rangsangan.
Notifikasi pesan masuk, video pendek, media sosial hingga game dapat membuat pengguna terbiasa berpindah perhatian dari satu hal ke hal lainnya.
Pada anak usia sekolah, penggunaan media digital yang tidak sehat dikaitkan dengan masalah seperti kualitas tidur yang buruk, performa sekolah yang lebih rendah dan kontrol perhatian yang lebih lemah.
Karena itu, ketika sedang belajar atau mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, sebaiknya notifikasi yang tidak penting dimatikan.
Smartphone juga dapat diletakkan sedikit jauh dari meja agar keinginan untuk mengeceknya semakin berkurang.
Pernah melihat satu keluarga duduk bersama tetapi masing-masing sibuk dengan smartphone?
Teknologi memang membantu manusia berkomunikasi dengan orang yang berada jauh. Namun jangan sampai komunikasi melalui layar justru mengurangi interaksi dengan orang yang berada di depan mata.
AAP menyarankan keluarga membuat area dan waktu tertentu tanpa layar, misalnya ketika makan bersama, mengerjakan pekerjaan rumah maupun sebelum tidur.
Cara sederhana tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dengan hubungan sosial secara langsung.
Mengurangi penggunaan gadget bukan berarti harus berhenti menggunakan smartphone sepenuhnya.
Teknologi tetap memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat.
Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai diterapkan antara lain menetapkan waktu tanpa gadget, mengurangi notifikasi yang tidak diperlukan, tidak membawa smartphone ke tempat tidur, beristirahat secara berkala ketika bekerja di depan layar serta memperbanyak aktivitas di luar layar.
Pengguna juga dapat memeriksa fitur Screen Time atau Digital Wellbeing di smartphone untuk mengetahui berapa lama waktu yang sebenarnya dihabiskan pada setiap aplikasi.
Jika ternyata media sosial digunakan selama berjam-jam setiap hari, data tersebut dapat menjadi pengingat untuk mulai mengatur penggunaannya.
Pada akhirnya, gadget seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia.
Jangan sampai justru waktu tidur, kesehatan, pekerjaan, proses belajar hingga hubungan dengan keluarga terganggu karena sulit melepaskan diri dari layar.