Pendidikan
Hilmi An Naufal

ITB Luncurkan ICE Microcredential, Lebih dari 50 Program Terbuka untuk Mahasiswa hingga Umum

ITB Luncurkan ICE Microcredential, Lebih dari 50 Program Terbuka untuk Mahasiswa hingga Umum

07 Agustus 2026 | 07:08

BANDUNG — Institut Teknologi Bandung meluncurkan platform ICE Microcredential ITB yang membuka kesempatan belajar bagi mahasiswa, alumni, pekerja profesional, guru, dosen, praktisi industri, dan masyarakat umum.

Program tersebut menawarkan pembelajaran berjangka relatif ringkas yang berfokus pada penguasaan keterampilan tertentu. Peserta yang menyelesaikan materi dan asesmen akan mendapatkan sertifikat serta digital badge resmi yang dapat digunakan sebagai bukti kompetensi.

Peluncuran ICE Microcredential ITB berlangsung di Auditorium IPTEK Campus Center Timur, ITB Kampus Ganesha, Bandung, pada Jumat, 24 Juli 2026. Program dikelola melalui Direktorat Pendidikan Profesional Berkelanjutan ITB.

Terbuka untuk mahasiswa hingga masyarakat umum

ICE Microcredential ITB tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Program ini juga dapat diikuti mahasiswa perguruan tinggi lain, alumni, profesional, praktisi industri, guru, dosen, dan masyarakat yang ingin memperbarui atau menambah kompetensinya.

Konsep tersebut memungkinkan seseorang mempelajari keahlian tertentu tanpa harus langsung mengikuti pendidikan bergelar selama beberapa tahun.

Peserta dapat memilih program berdasarkan kebutuhan karier, pekerjaan, bidang pendidikan, maupun keterampilan yang ingin dikembangkan.

Lebih dari 50 program dari 10 fakultas dan sekolah

Pada tahap awal, ICE Microcredential ITB melibatkan 10 fakultas dan sekolah dengan lebih dari 50 program atau kursus.

Program tersebut dikelompokkan dalam beberapa bidang besar, antara lain:

  • Rekayasa dan industri.
  • Teknologi informasi dan bisnis.
  • Sains dan teknologi dasar.
  • Arsitektur, tata ruang, dan perencanaan.

Kompetensi yang ditawarkan mencakup teknologi, kecerdasan artifisial, machine learning, bisnis rintisan, kewirausahaan, kemampuan manajerial, kepemimpinan, lingkungan, keberlanjutan, dan pemenuhan standar hijau industri.

Banyaknya pilihan memungkinkan peserta mengambil pembelajaran yang lebih spesifik daripada program pendidikan formal dengan cakupan materi yang luas.

Contoh program ICE Microcredential ITB

Program yang diperkenalkan ITB mencakup berbagai bidang keilmuan dan kebutuhan industri.

Pada kelompok sains dan industri, beberapa contoh pembelajarannya adalah:

  • Pengembangan Kosmetik Halal.
  • Mikrobiologi Makanan.
  • Keselamatan Proyek.

Bidang kecerdasan artifisial dan komputasi menawarkan materi seperti:

  • AI and Deep Learning.
  • Generative AI untuk SMK.
  • Desain Komputasional Arsitektur.

Sementara pada kelompok bisnis dan manajemen, terdapat Entrepreneurship and Startup Funding, Tech Venture, serta Live Streaming Commerce.

Pilihan lainnya meliputi Survei Oseanografi, Rekayasa Lingkungan, Matematika Solusi Industri, dan Metode Statistika Logistik. Daftar program dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Pembelajaran dimulai dari satu SKS

ICE Microcredential ITB menggunakan sistem modular. Unit pembelajaran dapat dimulai dari bobot satu satuan kredit semester.

Peserta mengikuti rangkaian materi dan asesmen sesuai ketentuan setiap program. Setelah dinyatakan selesai, peserta memperoleh sertifikat dan digital badge resmi yang terverifikasi oleh ITB. Digital badge tersebut disebut berlaku hingga lima tahun.

Sistem modular membuat peserta dapat mengambil materi secara bertahap. Mereka tidak harus langsung mengikuti rangkaian panjang apabila baru membutuhkan satu kompetensi tertentu.

Namun, durasi, jadwal, metode pembelajaran, biaya, dan bentuk penilaian dapat berbeda pada setiap program. Calon peserta perlu membaca informasi pada halaman masing-masing kursus sebelum mendaftar.

Kredit pembelajaran bisa dikumpulkan

Salah satu keunggulan program ini adalah kredit pembelajaran yang diperoleh dapat dikumpulkan atau ditabung.

Kredit tersebut nantinya dapat diajukan untuk diakui sebagai bagian dari pendidikan akademik apabila peserta melanjutkan studi pada program yang relevan di ITB. Proses pengakuannya mengikuti persyaratan akademik dan kebijakan masing-masing program studi.

Dengan demikian, sertifikat microcredential tidak berarti otomatis berubah menjadi SKS kuliah.

Program studi tetap akan memeriksa kesesuaian materi, capaian pembelajaran, nilai, jumlah kredit, serta persyaratan lain sebelum memberikan pengakuan.

Calon peserta sebaiknya tidak menganggap seluruh kursus pasti dapat langsung mengurangi jumlah mata kuliah ketika nantinya diterima sebagai mahasiswa ITB.

Mendukung Rekognisi Pembelajaran Lampau

Pengakuan kredit microcredential dapat berkaitan dengan mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL.

Melalui mekanisme tersebut, pengalaman belajar yang diperoleh di luar jalur pendidikan reguler dapat dinilai untuk menentukan kesesuaiannya dengan capaian pembelajaran suatu program studi.

Namun, hasil RPL tetap bergantung pada proses evaluasi akademik. Peserta harus memenuhi ketentuan program studi serta menyerahkan bukti pembelajaran yang diperlukan.

Sertifikat, digital badge, hasil asesmen, silabus, dan informasi capaian pembelajaran dapat menjadi dokumen penting dalam proses tersebut.

Empat pilar ICE Microcredential ITB

ITB mengembangkan program microcredential berdasarkan empat pilar utama.

Pilar pertama adalah relevansi dengan perkembangan dan kebutuhan industri. Materi diharapkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat diterapkan dalam lingkungan kerja.

Pilar kedua adalah fleksibilitas. Peserta dapat menyesuaikan pembelajaran dengan waktu, kebutuhan, dan kondisi masing-masing.

Pilar ketiga adalah pengakuan yang kredibel dengan standar serta jaminan mutu akademik ITB.

Pilar terakhir adalah kemampuan mengakumulasikan kredit sebagai bagian dari pendidikan bergelar maupun pembelajaran sepanjang hayat, sesuai ketentuan akademik yang berlaku.

Menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Prof. Irwan Meilano menjelaskan bahwa pola rekrutmen tenaga kerja mulai bergerak ke arah skill-based hiring.

Dalam pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya melihat gelar pendidikan. Pelamar juga perlu menunjukkan bukti keterampilan yang jelas dan dapat diverifikasi.

Digital badge dapat menjadi salah satu bentuk bukti tersebut. Perusahaan atau lembaga dapat memeriksa informasi mengenai penyelenggara, materi, dan kompetensi yang telah diselesaikan oleh pemilik badge.

Meski demikian, sertifikat bukan jaminan langsung memperoleh pekerjaan. Penggunaannya tetap perlu didukung kemampuan nyata, pengalaman, portofolio, komunikasi, dan kesesuaian dengan kebutuhan posisi.

Dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar

Asisten Direktur Pelaksana Program Ditpro ITB Dr. Dina Dellyana menjelaskan bahwa program dikembangkan menggunakan pendekatan market-pull.

Pendekatan itu dimulai dengan mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja. Setelah kebutuhan ditemukan, materi pembelajaran disusun untuk membantu peserta memperoleh kompetensi yang relevan.

Cara tersebut berbeda dengan membuat program hanya berdasarkan ketersediaan pengajar atau mata kuliah yang telah ada.

Namun, kebutuhan industri dapat berubah dengan cepat. Karena itu, program perlu dievaluasi secara berkala agar materi tidak tertinggal dari perkembangan teknologi, regulasi, dan cara kerja terbaru.

Lebih dari 100 orang mendaftar sebelum peluncuran

ITB mencatat lebih dari 100 orang telah mendaftar bahkan sebelum peluncuran resmi dilakukan.

Pendaftar berasal dari mahasiswa internal, pekerja profesional, praktisi, guru, dan dosen.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna