Keboncinta.com-- Pada materi mengubah cerpen menjadi puisi, siswa kelas XI MA Kebon Cinta berhasil melaksanakan tugas dengan baik sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Kegiatan ini tidak hanya sekadar memenuhi target kurikulum, tetapi juga mampu meningkatkan literasi serta kreativitas siswa.
Mengapa demikian? Sebelum mengubah cerpen menjadi puisi, siswa terlebih dahulu diminta membaca cerpen secara tuntas dan memahami isinya. Proses membaca ini melatih kemampuan literasi mereka, karena siswa harus menangkap alur, tokoh, suasana, serta pesan yang terkandung dalam cerita. Dengan membiasakan siswa membaca secara menyeluruh, secara tidak langsung guru telah menanamkan budaya literasi dalam pembelajaran.
Setelah memahami isi cerpen, siswa diminta mengubah bentuk narasi menjadi larik-larik puisi yang indah dan bermakna. Proses ini menuntut kreativitas, imajinasi, serta kemampuan memilih diksi yang tepat. Dari cerita berbentuk paragraf, siswa harus menyaring bagian-bagian penting, lalu mengekspresikannya kembali dalam bentuk yang lebih padat, puitis, dan penuh makna kias.
Dalam proses mengubah cerpen menjadi puisi, tentu terdapat beberapa tantangan yang dihadapi siswa, di antaranya:
Tantangan tersebut menjadi bagian dari proses belajar. Namun, dengan arahan dan pendampingan guru, siswa dapat mengatasinya. Guru berperan memberikan motivasi, contoh, serta meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mengekspresikan gagasan melalui puisi.
Berikut salah satu hasil karya siswa kelas XI MA Kebon Cinta yang mengubah cerpen “Rumah yang Kehilangan Suara Ibu” karya Vini Dwi Jayati menjadi bentuk puisi.
Naungan Hangat yang Hilang Bersama Suara Syahdu Ibu
Karya Fadhiilah Faatin Salsabilla
Rumah besar nan kokoh selalu diidamkan
Keluarga utuh yang harmonis menjadi impian
Namun apalah daya jika takdir telah menentukan
Hingga tak akan ada lagi alunan syahdu ibu yang dapat kudengar
Sentuhan lembut yang kurindukan
Peluk hangat yang masih sangat kubutuhkan
Kini pergi bersama ibu yang tak akan pernah kembali
Membuatku kehilangan hal yang terlalu besar untuk bahu sekecil ini
Ratapan nurani berbalut sendu
Menemui takdir terpisah dari ibu
Terurai untaian doa pada Tuhanku
Agar dapat berjumpa lagi dengan kehadiran ibu
Meski… hanya dalam alam bawah sadarku.
Puisi tersebut merupakan hasil imajinasi siswa yang ditransformasikan dari bentuk cerpen ke dalam larik-larik puisi. Setiap kata yang dipilih telah disesuaikan sehingga menghadirkan makna kias dan keindahan bahasa. Proses ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi karya baru yang lebih ekspresif.
Melalui pembelajaran mengubah cerpen menjadi puisi, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga melatih kreativitas dan berpikir kritis. Mereka belajar menyaring informasi, memilih diksi yang tepat, serta berani mengekspresikan perasaan dalam bentuk sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak lagi terasa sulit, melainkan menjadi ruang eksplorasi imajinasi yang menyenangkan dan bermakna.