Keboncinta.com-- Kondisi cuaca panas di Makkah kembali menjadi perhatian serius bagi petugas kesehatan haji Indonesia. Di tengah semangat tinggi menjalankan ibadah, jemaah diingatkan agar tidak mengabaikan kondisi tubuh, terutama saat menghadapi suhu ekstrem dan aktivitas yang padat.
Petugas dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah menilai bahwa banyak jemaah terlalu memaksakan diri sejak awal kedatangan.
Semangat beribadah yang tinggi, seperti memperbanyak salat sunnah hingga mengurangi waktu tidur, justru berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup.
Baca Juga: Peluang Jadi Manajer Koperasi Desa 2026 Kian Terbuka, Ini Contoh Soal CAT dan Strategi Lolos Seleksi
Menurut dr. Ridwan Susuwanto, kondisi ini sering terjadi karena jemaah menganggap momen haji sebagai kesempatan langka, sehingga ingin memaksimalkan ibadah tanpa jeda.
Padahal, kelelahan akibat kurang tidur dapat berdampak serius ketika harus menjalani rangkaian ibadah berikutnya yang lebih berat.
Selain faktor kelelahan, kebiasaan mengurangi minum juga menjadi perhatian. Sebagian jemaah sengaja membatasi asupan cairan karena khawatir harus bolak-balik ke toilet. Padahal, langkah ini justru meningkatkan risiko dehidrasi, terutama di tengah suhu panas yang tinggi.
Baca Juga: CPNS 2026 Segera Dibuka, Hindari Kesalahan Sepele Ini Agar Lolos Seleksi Administrasi
Petugas kesehatan menegaskan bahwa pola minum yang tepat menjadi kunci utama menjaga kebugaran. Jemaah dianjurkan mengonsumsi air dalam jumlah kecil tetapi dilakukan secara rutin agar tubuh tetap terhidrasi.
Selain itu, penting bagi jemaah untuk memberi jeda istirahat setelah perjalanan panjang sebelum melaksanakan ibadah berat seperti umrah wajib.
Kombinasi antara cuaca panas, kurang tidur, dan minim cairan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari dehidrasi, kelelahan ekstrem, hingga heatstroke yang berpotensi membahayakan jiwa. Gejala awal seperti tenggorokan kering, pusing, batuk, atau kulit terasa tidak nyaman sebaiknya tidak diabaikan.
Baca Juga: Penelitian BRIN Ungkap Bahaya Ikan Sapu-Sapu: Akumulasi Logam Berat Ancam Lingkungan dan Kesehatan
Untuk mengurangi risiko, jemaah juga disarankan menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan, seperti topi atau payung. Penggunaan masker dianjurkan terutama di area padat untuk mencegah gangguan pernapasan dan penularan penyakit.
Meski dianjurkan banyak beristirahat, aktivitas ringan tetap diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh. Peregangan sederhana atau berjalan santai di dalam kamar hotel dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan menjaga kebugaran otot.
Pada akhirnya, keseimbangan antara ibadah dan menjaga kesehatan menjadi kunci utama keberhasilan menjalankan rangkaian haji.
Dengan kondisi fisik yang prima, jemaah dapat menjalankan seluruh tahapan ibadah dengan lancar hingga puncaknya.***