JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya mencari solusi nyata guna menekan tingginya biaya budidaya perikanan di Indonesia. Saat ini, industri akuakultur nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor, khususnya bungkil kedelai.
Ketergantungan ini memicu kenaikan harga pakan ikan, sementara harga jual ikan air tawar di tingkat peternak sering kali fluktuatif mengikuti musim. Akibat ketidakpastian tersebut, para petani ikan lokal kian tertekan oleh tingginya biaya operasional.
Melihat kondisi tersebut, periset BRIN berhasil mengembangkan inovasi pakan alternatif untuk ikan gurami dengan memanfaatkan bahan baku lokal, yaitu biji kecipir.
Tanaman kecipir dipilih karena memiliki potensi nutrisi yang luar biasa serta karakteristik budidaya yang sangat mendukung wilayah Indonesia.
Keunggulan Biji Kecipir sebagai Bahan Pakan
Berdasarkan hasil kajian tim riset, tanaman kecipir memiliki sejumlah keunggulan komparatif:
1. Kandungan Nutrisi Tinggi: Kaya akan protein dan menjadi sumber lemak nabati yang baik bagi pertumbuhan ikan.
2. Kaya Asam Amino dan Omega: Mengandung asam amino lisin, leusin, arginin, serta asam lemak esensial omega 6 dan 9.
3. Daya Tumbuh Adaptif: Sangat mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia serta adaptif terhadap kondisi iklim ekstrem seperti kekeringan.
Melalui formulasi riset BRIN, pakan berbahan biji kecipir ini dipadukan dengan enzim khusus. Kombinasi ini terbukti mampu mendongkrak tingkat kecernaan protein pada ikan hingga menyentuh angka 70%. Efek positifnya, pertumbuhan ikan gurami menjadi jauh lebih optimal dan efisiensi pakan meningkat secara signifikan.
Menuju Kemandirian Sektor Perikanan Nasional
Deisi Heptarina, Periset dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menjelaskan bahwa biji kecipir berpotensi besar menjadi substitusi bungkil kedelai impor karena memiliki nilai gizi yang sangat mirip.
"Selain bernilai gizi mirip bungkil kedelai, tanaman ini juga dapat memperkuat kemandirian sektor perikanan nasional. Ke depan, melalui riset yang lebih mendalam, kecipir diharapkan dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan lahan marginal," ungkap Deisi dalam keterangannya.
Langkah inovasi dari BRIN ini diharapkan mampu membuka peluang baru pemanfaatan bahan baku lokal secara masif. Dengan berkurangnya ketergantungan pada rantai pasok impor, biaya produksi budidaya ikan dapat dipangkas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (swd)