Pendidikan
Hilmi An Naufal

Apa yang Dilakukan Jemaah Saat Wukuf di Arafah? Ini Rangkaian Ibadahnya

Apa yang Dilakukan Jemaah Saat Wukuf di Arafah? Ini Rangkaian Ibadahnya

11 Agustus 2026 | 20:12

keboncinta.com – Hamparan Arafah berubah menjadi lautan manusia berpakaian ihram ketika tanggal 9 Dzulhijjah tiba. Dari berbagai negara, bahasa, usia, dan latar belakang, jemaah haji berkumpul di tempat yang sama untuk menjalani salah satu bagian terpenting dalam perjalanan ibadah mereka: wukuf.

Bagi orang yang belum pernah berhaji, wukuf mungkin terlihat seperti kegiatan berdiam diri di sebuah kawasan terbuka. Kenyataannya, waktu selama berada di Arafah justru dipenuhi dengan salat, zikir, istigfar, doa, dan perenungan.

Wukuf merupakan salah satu rukun haji. Kementerian Agama menjelaskan bahwa waktu wukuf berlangsung pada 9 Dzulhijjah setelah matahari tergelincir hingga terbit fajar pada 10 Dzulhijjah. Karena kedudukannya sebagai rukun, jemaah harus berada di kawasan Arafah pada waktu yang telah ditentukan.

Lantas, apa sebenarnya yang dilakukan jemaah ketika wukuf?

Persiapan Menjelang Waktu Wukuf

Aktivitas jemaah di Arafah sudah dimulai sebelum masuk waktu Zuhur.

Setelah tiba di tenda masing-masing, jemaah biasanya menggunakan waktu untuk beristirahat dan menjaga kondisi fisik. Hal ini cukup penting karena rangkaian perjalanan haji masih berlanjut menuju Muzdalifah dan Mina.

Menjelang Zuhur, jemaah mulai bersiap menjalani prosesi utama wukuf. Dalam salah satu pelaksanaan yang dijelaskan Kementerian Agama, jemaah mengambil wudu sebelum mengikuti azan dan khutbah wukuf.

Di Masjid Namirah, khutbah Arafah menjadi bagian penting dari rangkaian pada hari tersebut. Masjid yang berada di kawasan Arafah itu juga menjadi tempat pelaksanaan salat Zuhur dan Asar secara jamak dan qasar pada Hari Arafah.

Namun, jutaan jemaah tentu tidak semuanya berada di Masjid Namirah. Sebagian besar mengikuti rangkaian ibadah dari tenda atau lokasi masing-masing yang masih berada di dalam batas kawasan Arafah.

Salat Zuhur dan Asar Dilaksanakan Berdekatan

Setelah khutbah, rangkaian dilanjutkan dengan salat Zuhur dan Asar.

Dalam pelaksanaan yang dijelaskan Kemenag, kedua salat tersebut dilakukan dengan jamak takdim dan qasar. Artinya, salat Asar dilaksanakan pada waktu Zuhur dan salat empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat bagi jemaah yang memenuhi ketentuan sebagai musafir.

Seusai salat, suasana Arafah memasuki bagian yang bagi banyak jemaah menjadi sangat personal.

Tidak ada lagi aktivitas fisik seperti mengelilingi Ka'bah saat tawaf atau berjalan antara Safa dan Marwah ketika sai. Jemaah justru memiliki waktu panjang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Doa, Zikir, dan Istigfar Mengisi Waktu di Arafah

Berdiam diri ketika wukuf bukan berarti jemaah tidak melakukan apa-apa.

Waktu yang tersedia banyak digunakan untuk berdoa, berzikir, membaca istigfar, bertalbiyah, membaca Al-Qur'an, dan melakukan introspeksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa tidak terdapat bacaan tertentu yang menjadi rukun ucapan dalam wukuf. Jemaah dapat duduk, berdoa, dan berzikir selama berada di Arafah.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) juga memuat sejumlah bacaan yang dapat diamalkan ketika berada di Arafah, antara lain tahmid, talbiyah, takbir, doa memohon ampun, serta tahlil.

Karena itu, tidak mengherankan apabila suasana di dalam tenda berubah menjadi sangat tenang. Ada jemaah yang membuka buku doa, ada yang mengangkat kedua tangan, sementara sebagian lainnya menundukkan kepala dalam waktu lama.

Doa yang dipanjatkan pun tidak harus sama antara satu orang dan lainnya. Jemaah dapat membawa harapan masing-masing: memohon ampun atas kesalahan, mendoakan keluarga, meminta kesehatan, keselamatan, rezeki, hingga kebaikan hidup setelah pulang dari Tanah Suci.

Mengapa Banyak Jemaah Menangis Saat Wukuf?

Arafah menjadi salah satu titik ketika perjalanan haji terasa sangat pribadi.

Jemaah datang setelah menempuh perjalanan panjang dari negara masing-masing. Sebagian bahkan sudah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan berhaji.

Ketika aktivitas perjalanan berhenti dan waktu lebih banyak digunakan untuk berdoa, muncul ruang untuk mengingat banyak hal yang selama ini mungkin terlewat: kesalahan kepada orang lain, keluarga yang ditinggalkan di rumah, orang tua, cita-cita, hingga perjalanan hidup yang sudah berlalu.

Tak sedikit laporan pelaksanaan wukuf yang menggambarkan suasana haru dan khusyuk ketika jemaah menjalani prosesi tersebut. Kementerian Agama juga mencatat pengalaman jemaah yang merasakan suasana penuh keharuan selama wukuf di Arafah.

Air mata yang muncul pada saat itu tentu merupakan pengalaman masing-masing orang. Ada yang menangis ketika berdoa, ada yang larut dalam istigfar, sementara lainnya memilih diam.

Di tengah begitu banyak manusia yang mengenakan pakaian ihram serupa, perbedaan jabatan, kekayaan, profesi, maupun status sosial seolah tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Tidak Harus Mendaki Jabal Rahmah

Ada satu anggapan yang terkadang muncul ketika membicarakan wukuf: jemaah harus berada atau mendaki Jabal Rahmah agar wukufnya sempurna.

Padahal, wukuf tidak mensyaratkan jemaah berada di atas Jabal Rahmah.

Hal yang menentukan adalah jemaah berada di dalam batas kawasan Arafah pada waktu wukuf. Bahkan posisi batas Arafah harus benar-benar diperhatikan. Salah satu bagian Masjid Namirah, misalnya, berada di luar batas Arafah sehingga kawasan tersebut memiliki penandaan khusus.

Karena itu, jemaah yang sudah mendapatkan tempat di tenda dalam kawasan Arafah tidak perlu memaksakan diri berjalan jauh atau mendaki bukit demi menjalankan wukuf.

Mengikuti arahan petugas dan menjaga kondisi fisik justru sangat penting, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki keterbatasan kesehatan.

Setelah Matahari Terbenam, Perjalanan Belum Selesai

Menjelang sore, jemaah terus memanfaatkan sisa waktu untuk berdoa dan berzikir.

Setelah memasuki waktu yang ditentukan untuk meninggalkan Arafah, pergerakan jemaah dilakukan secara bertahap menuju Muzdalifah. Dalam rangkaian haji, setelah Arafah jemaah melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah sebelum kemudian menuju Mina untuk meneruskan tahapan berikutnya.

Jadi, wukuf memang terlihat sederhana jika hanya dilihat dari gerak tubuh.

Tidak ada perjalanan mengelilingi bangunan, tidak ada lintasan panjang yang harus ditempuh, dan tidak ada gerakan khusus yang dilakukan terus-menerus.

Tetapi justru dalam keadaan berhenti itulah jemaah mendapatkan kesempatan untuk melihat kembali dirinya sendiri.

Di Arafah, waktu beberapa jam dapat berubah menjadi ruang untuk meminta ampun, mengingat keluarga, memperbaiki niat, dan membawa satu harapan sederhana sebelum perjalanan haji dilanjutkan: pulang dengan kehidupan yang lebih baik daripada ketika berangkat.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna