Keboncinta.com-- Saat kamu tidak dianggap baik oleh rekan kerja, apa yang akan kamu lakukan? Tetap bersikap baik, atau memilih untuk mengabaikan saja?
Fenomena lingkungan kerja yang toxic bukan lagi hal baru. Bahkan, jika kita melihat berbagai cerita di media sosial, banyak orang membagikan pengalaman mereka tentang ketidaknyamanan di tempat kerja. Mulai dari tidak dihargai, disalahpahami, hingga diperlakukan tidak adil.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan toxic?
Toxic adalah perilaku atau suasana lingkungan yang membawa dampak negatif bagi seseorang baik secara emosional maupun mental. Dalam dunia kerja, hal ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti sikap tidak menghargai, menyudutkan, atau bahkan menjatuhkan rekan kerja.
Padahal, ketika seseorang bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga, hal utama yang dibutuhkan bukan hanya gaji, tetapi juga kenyamanan. Lingkungan yang hangat dan suportif akan membuat seseorang lebih produktif dan merasa dihargai.
Namun, bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?
Bayangkan kamu sudah bekerja dengan maksimal, tetapi atasan tidak melihat usahamu. Sebaliknya, ketika kamu terlihat santai sejenak, justru dianggap tidak bekerja. Lebih menyakitkan lagi, ketika rekan kerja ikut membenarkan anggapan tersebut tanpa mengetahui fakta sebenarnya.
Dalam situasi seperti ini, kamu dihadapkan pada pilihan:
1. Membuktikan bahwa kamu memang bekerja dengan baik
2. Mengabaikan penilaian tersebut karena merasa tidak butuh validasi
3. Atau berpura-pura “terlihat sibuk” demi menghindari penilaian negatif
Tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak. Setiap pilihan memiliki alasan dan konsekuensinya masing-masing.
Namun yang perlu dipahami, berada di lingkungan kerja yang toxic memang tidak mudah. Ketika apa yang kita lakukan selalu dianggap salah, dan usaha kita tidak pernah diapresiasi, hal itu perlahan bisa menguras energi dan emosi.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?
Pertama, kenali batas dirimu. Tidak semua hal perlu kamu buktikan kepada orang lain, tetapi bukan berarti kamu juga harus diam ketika diperlakukan tidak adil. Kedua, tetap jaga profesionalitas. Sikap orang lain tidak harus mengubah cara kamu bekerja.
Ketiga, evaluasi lingkunganmu. Jika situasi tersebut terus berulang dan mulai berdampak pada kesehatan mental, tidak ada salahnya mempertimbangkan pilihan lain yang lebih sehat.
Pada akhirnya, kamu berhak berada di lingkungan yang menghargai usahamu. Jadi, kamu termasuk yang tetap bersikap baik, atau memilih untuk menjaga jarak?