Keboncinta.com-- Pembelajaran di sekolah tidak cukup hanya membuat siswa menguasai teori. Pengetahuan yang diperoleh juga perlu dapat digunakan untuk memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pendekatan yang dapat mendukung tujuan tersebut adalah pembelajaran STEM. Pendekatan ini memadukan empat bidang, yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika, dalam kegiatan belajar yang dekat dengan kondisi nyata.
Melalui STEM, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru atau menghafal konsep. Mereka didorong untuk mengamati suatu persoalan, mencari tahu penyebabnya, mengembangkan gagasan, melakukan percobaan, serta merancang solusi yang dapat diterapkan.
Pola belajar seperti ini membuat siswa memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat secara aktif sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Baca Juga: Pensiunan Wajib Tahu, Jadwal Gaji Tanggal 1 Berbeda dengan Proses Autentikasi
Salah satu tantangan dalam pembelajaran adalah ketika siswa hanya memahami materi secara teoritis tanpa mengetahui bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran STEM berusaha menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghubungkan konsep ilmiah dengan kegiatan praktik. Melalui tugas atau proyek yang dilakukan di lingkungan sekolah, siswa dapat mengeksplorasi materi sekaligus melihat manfaat pengetahuan yang mereka pelajari.
Kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan berbagai kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21. Ketika siswa berhadapan dengan suatu masalah, mereka perlu menganalisis kondisi, mencari kemungkinan penyelesaian, menyampaikan gagasan, dan bekerja bersama teman.
Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berorientasi pada jawaban akhir. Siswa juga belajar memahami proses menemukan solusi melalui kerja sama, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Pembelajaran STEM tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar atau isu yang rumit. Justru masalah sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa dapat menjadi titik awal kegiatan belajar yang menarik.
Guru dapat mengamati kondisi lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari siswa untuk menemukan persoalan yang dapat dikembangkan menjadi tantangan pembelajaran.
Salah satunya dengan mengembangkan kembali proyek yang pernah dilakukan. Materi dari kegiatan sebelumnya dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat proyek baru atau memperbaiki solusi yang sudah ada. Dengan cara ini, siswa terbiasa mengevaluasi hasil dan mencari kemungkinan perbaikan.
Guru juga dapat mengambil persoalan yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Topik yang dekat dengan pengalaman mereka biasanya lebih mudah dipahami karena siswa memiliki gambaran langsung mengenai masalah tersebut.
Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal dan sekolah juga dapat dimanfaatkan. Sekolah yang berada di kawasan pesisir, misalnya, dapat mengangkat persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pantai sebagai bagian dari pembelajaran.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan belajar lebih kontekstual karena siswa tidak hanya membahas suatu masalah secara abstrak, tetapi melihat keterkaitannya dengan lingkungan sekitar.
Baca Juga: 580.000 Sekolah Masuk Data MBG, 240.000 Belum Terlayani: BGN Ungkap Strategi Perluasan
Tahap awal dalam merancang pembelajaran STEM adalah menentukan persoalan atau tantangan yang sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan belajar.
Tantangan yang dipilih perlu memberikan ruang bagi siswa untuk menggunakan beberapa bidang ilmu secara terpadu. Dari persoalan tersebut, siswa kemudian dapat diarahkan untuk mengamati, mengidentifikasi penyebab, mengembangkan ide, mencoba solusi, dan mengevaluasi hasilnya.
Peran guru dalam proses ini bukan sekadar memberikan jawaban. Guru dapat bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan pertanyaan, mengarahkan proses pencarian informasi, serta memberikan umpan balik ketika siswa mengalami kesulitan.
Dengan pendekatan seperti ini, siswa memperoleh pengalaman bahwa suatu persoalan dapat diselesaikan melalui proses berpikir dan percobaan, bukan hanya dengan menghafalkan jawaban dari buku.
Pembelajaran STEM pada akhirnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari di kelas dengan persoalan yang ada di dunia nyata.
Ketika siswa dilibatkan dalam proyek dan pemecahan masalah, mereka dapat belajar menggunakan pengetahuan secara lebih bermakna. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kerja sama juga dapat berkembang melalui proses tersebut.
Karena itu, penerapan STEM tidak harus selalu menggunakan proyek yang kompleks. Guru dapat memulainya dari persoalan sederhana yang ada di lingkungan sekolah, rumah, atau masyarakat sekitar.
Baca Juga: Kenapa 1.653 Sekolah Dicoret dari Daftar MBG? BGN Ungkap Kriteria Penerimanya
Dari masalah sederhana tersebut, siswa dapat belajar mengamati, bertanya, mencoba, mengevaluasi, dan menghasilkan solusi. Inilah yang membuat pembelajaran STEM dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun pengalaman belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan bermakna.***