Keboncinta.com-- Banyak jemaah haji masih memilih memaksakan diri berjalan kaki saat menjalani tawaf dan sa’i, meskipun kondisi tubuh sudah kelelahan. Padahal, Islam memberikan kemudahan agar ibadah tetap dapat dilakukan tanpa membahayakan kesehatan maupun menguras tenaga secara berlebihan.
Dalam buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah, Imam Ghazali Said menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan tawaf dengan menunggang unta saat Haji Wada’.
Peristiwa tersebut menjadi dasar bahwa penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau skuter diperbolehkan bagi jemaah yang membutuhkan. Keringanan ini dapat dimanfaatkan terutama bagi lansia, jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu, atau mereka yang mengalami kelelahan berat.
Baca Juga: Jangan Sampai Tumbang Saat Haji! Ini Strategi Hemat Tenaga agar Tetap Kuat hingga Armuzna 2026
Jangan Habiskan Energi untuk Aktivitas Non-Ibadah
Selain memanfaatkan rukhsah atau keringanan syariat, jemaah juga dianjurkan mengatur stamina dengan bijak selama berada di Tanah Suci.
Aktivitas yang terlalu menguras tenaga, seperti terlalu sering berjalan-jalan ke pasar atau berburu oleh-oleh sebelum puncak ibadah selesai, sebaiknya dibatasi.
Pasalnya, fase terberat dalam rangkaian haji berada pada Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang membutuhkan kondisi fisik prima karena melibatkan mobilitas tinggi dan kepadatan jutaan jemaah.
Untuk itu, memperbanyak istirahat sebelum fase Armuzna menjadi langkah penting agar tubuh tetap kuat menghadapi puncak ibadah haji.
Baca Juga: Aturan Baru Haji 2026! Arab Saudi Wajibkan Vaksin Meningitis untuk Pekerja, Ini Alasannya
Disiplin Minum Air dan Lindungi Tubuh dari Panas
Di tengah suhu ekstrem Arab Saudi, menjaga cairan tubuh menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Kementerian Agama menganjurkan jemaah memenuhi kebutuhan cairan dengan minum sedikitnya 2,5 liter air per hari guna mengurangi risiko dehidrasi dan heat stroke.
Selain menjaga hidrasi, penggunaan perlindungan diri seperti payung, masker, dan kacamata hitam juga sangat dianjurkan untuk membantu tubuh bertahan dari paparan panas matahari.
Menjaga Emosi Juga Bisa Menghemat Energi
Tidak hanya fisik, pengelolaan emosi juga menjadi bagian penting dalam menjaga stamina selama berhaji. Situasi antre panjang, berdesakan, atau perubahan jadwal sering kali memicu stres dan kelelahan mental.
Baca Juga: MUI Tegas Soal Dam Haji 2026, Jemaah Indonesia Tak Boleh Sembarangan Sembelih di Tanah Air?
Karena itu, jemaah diimbau tetap sabar dan mampu mengendalikan emosi agar energi tidak cepat terkuras selama menjalani ibadah.
Dengan pengelolaan tenaga yang tepat, jemaah diharapkan dapat menjalankan seluruh prosesi haji secara lebih nyaman, aman, dan tetap fokus pada makna spiritual ibadah hingga selesai.***