Keboncinta.com-- Ramadan 2026 menjadi momen istimewa yang tidak hanya menghadirkan suasana ibadah, tetapi juga penyesuaian pola pembelajaran di sekolah. Melalui kebijakan yang terencana, kegiatan belajar tetap berjalan dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan spiritual peserta didik selama menjalankan ibadah puasa. Pola pembelajaran ini dirancang agar siswa tetap produktif, nyaman, dan seimbang antara akademik serta ibadah.
1. Belajar Mandiri di Awal Ramadan (18–21 Februari 2026)
Mengawali Ramadan, siswa melaksanakan kegiatan belajar mandiri. Pada tahap ini, pembelajaran difokuskan pada:
Model ini bertujuan memberi ruang adaptasi bagi siswa dalam menjalankan puasa di hari-hari pertama. Selain tetap belajar, siswa juga diajak merefleksikan pengalaman spiritualnya melalui jurnal Ramadan, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga membangun kesadaran diri.
2. Pembelajaran di Sekolah (23 Februari – 14 Maret 2026)
Memasuki pekan berikutnya, kegiatan pembelajaran kembali dilaksanakan di sekolah dengan beberapa penyesuaian, antara lain:
Penyesuaian ini menunjukkan komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah Ramadan. Fokusnya bukan hanya pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai religius.
3. Libur Idulfitri (16–20 & 23–27 Maret 2026)
Menjelang dan sesudah Hari Raya Idulfitri, siswa memasuki masa libur. Waktu ini menjadi kesempatan untuk:
Libur Idulfitri bukan sekadar waktu istirahat, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial dan keluarga, sejalan dengan semangat Ramadan yang penuh kasih dan kebersamaan.
4. Masuk Sekolah Kembali (30 Maret 2026)
Setelah rangkaian ibadah dan libur Idulfitri, kegiatan belajar mengajar kembali normal pada 30 Maret 2026. Diharapkan siswa kembali ke sekolah dengan semangat baru, hati yang bersih, serta motivasi belajar yang lebih kuat.
Pola Pembelajaran Ramadan 2026 mengusung semangat Belajar, Beribadah, dan Bersilaturahmi. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Ramadan bukan penghalang untuk berprestasi, melainkan kesempatan untuk membentuk pribadi yang lebih disiplin, sabar, dan bertanggung jawab.
Semoga melalui pola pembelajaran ini, siswa dapat menjalani Ramadan dengan penuh makna, tetap berprestasi, dan semakin matang secara spiritual maupun akademik.