KEBONCINTA.COM – Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD menyoroti masih adanya ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan di Indonesia.
Persoalan yang dikenal sebagai skills mismatch tersebut dinilai perlu ditangani melalui kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta.
Kepala Kantor Perwakilan OECD di Jakarta Massimo Geloso Grosso mengatakan pemberi kerja masih menghadapi kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan.
Salah satu solusi yang didorong OECD adalah memberikan peran lebih besar kepada sektor swasta dalam proses penyusunan kurikulum serta program pelatihan.
Keterlibatan dunia usaha tidak seharusnya hanya dilakukan melalui program sementara.
Industri dinilai perlu mempunyai peran yang lebih terstruktur sehingga sekolah vokasi maupun lembaga pelatihan mendapatkan informasi langsung mengenai jenis keterampilan yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja.
Hal tersebut menjadi sangat penting bagi pendidikan dan pelatihan vokasi serta perguruan tinggi yang program pendidikannya berorientasi terhadap kebutuhan profesi.
Perubahan teknologi juga membuat kebutuhan industri berkembang semakin cepat.
Keahlian yang banyak digunakan saat ini dapat berubah dalam beberapa tahun sehingga kurikulum pendidikan perlu memiliki kemampuan beradaptasi.
OECD mencontohkan sejumlah negara yang menghubungkan kebutuhan tenaga kerja dengan sistem pendidikan dan pelatihan.
Polandia, misalnya, melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta dalam menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan tenaga kerja di masing-masing wilayah.
Brasil juga memanfaatkan proyeksi kebutuhan keterampilan dari perusahaan sebagai salah satu dasar merancang program pelatihan.
Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini dapat membantu mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.
OECD juga menilai peningkatan kualitas tenaga pendidik tetap perlu diperkuat melalui penjaminan mutu, akreditasi, serta pengembangan profesional yang lebih sistematis.
Pendidikan vokasi pada akhirnya tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah maupun sertifikat.
Lulusan perlu mempunyai kemampuan yang benar-benar dapat digunakan di tempat kerja sekaligus kemampuan beradaptasi ketika teknologi dan kebutuhan industri mengalami perubahan.