Berita
Rahman Abdullah

Menag Nasaruddin Umar Minta Madrasah Jadi Rumah Literasi, Bukan Sekadar Tempat Belajar

Menag Nasaruddin Umar Minta Madrasah Jadi Rumah Literasi, Bukan Sekadar Tempat Belajar

07 Juli 2026 | 14:03

Keboncinta.com-- Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong transformasi pendidikan madrasah agar mampu menjawab tantangan era digital. Salah satu fokus utama yang kini diperkuat adalah budaya literasi yang tidak hanya menekankan kebiasaan membaca, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, menulis, meneliti, hingga menciptakan inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat membuka Festival Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) II Tahun 2026 di Ternate, Maluku Utara. Menurutnya, madrasah harus berkembang menjadi pusat literasi yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, serta mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menag Dorong Madrasah Menjadi Rumah Literasi

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa madrasah perlu menjadi lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi secara menyeluruh. Literasi tidak cukup hanya diwujudkan melalui keberadaan perpustakaan, tetapi juga harus hadir dalam setiap aktivitas belajar dan kehidupan di lingkungan madrasah.

Baca Juga: Kemenag Bakal Masukkan Materi Pencegahan Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama, Ini Strategi yang Disiapkan

Menurut Menag, setiap sudut madrasah seharusnya menjadi ruang yang mendorong peserta didik untuk membaca, berdiskusi, melakukan riset, menulis, hingga berkolaborasi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Dengan cara tersebut, budaya belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seluruh warga madrasah.

Literasi Dimaknai Lebih Luas dari Sekadar Membaca

Dalam sambutannya pada pembukaan Festival Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) II Tahun 2026, Menag menjelaskan bahwa literasi harus dipahami sebagai kemampuan mengolah informasi secara kritis.

Peserta didik tidak hanya dituntut mampu membaca dan menulis, tetapi juga memiliki keterampilan memahami informasi, menganalisis persoalan, serta mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta yang benar.

Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Baca Juga: Kemenag Siapkan Konten Edukasi Cegah Penyebaran Budaya LGBTQ, Ini Langkah yang Akan Dilakukan

Madrasah Harus Melahirkan Generasi Kritis di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital, Menag menilai tantangan pendidikan saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan menyaring berbagai informasi yang beredar.

Peserta didik perlu dibekali kemampuan membedakan fakta dengan hoaks, informasi ilmiah dengan opini, serta mampu menggunakan media digital secara bertanggung jawab.

Karena itu, Gerakan Literasi Madrasah diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga memperkuat nalar kritis, etika digital, dan pembentukan karakter peserta didik.

Keberhasilan Literasi Diukur dari Karya dan Inovasi

Menurut Menag, ukuran keberhasilan program literasi tidak semata-mata dilihat dari jumlah buku yang berhasil dibaca siswa.

Keberhasilan justru tercermin dari lahirnya berbagai hasil nyata seperti:

  • Gagasan baru.
  • Tulisan ilmiah maupun populer.
  • Penelitian.
  • Inovasi.
  • Solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Dengan demikian, budaya literasi di madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang produktif dan memiliki kontribusi bagi pembangunan bangsa.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi PPPK Penuh Waktu? Ini Syarat Resmi Menurut PermenPAN RB Nomor 9 Tahun 2026

Gerakan Membaca 15 Menit Setiap Hari

Sebagai langkah sederhana namun berdampak besar, Menag mengajak seluruh madrasah membiasakan peserta didik membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari.

Kebiasaan tersebut diyakini mampu memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak usia dini.

Dukungan Pemerintah Daerah untuk Literasi Madrasah

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, turut menyampaikan dukungannya terhadap penguatan budaya literasi di madrasah.

Ia menilai kemampuan membaca, menulis, memahami, menginterpretasikan, serta menganalisis informasi menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki peserta didik untuk menghadapi perkembangan zaman.

Menurutnya, Festival Gerakan Literasi Madrasah menjadi wadah kolaborasi antara Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam membangun ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas.

Baca Juga: Jadwal Resmi TKA SMA 2026 Telah Ditetapkan! Simak Tahapan Lengkap dan Manfaat Sertifikatnya untuk Masa Depan

Kementerian Agama berharap Festival Gerakan Literasi Madrasah tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan nasional yang memperkuat budaya literasi di seluruh madrasah Indonesia.

Melalui penguatan literasi, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang kritis, kreatif, berakhlak mulia, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghasilkan karya dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.***

Tags:
berita nasional kemenag Menag

Komentar Pengguna