keboncinta.com-- Marah adalah fitrah manusia. Namun, ketika amarah memuncak hingga ingin meledak, lisan mudah menyakiti dan tindakan bisa melukai. Islam sebagai agama yang menata hati memberikan tuntunan praktis dan menenangkan untuk meredam amarah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dua di antaranya adalah mengambil air wudhu dan mengubah posisi tubuh.
Marah dalam Pandangan Islam
Dalam banyak hadis, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahaya marah yang tak terkendali. Marah bukan sekadar emosi sesaat, tetapi pintu bagi penyesalan. Karena itu, Islam tidak menuntut manusia bebas dari marah, melainkan mampu mengelola dan menundukkannya.
Ubah Posisi Tubuh Sesuai Sunnah
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika seseorang marah dalam keadaan berdiri, hendaknya ia duduk; jika belum reda, hendaknya ia berbaring. Perubahan posisi ini bukan tanpa makna. Secara psikologis, posisi berdiri identik dengan kesiapan menyerang, sedangkan duduk dan berbaring menurunkan ketegangan tubuh dan memberi sinyal pada otak untuk menenangkan diri.
Mengubah posisi tubuh adalah langkah cepat dan praktis yang bisa langsung dilakukan di mana pun, sebelum amarah berkembang menjadi tindakan.
Ambil Air Wudhu, Padamkan Api Emosi
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa marah berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air, maka wudhu menjadi solusi spiritual sekaligus fisik. Air yang menyentuh anggota tubuh saat wudhu memberi efek menyejukkan dan menurunkan ketegangan saraf.
Lebih dari itu, wudhu adalah ibadah. Saat berwudhu, seorang muslim diajak berhenti sejenak, mengalihkan fokus dari emosi menuju kesadaran akan Allah. Inilah momen jeda yang sangat dibutuhkan ketika emosi sedang memuncak.
Diam: Benteng Terakhir dari Dosa Lisan
Sunnah lain yang sangat relevan adalah diam. Ketika marah, lisan sering menjadi sumber penyesalan. Dengan diam, seseorang memberi waktu bagi akal dan iman untuk kembali memimpin, bukan emosi.
Hikmah di Balik Tuntunan Nabi
Tuntunan Rasulullah ﷺ terbukti selaras dengan ilmu modern. Mengubah postur tubuh, menenangkan diri dengan air, dan berhenti berbicara adalah teknik regulasi emosi yang kini banyak dianjurkan dalam psikologi. Bedanya, Islam membungkusnya dengan nilai ibadah dan pahala.
Marah boleh datang, tetapi tidak boleh berkuasa. Dengan wudhu dan perubahan posisi tubuh, seorang muslim tidak hanya meredam emosi, tetapi juga sedang meneladani akhlak Nabi ﷺ. Inilah seni mengelola marah: bukan dipendam, tapi diarahkan menuju ketenangan dan kebaikan.