KHAZANAH – Bagi masyarakat yang sering melewati kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, gedung pemerintahan di nomor 6 mungkin sudah tidak asing lagi.
Selama puluhan tahun, bangunan tersebut begitu lekat dengan identitas Kementerian Agama Republik Indonesia. Berbagai unit pelayanan keagamaan pernah berkantor di sana dan ribuan pegawai telah melewati perjalanan kariernya di gedung tersebut.
Namun memasuki 2026, gedung bersejarah itu memasuki babak baru.
Aset Gedung M.H. Thamrin No. 6 secara resmi telah beralih dari Kementerian Agama kepada Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Portal resmi Kemenhaj kini juga mencantumkan M.H. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat sebagai alamat kementerian tersebut.
Perubahan tersebut membuat gedung ini menarik untuk ditelusuri kembali. Sebab sejarahnya ternyata telah berlangsung lebih dari enam dekade.
Sejarah gedung Kementerian Agama di Jalan M.H. Thamrin tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Departemen Agama pada masa awal Republik Indonesia.
Pembangunan kantor tersebut telah dimulai pada masa Menteri Agama K.H.M. Wahib Wahab. Setelah Wahib Wahab mengundurkan diri, Presiden Soekarno melantik K.H. Saifuddin Zuhri sebagai Menteri Agama pada 2 Maret 1962.
Pembangunan kemudian diteruskan hingga gedung tersebut akhirnya selesai.
Pada 1 Mei 1963, Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri meresmikan penggunaan Gedung Departemen Agama di Jalan M.H. Thamrin No. 6. Catatan KPK mengenai Saifuddin Zuhri juga menyebut gedung tersebut selesai sekitar 13 bulan setelah dirinya dilantik sebagai Menteri Agama.
Saat itu kawasan Thamrin sedang berkembang menjadi salah satu pusat penting Jakarta.
Gedung Departemen Agama pun termasuk bangunan pemerintah yang cukup menonjol pada zamannya.
Berbeda dengan bangunan yang terlihat saat ini, gedung pertama Departemen Agama di lokasi tersebut hanya terdiri atas empat lantai.
Bangunan itu memiliki sekitar 82 kamar kerja, satu ruang sidang, aula pertemuan, dua ruang kursus, klinik serta kafetaria. Pada masanya, kantor tersebut dikenal sebagai salah satu gedung pemerintahan yang tergolong megah.
Lokasinya juga sangat strategis.
Jalan M.H. Thamrin sudah berkembang sebagai salah satu jalan protokol penting di ibu kota dan gedung Departemen Agama berada tidak jauh dari berbagai lembaga pemerintahan serta pusat kegiatan ekonomi.
Catatan mengenai Saifuddin Zuhri bahkan menggambarkan bangunan empat lantai tersebut sebagai gedung perkantoran yang pada masanya termasuk termegah di kawasan tersebut dan berdampingan dengan Bank Indonesia.
Fungsi gedung tersebut tidak hanya berhubungan dengan pelayanan umat Islam.
Selama bertahun-tahun, M.H. Thamrin No.