Keboncinta.com-- Pemerintah terus mendorong percepatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menitikberatkan pada pembenahan sistem pendataan serta perluasan penerima manfaat.
Fokus utama saat ini diarahkan ke lingkungan pondok pesantren yang dinilai masih memiliki cakupan program yang rendah.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Rapat Koordinasi Terbatas tingkat menteri mengenai tata kelola penyelenggaraan MBG yang digelar di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa capaian pendataan di sekolah umum telah mencapai sekitar 80 persen.
Baca Juga: Formasi CPNS 2026 Mulai Disusun, Daerah Jadi Penentu Kebutuhan ASN Nasional
Namun, di lingkungan pesantren, angka tersebut masih jauh tertinggal, yakni sekitar 10 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Ia menegaskan bahwa santri merupakan kelompok yang sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup, sehingga percepatan program di pesantren menjadi prioritas.
Selain pondok pesantren, pemerintah juga akan melakukan penyempurnaan data pada madrasah dan sekolah berbasis keagamaan lainnya yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Terkait mekanisme penyaluran, program MBG pada umumnya diberikan selama lima hari mengikuti hari aktif sekolah.
Baca Juga: Perang Manzikert: Kemenangan Alp Arslan yang Membuat Eropa Kobarkan Perang Salib Pertama
Namun, untuk wilayah tertentu seperti daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) atau daerah dengan tingkat stunting tinggi, pemerintah membuka kemungkinan adanya tambahan hari penyaluran.
Khusus untuk pesantren, skema distribusi disesuaikan dengan jadwal kegiatan belajar yang bisa berlangsung lima hingga enam hari dalam satu pekan.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya sinkronisasi data antara Kementerian Agama dan Badan Gizi Nasional.
Ia mengingatkan agar tidak terjadi perbedaan metode penghitungan yang dapat membuka celah penyimpangan.
Ia menilai, keseragaman data sangat penting untuk menjaga transparansi dan ketepatan sasaran program.
Baca Juga: Sejarah Kemenangan Alp Arslan di Pertempuran Manzikert: Peristiwa yang Memicu Perang Salib
Berdasarkan data terbaru Kementerian Agama per 1 April 2026, jumlah penerima manfaat MBG di madrasah mencapai sekitar 3,98 juta siswa atau 37,9 persen dari total keseluruhan. Program ini telah menjangkau 26.773 madrasah atau sekitar 30,6 persen.
Di sisi lain, penerima manfaat di lingkungan pesantren tercatat sebanyak 654.879 santri atau sekitar 10,4 persen, yang tersebar di 4.576 pondok pesantren.
Pemerintah menilai bahwa perbaikan tata kelola serta integrasi data menjadi faktor utama dalam memperluas jangkauan program.
Langkah ini diharapkan dapat memastikan bantuan benar-benar diterima oleh kelompok yang paling membutuhkan, terutama santri dan masyarakat di daerah dengan tingkat kerentanan gizi tinggi.***