Sejarah
Rahman Abdullah

Jenderal Muslim di Pusaran Revolusi China: Jejak Ma Fuxiang dan Nasib Para Panglima Hui

Jenderal Muslim di Pusaran Revolusi China: Jejak Ma Fuxiang dan Nasib Para Panglima Hui

19 Januari 2026 | 20:36

Keboncinta.com-- Sejarah Revolusi China kerap dipotret sebagai pertarungan ideologi antara nasionalis dan komunis.

Namun di balik narasi besar itu, terdapat kisah yang jarang disorot: peran jenderal-jenderal Muslim yang berdiri di garis depan pergolakan, salah satunya adalah Letnan Jenderal Ma Fuxiang, tokoh penting dari komunitas Muslim Hui.

Ma Fuxiang lahir pada 1876 di Gansu, wilayah yang menjadi kantong utama Muslim Hui. Karier militernya tumbuh pada masa akhir Dinasti Qing, ketika China dilanda pemberontakan dan perang saudara.

Berbeda dengan sebagian panglima Muslim lain yang mengandalkan kekuatan regional, Ma Fuxiang dikenal sebagai perwira disiplin dengan kemampuan diplomasi tinggi.

Baca Juga: Kebijakan Imigrasi AS Berubah, Puluhan Negara Kena Penangguhan Visa, Ini Daftar Negara-negaranya

Saat Revolusi Xinhai 1911 meletus dan Dinasti Qing runtuh, Ma Fuxiang berada dalam posisi sulit.

Namun, alih-alih tenggelam dalam konflik internal, ia justru mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan tetap mempertahankan pengaruhnya dalam struktur negara baru.

Di era Republik China, Ma Fuxiang menjadi salah satu jenderal Muslim paling berpengaruh. Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan penting, termasuk sebagai Letnan Jenderal, gubernur militer, hingga pejabat sipil.

Kepercayaan ini tidak lepas dari kemampuannya menjaga stabilitas wilayah barat laut serta menjembatani hubungan antara pemerintah pusat dan komunitas Muslim.

Tidak seperti tokoh lain yang dikenal keras dan feodal, Ma Fuxiang memilih jalur moderasi dan integrasi.

Baca Juga: Sejarah Lawrence of Arabia: Dari Arkeolog hingga Legenda Agen Rahasia Inggris di Perang Dunia Pertama

Ia mendorong pendidikan modern bagi Muslim Hui, mendukung pendirian sekolah, serta memperjuangkan agar Islam tetap mendapat ruang dalam negara China yang sedang membangun identitas baru.

Selanjutnya, ketika konflik antara Kuomintang dan Partai Komunis China semakin tajam, Ma Fuxiang mengambil sikap yang relatif hati-hati.

Ia setia pada Republik China, tetapi menolak pendekatan kekerasan berlebihan terhadap kelompok lain. Sikap ini membuatnya dihormati, sekaligus dicurigai oleh sebagian elite politik.

Berbeda dengan beberapa jenderal Muslim yang memilih bertempur hingga akhir, Ma Fuxiang wafat pada 1932, sebelum Revolusi Komunis mencapai puncaknya.

Kepergiannya di usia relatif muda membuatnya terhindar dari gelombang penindasan besar-besaran yang menimpa banyak panglima Muslim pasca-1949.

Baca Juga: Mengenal Sosok Reza Pahlavi: Shah Iran Terakhir dan Jejak Modernisasi serta Kontroversi Monarki Persia

Tidak semua jenderal Muslim seberuntung Ma Fuxiang. Setelah Partai Komunis berkuasa, sebagian besar panglima Muslim Hui mengalami nasib pahit.

Ada yang melarikan diri ke Taiwan bersama Kuomintang, ada pula yang dipaksa menyerah dan kehilangan seluruh pengaruh politiknya.

Sebagian lainnya dipenjara atau dieksekusi karena dianggap mengancam stabilitas rezim baru. Kekuasaan militer yang dahulu menjadi benteng perlindungan komunitas Muslim perlahan lenyap. Identitas keagamaan dibatasi, dan peran politik Muslim dikecilkan secara sistematis.

Meski tidak meninggalkan kerajaan militer seperti Ma Bufang atau Ma Hongkui, warisan Ma Fuxiang justru terletak pada gagasannya.

Ia dikenang sebagai jenderal Muslim yang berusaha memadukan iman, loyalitas negara, dan modernisasi. Pendekatannya membuktikan bahwa Muslim dapat berperan aktif dalam negara tanpa harus terjebak konflik identitas.

Baca Juga: Skema Jam Mengajar Jadi Kunci Pencairan Tunjangan Profesi Guru Tiap Bulan Mulai 2026

Kisah Ma Fuxiang dan para jenderal Muslim lain menjadi pengingat bahwa Revolusi China bukan hanya cerita ideologi, tetapi juga kisah manusia yang berjuang menjaga keyakinan di tengah perubahan zaman.

Banyak dari mereka akhirnya tersingkir dari sejarah arus utama, meski kontribusinya nyata dalam membentuk negara China modern.***

Tags:
Sejarah Internasional Khazanah Islam

Komentar Pengguna