Dakwah dengan Hikmah dan Akhlak Mulia

Dakwah dengan Hikmah dan Akhlak Mulia

24 Februari 2026 | 12:40

Oleh : Agus Abdurrohim

Dakwah merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar aktivitas menyampaikan ceramah di mimbar, tetapi proses mengajak manusia menuju kebaikan dan jalan Allah dengan cara yang benar. Namun dalam praktiknya, dakwah tidak cukup hanya bermodal semangat. Ia membutuhkan hikmah (kebijaksanaan) dan akhlak mulia.

Di era keterbukaan informasi saat ini, cara berdakwah sangat menentukan bagaimana Islam dipahami. Dakwah yang keras dan penuh celaan justru dapat menjauhkan orang dari kebenaran. Sebaliknya, dakwah yang lembut, bijak, dan berakhlak akan menyentuh hati serta membawa perubahan yang lebih mendalam.

Perintah Berdakwah dengan Hikmah

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menjadi landasan utama metode dakwah dalam Islam. Terdapat tiga pendekatan yang disebutkan:

  1. Bil hikmah (dengan hikmah) – menyampaikan dengan kebijaksanaan, memahami situasi dan kondisi.
  2. Mau’izhah hasanah (nasihat yang baik) – memberikan nasihat yang menyentuh hati, bukan menyakiti.
  3. Mujadalah billati hiya ahsan (dialog dengan cara terbaik) – berdiskusi dengan adab dan argumentasi yang santun.

Ini menunjukkan bahwa cara penyampaian sama pentingnya dengan isi pesan.

Makna Hikmah dalam Dakwah

Hikmah bukan sekadar pintar berbicara. Hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks dakwah, hikmah berarti:

  • Memahami karakter mad’u (orang yang diajak)
  • Menyesuaikan bahasa dengan tingkat pemahaman audiens
  • Memilih waktu dan cara yang tepat
  • Tidak memaksakan kehendak

Dakwah yang berhikmah mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan budaya. Apa yang tepat disampaikan di satu tempat belum tentu tepat di tempat lain.

Akhlak Mulia sebagai Kunci Keberhasilan Dakwah

Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam berdakwah. Keberhasilan beliau bukan hanya karena kebenaran risalah yang dibawa, tetapi juga karena keluhuran akhlaknya.

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Bahkan dalam ayat lain disebutkan bahwa kelembutan Rasulullah menjadi sebab orang-orang tetap berada di sekitarnya:

“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menjadi pelajaran besar: kekerasan dan sikap kasar hanya akan menjauhkan manusia dari dakwah.

Tantangan Dakwah di Era Digital

Media sosial membuka ruang dakwah yang sangat luas. Namun, ia juga menghadirkan tantangan besar. Dakwah sering berubah menjadi ajang saling menyalahkan, mempermalukan, bahkan menyerang pribadi.

Beberapa tantangan yang sering muncul:

  • Budaya debat tanpa adab
  • Mudah menghakimi dan memberi label
  • Penyebaran potongan ceramah tanpa konteks
  • Dakwah yang lebih menonjolkan sensasi daripada substansi

Dalam kondisi ini, dakwah dengan hikmah dan akhlak mulia menjadi semakin penting. Seorang da’i harus mampu menahan emosi, menjaga lisan (atau tulisan), serta memastikan pesan yang disampaikan membawa maslahat.

Prinsip-Prinsip Dakwah yang Bijak

Agar dakwah tetap berada di jalur hikmah dan akhlak mulia, ada beberapa prinsip yang perlu dijaga:

  1. Niat yang lurus

Dakwah bukan untuk popularitas, tetapi untuk mencari ridha Allah.

  1. Mengedepankan kasih saying

Tujuan dakwah adalah menyelamatkan, bukan menghakimi.

  1. Menghindari sikap merasa paling benar

Rendah hati membuka pintu dialog.

  1. Fokus pada solusi, bukan hanya kritik

Dakwah harus memberi harapan dan jalan keluar.

 

  1. Menjadi teladan sebelum berbicara

Akhlak adalah dakwah yang paling kuat.

Dakwah melalui Keteladanan

Sering kali, dakwah yang paling efektif bukan melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku. Kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi masalah, dan kepedulian terhadap sesama adalah bentuk dakwah yang nyata.

Banyak orang tertarik kepada Islam bukan karena perdebatan teologis, tetapi karena melihat akhlak seorang Muslim yang baik. Inilah yang disebut sebagai dakwah bil hal — dakwah melalui tindakan.

Penutup

Dakwah adalah amanah mulia yang harus dijalankan dengan cara yang mulia pula.

Tags:

Komentar Pengguna