Keboncinta.com-- Pendidikan dan anak muda adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Di tangan merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Menariknya, jauh sebelum istilah generasi emas ramai dibicarakan, Ir. Soekarno sudah lebih dulu menaruh harapan besar pada anak muda melalui pendidikan.
Bukan sekadar sekolah dan gelar, Bung Karno memandang pendidikan sebagai alat pembebasan cara untuk membentuk manusia merdeka, berpikir kritis, dan berani menentukan arah hidupnya sendiri.
Pendidikan Bukan Sekadar Duduk di Bangku Sekolah
Salah satu pandangan Soekarno yang terasa relevan hingga kini adalah bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada hafalan dan angka rapor. Ia percaya, pendidikan sejati adalah yang membangun kesadaran dan karakter.
Dalam banyak pidatonya, Soekarno menekankan bahwa anak muda harus dididik agar:
• Berani berpikir
• Mampu berdiri di atas kaki sendiri
• Tidak mudah tunduk pada ketidakadilan
Pendidikan, bagi Soekarno, adalah proses membentuk manusia yang utuh.
“Pemuda Hari Ini adalah Pemimpin Hari Esok”
Kutipan ini terasa sederhana, tetapi maknanya besar. Bung Karno mengingatkan bahwa apa yang dipelajari anak muda hari ini akan menentukan keputusan yang mereka ambil di masa depan.
Di tengah sistem pendidikan yang sering berorientasi pada nilai dan ijazah, kutipan ini mengajak anak muda untuk bertanya: untuk apa aku belajar?
Bukan sekadar lulus, tetapi siap memimpin diri sendiri dan lingkungan.
Pendidikan Harus Membebaskan, Bukan Menjinakkan
Soekarno pernah mengkritik pendidikan yang hanya mencetak manusia patuh tanpa daya kritis. Ia ingin pendidikan melahirkan generasi yang berani bertanya, bahkan berani berbeda.
Pesan ini sangat relate dengan kondisi hari ini, ketika anak muda:
• Takut salah
• Takut dianggap beda
• Takut mengemukakan pendapat
Padahal, dari keberanian berpikirlah perubahan lahir.
“Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia”
Kutipan legendaris ini bukan semata tentang jumlah, tetapi tentang kualitas pendidikan dan kesadaran. Sepuluh pemuda yang terdidik dengan baik secara intelektual dan moral lebih berharga daripada seribu orang tanpa arah.
Ini menjadi pengingat bahwa pendidikan anak muda bukan soal kuantitas lulusan, melainkan kualitas pemikirannya.
Anak Muda, Pendidikan, dan Tantangan Zaman
Hari ini, anak muda menghadapi tantangan yang berbeda dari era Soekarno:
• Banjir informasi
• Tekanan sosial media
• Persaingan global
Namun, esensinya tetap sama. Pendidikan harus membuat anak muda tangguh, kritis, dan berakar pada nilai.
Kutipan-kutipan Soekarno seakan menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh menjauhkan anak muda dari realitas sosialnya sendiri.
Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian
Bagi Bung Karno, puncak pendidikan bukanlah kesuksesan pribadi, melainkan pengabdian pada masyarakat. Ilmu yang dimiliki anak muda seharusnya kembali kepada rakyat, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Pesan ini terasa menampar sekaligus menyadarkan, terutama di era ketika kesuksesan sering diukur dari materi semata.
Mengapa Kutipan Soekarno Masih Relevan?
Karena Bung Karno tidak berbicara tentang zamannya saja. Ia berbicara tentang manusia dan masa depan. Selama anak muda masih belajar, mencari jati diri, dan bermimpi mengubah dunia, kata-katanya akan terus menemukan tempat.
Pendidikan adalah Tanggung Jawab Generasi Muda
Akhirnya, pendidikan bukan hanya tugas sekolah atau negara. Ia adalah tanggung jawab anak muda itu sendiri. Seperti yang diyakini Soekarno, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang dipelihara lewat pendidikan.
Dan mungkin, di tengah segala keterbatasan tentang hari ini, satu hal yang tetap bisa dilakukan anak muda adalah: terus belajar, terus berpikir, dan terus peduli.