Pendidikan
Hilmi An Naufal

Video Edukasi Bisa Mengubah Waktu Menonton Anak Menjadi Kegiatan Belajar

Video Edukasi Bisa Mengubah Waktu Menonton Anak Menjadi Kegiatan Belajar

01 Agustus 2026 | 08:02

JAKARTA — Anak-anak semakin terbiasa menggunakan telepon pintar, tablet, dan perangkat digital untuk menonton video. Namun, tidak semua tayangan yang mereka akses memberikan manfaat pendidikan atau sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Karena itu, orang tua dan guru perlu membantu memilih konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengenalkan pengetahuan, melatih kemampuan berpikir, serta menyampaikan nilai-nilai positif.

Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah koleksi Video Anak dan Video Dongeng dalam menu Dunia Anak di aplikasi Kipin School 4.0. Konten tersebut dirancang untuk menyampaikan pembelajaran melalui gambar, suara, cerita, dan aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan anak.

Anak membutuhkan pendampingan saat menonton

Perangkat digital dapat menjadi sarana belajar apabila digunakan secara terarah. Sebaliknya, anak berpotensi menghabiskan banyak waktu untuk menonton hiburan apabila tidak mendapatkan batasan dan pendampingan.

Orang tua tidak cukup hanya memberikan perangkat kepada anak. Mereka juga perlu mengetahui tayangan yang sedang ditonton, memahami isi pesannya, dan memastikan konten tersebut sesuai dengan usia.

Pendampingan dapat dilakukan dengan menemani anak menonton, memberikan pertanyaan sederhana, atau mengajak anak menceritakan kembali isi video.

Cara tersebut membuat kegiatan menonton menjadi lebih aktif. Anak tidak hanya menerima gambar dan suara, tetapi juga belajar memperhatikan informasi, memahami cerita, serta menyampaikan kembali apa yang telah dilihatnya.

Video Anak mengenalkan pengetahuan sehari-hari

Koleksi Video Anak Kipin menyajikan pengetahuan umum yang dekat dengan lingkungan anak. Materinya antara lain mengenal alat komunikasi, anggota tubuh, warna, lingkungan, suara hewan, dan kehidupan hewan laut.

Tersedia pula kegiatan interaktif seperti menyambungkan titik, mencari perbedaan gambar, dan mengenali berbagai jenis hewan. Kipin menyediakan lebih dari 30 konten dalam kategori tersebut.

Materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat memudahkan anak menghubungkan tayangan dengan benda atau pengalaman yang mereka temui.

Setelah menonton video mengenai warna, misalnya, anak dapat diminta mencari benda berwarna serupa di rumah. Setelah menonton materi mengenai anggota tubuh, orang tua dapat mengajak anak menunjukkan bagian tubuh yang disebutkan.

Kegiatan lanjutan tersebut membantu memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti ketika video selesai diputar.

Dongeng menyampaikan nilai melalui cerita

Selain pengetahuan umum, menu Dunia Anak juga menyediakan lebih dari 40 Video Dongeng. Ceritanya mengangkat berbagai situasi yang dapat ditemui anak dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa judul yang tersedia antara lain Aku Benci Matematika, Baju Baru, dan Perasaan Bersalah. Melalui pengalaman para tokohnya, anak diperkenalkan pada nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan keberanian mengakui kesalahan.

Dongeng dapat membantu menyampaikan pesan tanpa membuat anak merasa sedang menerima ceramah. Mereka mengikuti masalah yang dihadapi tokoh, melihat akibat dari sebuah tindakan, kemudian memahami cara tokoh tersebut menyelesaikan persoalannya.

Setelah menonton, orang tua atau guru dapat mengajak anak berdiskusi menggunakan pertanyaan seperti:

  • Mengapa tokoh tersebut merasa sedih?

  • Tindakan mana yang sebaiknya tidak dilakukan?

  • Apa yang akan kamu lakukan dalam situasi yang sama?

  • Pesan apa yang kamu dapatkan dari cerita?

Pertanyaan semacam itu membantu anak mengenali emosi, memahami hubungan sebab dan akibat, serta belajar melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Tampilan audio visual membuat materi lebih menarik

Video pendidikan memadukan ilustrasi, suara, gerakan, warna, dan alur cerita. Kombinasi tersebut dapat membuat materi terasa lebih menarik dibandingkan penjelasan satu arah.

Dalam Video Anak, unsur visual digunakan untuk memperkenalkan benda dan pengetahuan dasar. Sementara itu, Video Dongeng menggunakan tokoh dan konflik cerita untuk menyampaikan pesan moral.

Namun, tampilan yang menarik tetap perlu diikuti dengan isi yang tepat. Orang tua sebaiknya tidak hanya menilai video berdasarkan gambar dan musiknya, tetapi juga memperhatikan bahasa, pesan, contoh perilaku, serta kesesuaiannya dengan usia anak.

Video yang baik seharusnya tidak sekadar membuat anak diam di depan layar. Konten tersebut perlu memberikan kesempatan untuk berpikir, menjawab, meniru aktivitas positif, atau melakukan kegiatan setelah menonton.

Belajar tidak harus terasa seperti pelajaran formal

Anak dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang menyenangkan. Belajar tidak selalu harus dilakukan dengan membaca buku pelajaran, mengerjakan soal, atau duduk dalam waktu lama.

Video dapat digunakan sebagai pembuka sebelum kegiatan lain. Misalnya, tayangan mengenai hewan laut dapat dilanjutkan dengan menggambar ikan, mengenal nama hewan, atau membuat cerita sederhana tentang kehidupan di laut.

Dongeng mengenai tanggung jawab dapat dilanjutkan dengan mengajak anak merapikan mainan. Cerita mengenai perasaan bersalah dapat menjadi awal percakapan tentang pentingnya meminta maaf.

Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya mengetahui sebuah konsep, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua tetap perlu mengatur waktu layar

Walaupun tayangan yang dipilih bersifat edukatif, penggunaan perangkat tetap perlu diatur. Konten pendidikan bukan alasan untuk membiarkan anak terus berada di depan layar sepanjang hari.

Waktu menonton perlu diseimbangkan dengan aktivitas lain, seperti bermain secara langsung, membaca buku, menggambar, berolahraga, membantu pekerjaan sederhana, dan berinteraksi dengan keluarga.

Orang tua dapat membuat jadwal yang jelas mengenai kapan anak boleh menggunakan perangkat.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna