KUPANG — Universitas Nusa Cendana atau Undana membantah informasi yang menyebut seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat mengalami pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali.
Wakil Rektor IV Undana Philiphi de Rozari menjelaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak menggambarkan proses akademik yang sebenarnya. Menurut pihak kampus, yang terjadi adalah beberapa penyesuaian jadwal dalam tahapan seminar proposal dan seminar hasil, bukan pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah narasi mengenai kendala tugas akhir seorang mahasiswi Undana menjadi perhatian publik. Sebelumnya, sebuah video beredar dengan keterangan bahwa mahasiswi tersebut berulang kali mengalami pembatalan jadwal akademik hingga memengaruhi kondisinya.
Philiphi menegaskan bahwa narasi mengenai pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali tidak benar. Kampus juga menyatakan bahwa unggahan yang beredar bukan dibuat oleh mahasiswi yang bersangkutan.
Undana memilih tidak membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Kampus lebih mengutamakan klarifikasi dan meminta masyarakat berhati-hati ketika menerima informasi yang belum melalui proses verifikasi.
Langkah itu diambil agar proses akademik dan pemulihan mahasiswi dapat berjalan tanpa tambahan tekanan akibat perdebatan di media sosial.
Pihak Undana menjelaskan bahwa penyelenggaraan seminar dan tahapan tugas akhir melibatkan mahasiswa, dosen pembimbing, dosen penguji, serta pengelola program studi.
Perubahan jadwal dapat terjadi ketika salah satu pihak berhalangan. Dosen penguji atau pembimbing mungkin memiliki tugas akademik lain, sedangkan mahasiswa juga dapat mengalami kendala kesehatan maupun persoalan teknis.
Karena melibatkan beberapa pihak, keterlambatan dalam penyelesaian tahapan tugas akhir tidak selalu dapat dibebankan kepada satu orang. Undana menyebut rangkaian penyesuaian tersebut merupakan akumulasi dari sejumlah keadaan selama proses akademik berlangsung.
Kampus juga menyoroti perbedaan antara seminar proposal, seminar hasil, dan ujian skripsi.
Seminar proposal dilakukan untuk membahas rencana penelitian sebelum mahasiswa menjalankan penelitian secara penuh. Setelah penelitian selesai, mahasiswa biasanya mengikuti seminar hasil untuk mempresentasikan temuan dan memperoleh masukan.
Adapun ujian skripsi merupakan tahapan akhir untuk mempertanggungjawabkan penelitian yang telah disusun. Karena setiap tahapan memiliki tujuan dan jadwal berbeda, perubahan jadwal seminar tidak semestinya langsung disebut sebagai pembatalan ujian skripsi.
Dalam klarifikasinya, Undana menegaskan bahwa penyesuaian yang terjadi berkaitan dengan seminar proposal dan seminar hasil.
Sebelum menyampaikan klarifikasi terbaru, pimpinan Undana telah menyatakan akan menelusuri persoalan tersebut.
Kampus sempat mengadakan koordinasi setelah video mahasiswi menjadi viral. Undana juga membuka kemungkinan memberikan tindakan sesuai ketentuan apabila pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran dari dosen maupun mahasiswa.
Penelusuran diperlukan karena informasi yang beredar di media sosial memuat berbagai klaim mengenai perubahan dosen penguji, pembatalan jadwal, serta kondisi mahasiswi.
Pada tahap awal, pihak kampus meminta publik menunggu hasil pemeriksaan agar kesimpulan tidak hanya didasarkan pada potongan video dan narasi dari pihak yang belum terverifikasi.
Dalam keterangan terbarunya, pihak Undana menyampaikan bahwa mahasiswi tersebut telah kembali ke rumah dan sedang menjalani masa pemulihan.
Kampus berharap kondisi mahasiswi terus membaik sehingga ia dapat melanjutkan proses pendidikan dan menyelesaikan studinya.
Sebelumnya, mahasiswi tersebut sempat memperoleh perawatan di salah satu rumah sakit di Kupang. Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Johni Asadoma juga sempat menjenguk dan menyatakan kondisinya menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Informasi mengenai kondisi pribadi mahasiswa sebaiknya disampaikan secara hati-hati. Penjelasan medis idealnya berasal dari tenaga kesehatan yang berwenang dan disampaikan dengan tetap melindungi privasi orang yang bersangkutan.
Peristiwa ini menjadi pengingat mengenai pentingnya komunikasi yang jelas dalam proses penyelesaian tugas akhir.
Perubahan jadwal sebaiknya disampaikan secara tertulis dan sedini mungkin. Mahasiswa perlu memperoleh penjelasan mengenai alasan perubahan, jadwal pengganti, susunan dosen penguji, serta tahapan yang masih harus diselesaikan.
Kampus juga perlu menyediakan jalur pengaduan yang mudah diakses ketika mahasiswa menghadapi kendala komunikasi dengan pembimbing, penguji, maupun pengelola program studi.
Mekanisme tersebut dapat membantu persoalan diselesaikan secara internal sebelum berkembang menjadi konflik terbuka di media sosial.
Mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir sebaiknya menyimpan bukti persetujuan dosen, jadwal seminar, surat undangan, hasil bimbingan, dan percakapan akademik yang berkaitan dengan proses penelitian.
Dokumen tersebut dapat digunakan untuk mengklarifikasi persoalan apabila terjadi perbedaan informasi antara mahasiswa, dosen, dan program studi.
Komunikasi sebaiknya dilakukan menggunakan bahasa yang sopan serta melalui saluran resmi kampus. Apabila masalah tidak dapat diselesaikan bersama pembimbing, mahasiswa dapat meminta bantuan ketua program studi, dekanat, unit layanan mahasiswa, atau pimpinan universitas.
Klarifikasi Undana menunjukkan bahwa narasi yang viral belum tentu menggambarkan seluruh rangkaian peristiwa.
Video singkat biasanya hanya memperlihatkan sebagian situasi. Informasi mengenai penyebab kejadian, jumlah perubahan jadwal, jenis ujian, dan pihak yang bertanggung jawab membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Masyarakat sebaiknya membandingkan informasi dengan keterangan kampus, mahasiswa, dokumen akademik, dan pihak lain yang terlibat sebelum menarik kesimpulan.
Kehati-hatian semakin penting ketika sebuah unggahan memuat identitas, kondisi kesehatan, atau tuduhan terhadap individu tertentu.
Setelah klarifikasi disampaikan, perhatian berikutnya perlu diarahkan pada penyelesaian proses akademik mahasiswi tersebut.
Kampus diharapkan memastikan jadwal, pembimbingan, serta tahapan tugas akhir dapat dilanjutkan secara jelas. Mahasiswi juga perlu mendapatkan ruang untuk memulihkan kondisi tanpa tekanan publik yang berlebihan.
Kasus ini tidak hanya berkaitan dengan benar atau salahnya sebuah unggahan. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan pentingnya pelayanan akademik yang transparan, komunikasi yang manusiawi, serta penyelesaian masalah yang melindungi semua pihak.
Undana telah membantah klaim pembatalan ujian skripsi sebanyak 12 kali dan menyebutnya sebagai informasi yang tidak benar. Kampus menyatakan yang terjadi adalah penyesuaian beberapa jadwal seminar dalam rangkaian penyelesaian tugas akhir.
Sumber informasi: detikBali dan keterangan Universitas Nusa Cendana yang dimuat media. Artikel ditulis menggunakan judul, struktur, sudut pembahasan, dan susunan kalimat baru.