Keboncinta.com-- Persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 bagi siswa SMA, SMK, dan sederajat perlu dilakukan dengan strategi yang berbeda. Pemerintah melakukan sejumlah penyesuaian terhadap pelaksanaan asesmen setelah mengevaluasi hasil TKA tahun sebelumnya.
Salah satu perubahan yang paling menarik perhatian terdapat pada mata pelajaran Matematika. Jumlah soal dikurangi dan waktu pengerjaan dibuat lebih proporsional. Namun, perubahan tersebut bukan berarti materi yang diujikan menjadi lebih mudah.
Justru, hasil evaluasi menunjukkan masih ada sejumlah materi Matematika yang menjadi tantangan besar bagi peserta. Karena itu, siswa perlu mengetahui bagian mana yang paling sulit agar waktu belajar dapat diarahkan secara lebih efektif.
Baca Juga: Beasiswa BPI GTK 2026 Bisa Dicabut! Ini Penyebab Penghentian Beasiswa yang Wajib Diketahui Penerima
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan penyempurnaan terhadap format TKA Matematika sebagai tindak lanjut dari evaluasi pelaksanaan asesmen sebelumnya.
Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara tingkat kesulitan soal dan waktu yang tersedia. Pemerintah ingin memberikan ruang yang lebih memadai kepada siswa untuk membaca, memahami, menganalisis, serta menyelesaikan soal yang membutuhkan penalaran.
Dengan format tersebut, hasil TKA diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kemampuan akademik peserta didik.
Salah satu perubahan penting dalam TKA Matematika 2026 adalah jumlah soal yang dikurangi menjadi 25 butir.
Sementara itu, peserta mendapatkan waktu pengerjaan selama 75 menit. Dengan demikian, secara rata-rata siswa memiliki waktu sekitar tiga menit untuk mengerjakan setiap soal.
Penyesuaian ini diharapkan membuat peserta tidak terlalu terburu-buru ketika menghadapi soal yang membutuhkan beberapa tahap analisis. Siswa juga memiliki kesempatan lebih baik untuk mencermati informasi dan menentukan metode penyelesaian yang paling tepat.
Meskipun format asesmen terus diperbaiki, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan Matematika peserta masih menjadi pekerjaan rumah.
Data yang dihimpun dari 3.464.569 peserta TKA menunjukkan capaian Matematika siswa SMA dan SMK masih relatif rendah. Rata-rata capaian nasional bahkan disebut belum mencapai 31 persen.
Analisis Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) menunjukkan bahwa salah satu kendala peserta adalah memahami konsep matematika ketika diterapkan dalam persoalan kontekstual.
Artinya, siswa tidak cukup hanya menghafal rumus. Mereka juga harus mampu memahami informasi, menemukan hubungan antarvariabel, kemudian menentukan langkah penyelesaian berdasarkan konteks soal.
Hasil evaluasi juga menunjukkan adanya tiga materi yang memiliki tingkat penguasaan paling rendah. Ketiga materi ini layak mendapat perhatian lebih bagi siswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi TKA Matematika 2026.
Materi pertama yang paling banyak menyulitkan peserta adalah peluang kejadian majemuk.
Tingkat penguasaannya tercatat sekitar 14,71 persen. Kesulitan umumnya muncul ketika siswa harus menerapkan konsep peluang dalam bentuk persoalan cerita atau situasi kehidupan sehari-hari.
Soal tidak selalu disajikan dalam bentuk rumus secara langsung. Peserta harus terlebih dahulu memahami informasi yang diberikan, menentukan kejadian yang dimaksud, kemudian memilih konsep peluang yang sesuai.
Karena itu, latihan soal berbasis kasus menjadi penting agar siswa terbiasa menerjemahkan permasalahan ke dalam bentuk matematika.
Baca Juga: Jadwal Beasiswa BPI GTK 2026 Lengkap! Catat Seluruh Tahapan Seleksi agar Tidak Terlewat
Materi berikutnya adalah barisan dan deret geometri dengan tingkat penguasaan sekitar 16,14 persen.
Kesulitan yang sering muncul berkaitan dengan kemampuan peserta mengenali pola dan menentukan rasio dalam suatu barisan.
Siswa perlu memahami perbedaan antara barisan dan deret serta mengetahui bagaimana pola perkalian atau pembagian digunakan untuk menemukan suku maupun jumlah tertentu.
Pemahaman konsep akan jauh lebih membantu dibandingkan sekadar menghafalkan rumus.
Materi ketiga yang juga memiliki tingkat penguasaan rendah adalah transformasi geometri, dengan capaian sekitar 18,28 persen.
Materi ini mencakup berbagai konsep seperti translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi.
Kesulitan biasanya meningkat ketika beberapa jenis transformasi harus diterapkan secara bersamaan dalam satu persoalan. Peserta dituntut memahami perubahan posisi, arah, ukuran, maupun koordinat suatu objek.
Untuk menguasai materi ini, siswa dapat menggunakan gambar atau membuat sketsa sehingga proses perubahan objek lebih mudah dipahami secara visual.
Baca Juga: Cara Daftar Beasiswa BPI GTK 2026 Secara Online, Simak Tahapan Pendaftaran hingga Lolos Seleksi
Perubahan karakter soal TKA membuat strategi belajar juga perlu disesuaikan.
Menghafalkan berbagai rumus memang tetap diperlukan, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya modal untuk mendapatkan hasil yang baik.