Keboncinta.com-- Kabar menggembirakan datang bagi siswa SMA, SMK, dan sederajat yang akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Setelah banyak peserta mengeluhkan padatnya soal Matematika serta keterbatasan waktu pengerjaan pada pelaksanaan sebelumnya, pemerintah akhirnya mengambil langkah evaluasi besar.
Melalui kebijakan terbaru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi melakukan perubahan penting pada skema TKA 2026, khususnya untuk mata pelajaran Matematika wajib.
Jumlah soal kini dikurangi, namun durasi pengerjaan tetap dipertahankan agar peserta memiliki waktu berpikir yang lebih memadai.
Perubahan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai memperhatikan pengalaman peserta selama ujian, bukan hanya fokus pada hasil akhir semata.
Jumlah Soal Matematika TKA 2026 Resmi Dikurangi
Dalam pelaksanaan TKA 2025, peserta SMA dan SMK diharuskan menyelesaikan 30 soal Matematika wajib hanya dalam waktu 75 menit.
Skema tersebut memicu banyak keluhan dari siswa karena dinilai terlalu padat, terutama untuk soal-soal yang membutuhkan analisis dan perhitungan mendalam.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, pemerintah akhirnya memutuskan melakukan penyesuaian pada TKA 2026.
Kini, jumlah soal Matematika wajib resmi dikurangi dari 30 menjadi 25 soal, sementara waktu pengerjaan tetap 75 menit.
Dengan perubahan tersebut, peserta diperkirakan memiliki waktu sekitar tiga menit untuk setiap soal, sehingga dapat lebih fokus memahami pertanyaan dan menyusun jawaban tanpa tekanan waktu berlebihan.
Baca Juga: Tak Perlu Antre Lagi! Hubaso Hadirkan Cara Baru Pesan Bakso yang Lebih Praktis dan Modern
Kemendikdasmen Akui Banyak Siswa Mengeluh Soal Waktu
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah pemerintah menerima berbagai masukan langsung dari peserta didik.
Menurutnya, banyak siswa merasa kesulitan membagi waktu saat mengerjakan soal Matematika pada pelaksanaan sebelumnya. Tidak sedikit peserta yang merasa terburu-buru sehingga kesulitan menunjukkan kemampuan akademik secara maksimal.
Karena itu, evaluasi dilakukan untuk menciptakan sistem ujian yang dinilai lebih realistis dan manusiawi bagi siswa.
Pemerintah berharap kebijakan ini dapat membantu peserta lebih tenang saat menghadapi ujian sekaligus meningkatkan kualitas hasil asesmen.
Matematika Wajib Digelar Hari Ketiga Bersama Numerasi
Selain perubahan jumlah soal, Kemendikdasmen juga menetapkan jadwal pelaksanaan Matematika wajib dalam skema baru TKA 2026.
Mata pelajaran ini dijadwalkan berlangsung pada hari ketiga pelaksanaan ujian, bersamaan dengan asesmen numerasi.
Durasi pengerjaan keseluruhan tetap ditetapkan selama 75 menit, namun format baru diharapkan memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk berpikir kritis dan menganalisis soal secara mendalam.
Perubahan ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menciptakan ritme ujian yang lebih seimbang dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Didiskualifikasi Saat UTBK SNBT 2026, Masih Bisa Masuk PTN? Ternyata Ini Penjelasannya
Materi Ujian Dibatasi Sampai Semester 5
Tak hanya jumlah soal yang berubah, pemerintah juga memastikan adanya penyesuaian pada cakupan materi ujian.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa materi TKA 2026 hanya akan diambil hingga pertengahan semester lima SMA/SMK.
Artinya, materi pelajaran semester akhir tidak akan diujikan dalam asesmen.
Kebijakan ini dinilai dapat membantu siswa menyusun strategi belajar yang lebih terarah karena ruang lingkup materi menjadi lebih jelas dan terukur.
Dengan demikian, peserta tidak perlu merasa terbebani mempelajari seluruh materi hingga akhir masa sekolah sebelum mengikuti ujian.
Perubahan format TKA 2026 dinilai sebagai langkah adaptif pemerintah terhadap kondisi nyata di lapangan.
Sebab, sistem evaluasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga pengalaman belajar dan kondisi psikologis siswa selama mengikuti ujian.
Baca Juga: TKA 2026 Resmi Berubah! Siswa SMA dan SMK Kini Tak Lagi Ujian 3 Mata Pelajaran dalam Sehari
Melalui pengurangan jumlah soal Matematika, pemerintah ingin menciptakan suasana tes yang lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas pengukuran kompetensi akademik peserta.
Harapannya, siswa tidak lagi mengalami tekanan berlebihan seperti sebelumnya ketika harus berpacu menyelesaikan puluhan soal dalam waktu terbatas.
Dengan waktu berpikir yang lebih proporsional, peserta diharapkan dapat menunjukkan kemampuan terbaik mereka secara maksimal.***