Keboncinta.com-- Pernahkah kamu berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, lalu tanpa sadar satu jam berlalu begitu saja? Awalnya mungkin hanya ingin melihat kabar terbaru atau mencari informasi ringan. Namun entah bagaimana, jari terus bergerak menelusuri berita tentang konflik, bencana, krisis ekonomi, hingga berbagai hal yang memicu kecemasan. Anehnya, meski informasi yang dibaca membuat perasaan tidak nyaman, kita tetap melanjutkan scroll berikutnya. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi kabar negatif secara berlebihan tanpa benar-benar bisa berhenti.
Sekilas, perilaku ini terdengar tidak masuk akal. Mengapa seseorang terus mencari informasi yang justru membuatnya cemas? Jawabannya berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Sejak zaman dahulu, manusia lebih peka terhadap ancaman dibandingkan kabar baik. Informasi tentang bahaya dianggap penting untuk bertahan hidup, sehingga otak secara alami memberikan perhatian lebih besar pada hal-hal negatif. Di era digital, naluri tersebut bertemu dengan aliran informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap kali muncul berita baru yang mengkhawatirkan, otak merasa perlu mengetahui lebih banyak agar tetap merasa aman dan siap menghadapi kemungkinan terburuk. Akibatnya, muncul dorongan untuk terus membaca, meskipun informasi tambahan itu tidak selalu memberikan solusi.
Yang sering tidak disadari, doomscrolling bukan hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga cara kita memandang dunia. Ketika sebagian besar informasi yang kita konsumsi berisi kabar buruk, dunia dapat terasa jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya. Kita menjadi lebih mudah khawatir, lebih cepat lelah secara mental, bahkan kehilangan energi untuk menikmati hal-hal sederhana di sekitar. Padahal, kenyataan hidup tidak hanya berisi tragedi dan konflik. Ada banyak cerita tentang kreativitas, kepedulian, kemajuan, dan harapan yang sering tenggelam di antara derasnya berita negatif. Ketika perhatian kita terus tersedot pada sisi gelap informasi, keseimbangan cara pandang terhadap kehidupan perlahan ikut terganggu.
Bukan berarti kita harus menutup mata dari realitas atau menghindari berita sama sekali. Informasi tetap penting, terutama untuk memahami dunia yang terus berubah. Namun ada perbedaan antara mencari informasi dan terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tidak berujung.