KebonCinta.com – Jika dilihat dari permukaan, Bumi tampak seperti tempat yang kokoh dan tidak banyak berubah. Kita berdiri di atas tanah yang sama, melihat pegunungan yang tampak diam, serta menjalani aktivitas sehari-hari tanpa menyadari bahwa bagian luar planet ini sebenarnya terus bergerak.
Gerakan tersebut berlangsung sangat lambat, bahkan hanya beberapa sentimeter dalam setahun. Namun, dalam skala jutaan tahun, pergerakan itu mampu mengubah bentuk permukaan Bumi, membentuk pegunungan, membuka lautan, memicu gempa bumi, hingga berperan dalam aktivitas gunung berapi.
Kunci untuk memahami fenomena tersebut berada pada litosfer dan lempeng tektonik.
Litosfer merupakan lapisan terluar Bumi yang bersifat padat dan mencakup kerak serta bagian paling atas mantel. Lapisan ini tidak berupa satu bagian utuh, melainkan terpecah menjadi sejumlah lempeng berukuran besar dan kecil.
Lempeng-lempeng tersebut dikenal sebagai lempeng tektonik atau lempeng litosfer.
Ukurannya sangat beragam. Ada lempeng yang membentang hingga ribuan kilometer dan mencakup wilayah daratan maupun dasar samudra.
Di bawah litosfer terdapat lapisan yang disebut astenosfer. Dalam rentang waktu geologi yang sangat panjang, material mantel di wilayah ini dapat mengalir secara perlahan sehingga memungkinkan lempeng di atasnya bergerak.
Jadi, ketika dikatakan Bumi bergerak, bukan berarti seluruh planet bergeser seperti benda yang sedang berjalan.
Yang mengalami pergerakan utama adalah lempeng-lempeng kaku yang membentuk bagian luar Bumi.
Pergerakan lempeng tektonik sebenarnya sangat lambat jika dibandingkan dengan aktivitas manusia.
Menurut USGS, kecepatan pergerakan lempeng dapat berkisar dari kurang dari 1 hingga lebih dari 15 sentimeter per tahun. Kecepatannya kurang lebih dapat dibandingkan dengan pertumbuhan kuku manusia.
Karena bergerak begitu lambat, manusia tidak dapat merasakannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Masalah muncul ketika pergerakan tersebut menghasilkan tekanan yang terus menumpuk pada batas lempeng atau patahan batuan.
Dalam kondisi tertentu, tekanan yang telah tersimpan dapat dilepaskan secara tiba-tiba.
Saat itulah gempa bumi dapat terjadi.
Lempeng tektonik tidak bergerak dengan pola yang sama. Ada yang saling menjauh, bertabrakan, dan ada pula yang bergeser mendatar.
Secara umum, ilmuwan mengenal tiga jenis batas lempeng utama.
Pada batas divergen, dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain.
Ketika celah terbentuk, material dari bagian dalam Bumi dapat naik dan membentuk kerak baru. Proses seperti ini banyak terjadi di dasar laut pada kawasan pemekaran lantai samudra.
Pergerakan tersebut secara perlahan dapat memperlebar wilayah samudra.
Prosesnya berlangsung dalam waktu yang sangat panjang sehingga tidak terlihat secara kasatmata dalam kehidupan manusia.
Jenis kedua disebut batas konvergen.
Pada kondisi ini, dua lempeng bergerak saling mendekat. Jika salah satunya merupakan lempeng samudra yang lebih padat, lempeng tersebut dapat menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses ini dikenal sebagai subduksi.
Zona subduksi merupakan salah satu wilayah yang sangat aktif secara geologi.
Pergerakan dan interaksi lempeng di kawasan tersebut dapat menghasilkan gempa bumi dan aktivitas vulkanik.
Jika dua lempeng benua bertemu, situasinya berbeda. Karena keduanya relatif ringan, kerak dapat mengalami tekanan, melipat, dan terdorong ke atas dalam waktu yang sangat lama.
Pegunungan Himalaya merupakan salah satu contoh hasil tumbukan lempeng benua. Pegunungan tersebut terbentuk akibat pergerakan Lempeng India yang bertumbukan dengan Lempeng Eurasia.
Ada pula batas transform, ketika dua lempeng bergerak melewati satu sama lain secara horizontal.
Pada kondisi ini, tidak ada kerak baru yang secara langsung dibuat atau dihancurkan seperti pada dua tipe batas sebelumnya.
Namun, gesekan antara kedua lempeng dapat menyebabkan tekanan menumpuk di sepanjang patahan.
Jika tekanan tersebut akhirnya mengalahkan gaya yang menahan batuan tetap terkunci, terjadi pelepasan energi yang menghasilkan gempa bumi.
Gempa bumi tidak terjadi hanya karena lempeng bergerak.
Persoalannya adalah bagaimana pergerakan tersebut terjadi pada patahan.
Bayangkan dua permukaan kasar yang saling menekan. Meskipun terdapat gaya yang mendorong keduanya bergerak, gesekan dapat membuat keduanya tetap terkunci untuk sementara.
Hal serupa dapat terjadi pada batuan di sepanjang patahan.
Lempeng terus bergerak, tetapi bagian tertentu pada batasnya dapat tertahan. Akibatnya, energi dan tekanan terus terakumulasi.
Ketika tekanan yang bekerja akhirnya melampaui kekuatan gesekan, bagian patahan tersebut dapat tiba-tiba bergeser.
Energi kemudian dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik yang merambat melalui Bumi dan dirasakan sebagai gempa.
Itulah sebabnya gempa sering terkonsentrasi di sekitar batas lempeng.
Hubungan antara lempeng tektonik dan gunung berapi juga sangat erat.
Salah satu contohnya terdapat pada zona subduksi.
Ketika lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng lain, material dan air yang terbawa ke kedalaman dapat berkontribusi terhadap proses pelelehan batuan di atas lempeng yang menunjam. Magma yang terbentuk kemudian dapat bergerak ke atas dan pada kondisi tertentu mencapai permukaan.
Ketika magma keluar ke permukaan, terjadilah aktivitas vulkanik.
Material yang keluar dapat berupa lava, abu vulkanik, gas, dan material vulkanik lainnya.
Dalam waktu yang sangat panjang, material hasil letusan dapat menumpuk dan membentuk gunung berapi.
Itulah sebabnya banyak gunung berapi ditemukan di sekitar batas lempeng tektonik.
Fenomena tersebut sangat relevan bagi Indonesia.
Kepulauan Indonesia berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik dan termasuk bagian dari wilayah yang memiliki aktivitas seismik dan vulkanik tinggi.
USGS mencatat bahwa sabuk gempa Alpide membentang dari Jawa dan Sumatra melalui Himalaya hingga kawasan Mediterania. Sementara itu, kawasan sekitar Samudra Pasifik dikenal sebagai Cincin Api atau Ring of Fire, salah satu wilayah utama aktivitas gempa dunia.
Kondisi geologi tersebut membantu menjelaskan mengapa Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif dan cukup sering mengalami gempa.
Namun, bukan berarti setiap pergerakan lempeng langsung menghasilkan gempa besar.
Sebagian pergerakan berlangsung secara perlahan atau menghasilkan gempa dengan kekuatan berbeda-beda.
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa lempeng tektonik bisa terus bergerak selama jutaan tahun.
Para ilmuwan memahami bahwa terdapat gaya-gaya dari dalam Bumi yang berperan dalam pergerakan tersebut.
Salah satu mekanisme yang banyak dibahas adalah pergerakan material mantel yang panas dan lebih mudah mengalir dalam skala waktu geologi.