Sejarah
Rahman Abdullah

Tak Mau Menyerah! Kisah Heroik Fahreddin Pasha Pertahankan Madinah Selama 2 Tahun

Tak Mau Menyerah! Kisah Heroik Fahreddin Pasha Pertahankan Madinah Selama 2 Tahun

17 Mei 2026 | 18:22

Keboncinta.com-- Sejarah kejayaan dan keruntuhan suatu kekaisaran menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Tak terkecuali tentang keruntuhan Kesultanan Turki Utsmani.

Salah satu kisah paling dikenang dalam sejarah akhir Turki Utasmani adalah sejarah perjuangan mempertahankan kota Madinah oleh seorang komandan militer Utsmaniyah, Fahreddin Pasha, yang hingga kini dikenang sebagai sosok penuh dedikasi terhadap Kota Nabi.

Madinah menjadi salah satu wilayah terakhir yang berada dalam perlindungan Utsmaniyah ketika situasi politik dan militer dunia tengah bergejolak pada masa Perang Dunia I.

Di tengah ancaman besar, Fahreddin Pasha tampil sebagai tokoh sentral yang mempertahankan kota suci itu dengan penuh keberanian.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Arah Baru Kebijakan Guru Honorer 2027, Penataan Status Non ASN Difokuskan pada Skema ASN yang Lebih Terarah

Awal Perjalanan Fahreddin Pasha Hingga Menjadi Komandan Militer

Fahreddin Pasha lahir pada tahun 1868 di Ruse, wilayah yang kini masuk Bulgaria. Ketika masih kecil, keluarganya pindah ke Istanbul, tempat ia mulai meniti perjalanan pendidikan militer.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer dan sekolah pertahanan elit Utsmaniyah, karier militernya berkembang pesat. Ia dikenal memiliki kemampuan strategi yang kuat dan pernah terlibat dalam Perang Balkan sebelum akhirnya dipercaya memimpin Korps ke-12 di Mosul pada masa Perang Dunia I.

Namun, perjalanan paling bersejarah dalam hidupnya justru terjadi di wilayah Hijaz, tepatnya di Madinah.

Baca Juga: Penataan Status Guru Honorer 2027 Kembali Dibahas Pemerintah, SE Nomor 7 Tahun 2026 Tegaskan Tidak Ada PHK Massal

Pemberontakan Arab dan Ancaman Besar terhadap Madinah

Pada tahun 1916, situasi mulai memanas setelah muncul laporan mengenai kerja sama rahasia antara Syarif Hussein dari Makkah dengan Inggris. Kesepakatan tersebut memicu pemberontakan terhadap pemerintahan Utsmaniyah.

Fahreddin Pasha dikirim ke Madinah pada Mei 1916 untuk menjaga kota tersebut dari ancaman serangan. Tidak lama setelah kedatangannya, jalur komunikasi dan kereta api mulai disabotase, sementara pasukan pemberontak menyerang sejumlah wilayah penting.

Meski menghadapi jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit, sekitar 15 ribu tentara melawan puluhan ribu lawan, Fahreddin Pasha memilih strategi ofensif. Ia melakukan berbagai serangan balasan yang berhasil mempertahankan Madinah dari upaya perebutan wilayah.

Baca Juga: Pencairan Gaji Ke-13 PNS Mulai Juni 2026, Berikut Rincian Komponen dan Potongan Resminya

Dijuluki “Macan Gurun”, Bertahan di Tengah Kelaparan dan Wabah

Ketika kota-kota lain seperti Makkah, Jeddah, dan Taif jatuh, Madinah menjadi wilayah yang terisolasi. Jalur bantuan terputus akibat sabotase yang dipimpin tokoh Inggris terkenal, T.E. Lawrence atau Lawrence of Arabia.

Meski menghadapi kelaparan, wabah penyakit, hingga minim logistik, Fahreddin Pasha tetap bertahan. Pengepungan Madinah berlangsung selama dua tahun tujuh bulan dan menjadi salah satu pertahanan paling dramatis dalam sejarah Kekaisaran Utsmaniyah.

Karena kegigihannya, pihak Inggris bahkan menjulukinya sebagai “Macan Gurun”. Dalam kondisi sulit, ia tetap berusaha menjaga semangat pasukan agar mampu bertahan hidup di tengah keterbatasan makanan dan tekanan perang.

Baca Juga: Pengangkatan Semua Guru Honorer Jadi PNS Belum Bisa Diputuskan, BKN Tegaskan Seleksi Harus Sesuai Kemampuan Daerah dan Kebutuhan ASN

Pengabdian Mendalam kepada Kota Nabi Muhammad

Yang membuat sosok Fahreddin Pasha begitu dikenang bukan hanya keberaniannya di medan perang, tetapi juga kecintaannya terhadap Madinah dan Nabi Muhammad SAW.

Di tengah kondisi pengepungan, ia tetap memberi perhatian besar terhadap Masjid Nabawi dan kawasan suci di sekitarnya. Dikisahkan, ia sering ikut langsung dalam perawatan area makam Nabi sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian spiritual.

Bagi Fahreddin Pasha, mempertahankan Madinah bukan sekadar tugas militer, tetapi amanah besar yang harus dijaga sepenuh hati.

Baca Juga: Percepatan Sertifikasi Guru 2026: Pemerintah Perluas Akses PPG untuk Wujudkan Tenaga Pendidik Profesional dan Berdaya Saing Nasional

Menolak Menyerah Meski Kekaisaran Utsmaniyah Tumbang

Ketika Kekaisaran Utsmaniyah menandatangani gencatan senjata pada akhir 1918, seluruh garnisun diperintahkan menyerah. Namun, Fahreddin Pasha tetap bertahan mempertahankan Madinah selama lebih dari dua bulan setelah keputusan itu diumumkan.

Baru pada Januari 1919 ia ditangkap dan diasingkan oleh Inggris. Meski sempat dijatuhi hukuman berat, tekanan diplomatik akhirnya membawanya kembali bebas beberapa tahun kemudian.

Setelah kembali ke tanah air, ia masih mengabdi untuk negaranya sebelum pensiun dari dunia militer. Fahreddin Pasha wafat pada tahun 1948, tetapi namanya tetap dikenang sebagai simbol loyalitas dan pengabdian terhadap kota suci Islam.

Hingga kini, kisah pertahanan Madinah oleh Fahreddin Pasha masih menjadi salah satu bab sejarah yang menunjukkan bagaimana kesetiaan, keberanian, dan keyakinan mampu bertahan bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.***

Tags:
Sejarah Sejarah Islam sejarah dunia

Komentar Pengguna