Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Tak Harus Selalu Indah: Membaca Tekanan Gaya Hidup “Aesthetic” di Balik Layar Media Sosial

Tak Harus Selalu Indah: Membaca Tekanan Gaya Hidup “Aesthetic” di Balik Layar Media Sosial

29 April 2026 | 21:15

Keboncinta.com-- Di era ketika setiap sudut bisa dijadikan konten, kata “aesthetic” menjelma menjadi standar baru yang diam-diam mengatur cara kita hidup. Meja belajar harus rapi dengan warna senada, kamar ditata minimalis, kopi pagi disajikan dengan pencahayaan yang pas, bahkan momen sederhana pun terasa perlu “dipoles” sebelum dibagikan. Semua tampak indah, setidaknya di layar.

Namun di balik keindahan itu, muncul tekanan yang tidak selalu disadari. Gaya hidup “aesthetic” bukan lagi sekadar pilihan visual, tetapi perlahan berubah menjadi ekspektasi sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok memainkan peran besar dalam membentuk tren ini. Algoritma mereka cenderung mengangkat konten yang menarik secara visual, membuat tampilan yang rapi, bersih, dan serasi lebih mudah viral.

Dalam konteks psikologi, fenomena ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk melakukan perbandingan sosial. Leon Festinger menjelaskan bahwa individu menilai dirinya dengan membandingkan dengan orang lain. Ketika yang dibandingkan adalah kehidupan yang telah dikurasi sedemikian rupa, hasilnya sering kali bukan inspirasi, melainkan tekanan.

Masalahnya, “aesthetic” yang kita lihat di media sosial jarang merepresentasikan kehidupan yang utuh. Ia adalah hasil seleksi: sudut terbaik, waktu terbaik, dan kondisi terbaik. Ada proses panjang di balik satu foto yang tampak sederhana. Namun, proses itu jarang terlihat. Akibatnya, kita mulai merasa bahwa hidup kita kurang menarik hanya karena tidak terlihat seperti yang ada di layar.

Tekanan ini bisa berdampak pada cara seseorang memandang diri sendiri. 

Namun, bukan berarti estetika itu sendiri bermasalah. Keindahan tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia. Ia bisa memberi kenyamanan, inspirasi, bahkan ketenangan. Yang menjadi persoalan adalah ketika estetika berubah menjadi standar yang kaku, seolah hidup harus selalu terlihat indah untuk dianggap cukup.

Di tengah arus ini, mungkin yang perlu dilakukan bukan menolak tren, melainkan memaknainya ulang. Estetika tidak harus mahal, tidak harus sempurna, dan tidak harus mengikuti pola tertentu. Bisa hadir dalam bentuk yang lebih personal. meja belajar yang berantakan tetapi penuh ide, kamar sederhana yang terasa nyaman, atau rutinitas harian yang tidak selalu layak dipamerkan, tetapi bermakna.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu harus terlihat “aesthetic” untuk menjadi berharga. Ada banyak momen yang justru indah karena kejujurannya, bukan karena tampilannya. Di dunia yang sibuk mempercantik tampilan, memilih untuk menjalani hidup apa adanya mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kebebasan yang sering kita cari.

Tags:
Gen Z Lifestyle Digital Lifestyle Gaya Hidup Remaja Estetika

Komentar Pengguna