Self Love
Azzahra Esa Nabila

Merawat Diri atau Memanjakan Berlebihan? Membaca Ulang Self-Care di Era Self-Reward

Merawat Diri atau Memanjakan Berlebihan? Membaca Ulang Self-Care di Era Self-Reward

29 April 2026 | 20:48

Keboncinta.com-- Istilah self-care kini terasa akrab di telinga. Hal itu hadir dalam berbagai bentuk: minum kopi setelah hari yang panjang, membeli barang yang diinginkan, atau sekadar “me time” tanpa gangguan. Di sisi lain, muncul istilah self-reward memberi hadiah pada diri sendiri setelah melewati sesuatu. Sekilas, keduanya terdengar serupa: sama-sama tentang memperlakukan diri dengan baik. Namun, di balik itu, ada batas tipis yang sering kali kabur.

Awalnya, self-care lahir dari kebutuhan yang sangat mendasar: menjaga kesehatan fisik dan mental. Setelah hari yang melelahkan, kita merasa berhak membeli sesuatu. Setelah mencapai target, kita merasa pantas memberi hadiah. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya muncul ketika “hadiah” menjadi respons utama untuk setiap emosi, baik lelah, sedih, bahkan bosan.

Secara psikologis, hal ini berkaitan dengan cara otak merespons rasa senang. Ketika kita membeli sesuatu atau mendapatkan pengalaman menyenangkan, otak melepaskan dopamin zat kimia yang memberi rasa puas. Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia cenderung mengambil keputusan berdasarkan dorongan emosional sesaat, terutama ketika mencari kenyamanan cepat. Akibatnya, self-reward bisa berubah menjadi kebiasaan impulsif, bukan lagi bentuk apresiasi yang sadar.

Perbedaan mendasar antara self-care dan self-reward terletak pada tujuan. Self-care berfokus pada keberlanjutan, apa yang benar-benar dibutuhkan tubuh dan pikiran agar tetap sehat. Bisa berupa tidur cukup, makan teratur, berolahraga ringan, atau memberi ruang untuk istirahat. Sementara self-reward lebih bersifat sesaat, memberi kesenangan sebagai bentuk penghargaan.

Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi perlu disadari batasnya. Ketika self-reward menjadi cara utama untuk mengatasi stres, ia bisa menimbulkan efek jangka panjang, mulai dari pengeluaran yang tidak terkontrol hingga ketergantungan pada kepuasan instan. Sebaliknya, self-care yang konsisten justru membangun fondasi yang lebih stabil, meskipun tidak selalu terasa “wah”.

Menariknya, banyak bentuk self-care yang justru tidak terlihat menarik di media sosial. Tidak selalu estetik, tidak selalu bisa dipamerkan. Kadang berupa keputusan sederhana: menolak ajakan karena butuh istirahat, mengatur waktu dengan lebih realistis, atau berhenti sejenak dari duniamaya. Hal-hal ini mungkin tidak memberi sensasi instan, tetapi dampaknya jauh lebih dalam.

Tags:
Self Control Self Care Gen Milenial Wajib Tau!

Komentar Pengguna