Keboncinta.com-- Hampir semua pengguna media sosial atau aplikasi pesan instan pernah mengalaminya. Sebuah pesan sudah diketik panjang lebar, kata demi kata sudah tersusun rapi, bahkan mungkin sudah beberapa kali diperiksa. Namun, tepat sebelum tombol kirim ditekan, pesan itu justru dihapus begitu saja. Kadang hanya tersisa satu kalimat singkat, kadang bahkan tidak jadi dikirim sama sekali. Fenomena ini terlihat sederhana, tetapi ternyata menjadi bagian yang cukup akrab dalam kehidupan digital saat ini.
Di balik kebiasaan tersebut, ada banyak pertimbangan yang terjadi dalam hitungan detik. Saat berkomunikasi secara langsung, seseorang biasanya berbicara secara spontan. Namun dalam komunikasi digital, setiap kata dapat dipikirkan, diubah, dan dipertimbangkan berkali-kali. Banyak orang khawatir pesannya akan disalahartikan, terdengar terlalu berlebihan, atau justru menyinggung perasaan orang lain. Akibatnya, proses mengirim pesan tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga proses menimbang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi setelah pesan itu diterima.
Menariknya, kebiasaan mengetik lalu menghapus pesan sering kali tidak berkaitan dengan isi pesan itu sendiri, melainkan dengan kondisi psikologis pengirimnya. Semakin seseorang ingin dipahami dengan baik, semakin besar kecenderungannya untuk memikirkan setiap kata yang digunakan. Hal ini juga menunjukkan bagaimana komunikasi digital memberi ruang bagi manusia untuk menyunting dirinya sendiri. Kita dapat memilih kalimat terbaik, menghapus bagian yang dianggap kurang tepat, bahkan menyembunyikan emosi yang sebenarnya ingin disampaikan. Di satu sisi, hal tersebut membantu mengurangi kesalahpahaman. Namun di sisi lain, terlalu banyak berpikir sebelum mengirim pesan dapat membuat seseorang merasa lelah dan sulit mengekspresikan dirinya secara jujur.