Keboncinta.com-- Banyak orang merasa cemas ketika mendengar kata “operasi”. Apalagi jika yang dibicarakan adalah operasi usus buntu. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, apakah tubuh akan berubah setelah organ tersebut diangkat? Apakah pencernaan akan terganggu? Atau justru tubuh akan tetap baik-baik saja?
Pertanyaan seperti ini cukup wajar, karena bagi sebagian orang, membayangkan ada bagian tubuh yang diangkat terasa menakutkan. Namun dalam dunia medis, operasi usus buntu adalah salah satu prosedur bedah yang paling sering dilakukan dan relatif aman.
Usus buntu sendiri sebenarnya adalah organ kecil berbentuk seperti kantong yang menempel pada bagian awal usus besar. Dalam istilah medis, kondisi peradangannya dikenal sebagai Apendisitis. Ketika usus buntu mengalami peradangan, penderita biasanya merasakan nyeri hebat di perut bagian kanan bawah, disertai mual, muntah, bahkan demam.
Jika peradangan ini tidak segera ditangani, usus buntu bisa pecah. Ketika itu terjadi, bakteri dari dalam usus dapat menyebar ke rongga perut dan memicu infeksi serius. Karena itulah dokter sering merekomendasikan operasi sebagai langkah paling aman untuk mengatasinya.
Operasi pengangkatan usus buntu dikenal dengan istilah Apendektomi. Dalam prosedur ini, dokter akan mengangkat organ usus buntu yang meradang agar infeksi tidak semakin meluas. Operasi biasanya berlangsung relatif cepat, dan saat ini sering dilakukan dengan teknik laparoskopi, yaitu operasi dengan sayatan kecil menggunakan alat khusus dan kamera.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi setelah usus buntu diangkat?
Hal yang paling sering ditanyakan adalah apakah tubuh masih bisa berfungsi normal tanpa organ tersebut. Jawabannya: ya, tubuh tetap bisa bekerja dengan baik. Sampai saat ini para ilmuwan memang masih memperdebatkan fungsi pasti usus buntu. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa organ ini mungkin memiliki peran kecil dalam sistem kekebalan tubuh, terutama pada masa kanak-kanak. Namun secara keseluruhan, tubuh manusia dapat beradaptasi tanpa organ tersebut.