Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Sebelum Ada Media Sosial, Manusia Juga Suka Membandingkan Diri: Mengapa Kebiasaan Ini Tak Pernah Hilang?

Sebelum Ada Media Sosial, Manusia Juga Suka Membandingkan Diri: Mengapa Kebiasaan Ini Tak Pernah Hilang?

25 Juni 2026 | 15:59

Keboncinta.com-- Pernah merasa hidup orang lain selalu terlihat lebih baik daripada hidup kita sendiri? Perasaan seperti ini sering muncul saat melihat pencapaian teman, kesuksesan rekan kerja, atau unggahan orang lain di media sosial. Banyak yang menganggap kebiasaan membandingkan diri adalah masalah baru yang lahir dari era digital. Padahal, jauh sebelum internet dan media sosial hadir, manusia sudah melakukannya.

Di masa lalu, orang membandingkan diri dengan tetangga yang memiliki rumah lebih besar, saudara yang dianggap lebih berhasil, atau teman sebaya yang lebih cepat mendapatkan pekerjaan dan pasangan hidup. Perbedaannya hanya pada jangkauan. Jika dulu perbandingan terjadi dalam lingkaran yang terbatas, kini kita bisa membandingkan diri dengan ratusan bahkan ribuan orang dalam satu hari hanya melalui layar ponsel.

Hal ini terjadi karena manusia secara alami menggunakan perbandingan sebagai cara untuk memahami posisinya di dalam kelompok sosial. Dengan melihat orang lain, seseorang dapat menilai sejauh mana dirinya berkembang, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana ia diterima oleh lingkungan. Dalam batas tertentu, kebiasaan ini sebenarnya membantu manusia belajar dan bertumbuh.

Masalah mulai muncul ketika perbandingan tidak lagi digunakan sebagai alat refleksi, melainkan sebagai ukuran harga diri. Kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh perjuangan dengan potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain. Akibatnya, pencapaian sendiri terasa kurang berarti, sementara keberhasilan orang lain terlihat begitu sempurna.

Menariknya, setiap zaman memiliki bentuk perbandingannya masing-masing. Dahulu orang mungkin iri pada sawah yang lebih luas atau usaha yang lebih maju. Sekarang, perbandingan hadir dalam bentuk jumlah pengikut, pencapaian karier, gaya hidup, hingga pencitraan kebahagiaan di dunia digital. Wujudnya berubah, tetapi dorongannya tetap sama.

Tags:
Berhenti Membandingkan Diri Fenomena Sosial Gen milenial saat ini

Komentar Pengguna