Perjalanan jauh, baik untuk liburan maupun ibadah, sering kali membuat jadwal makan jadi berantakan. Banyak traveler memilih tidur atau beristirahat di pesawat, bus, atau mobil, ketimbang makan sesuai waktu biasanya. Padahal, kebiasaan melewatkan jam makan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan, terutama jika perjalanan berlangsung berjam-jam atau melibatkan aktivitas fisik tinggi.
Ahli gizi lulusan Universitas Indonesia, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat bepergian. Dalam wawancaranya yang dikutip dari Antara, ia menjelaskan bahwa makan secara teratur setiap tiga jam sekali adalah kunci agar tubuh tetap bertenaga dan daya tahan tidak menurun selama perjalanan jauh.
Menurut dr. Luciana, tubuh membutuhkan pasokan energi yang stabil. Ketika seseorang bepergian, terutama jarak jauh, tubuh cenderung lebih aktif — berjalan, membawa barang, mengantri, atau menyesuaikan diri dengan perubahan suhu dan tekanan udara. Aktivitas semacam ini membuat tubuh lebih cepat lapar dibandingkan saat beraktivitas biasa.
Dengan makan setiap tiga jam sekali, kadar gula darah tetap stabil dan tubuh memiliki cukup energi untuk beradaptasi sepanjang perjalanan. Sebaliknya, jika melewatkan jam makan, tubuh akan mudah lelah, pusing, bahkan bisa mengalami penurunan konsentrasi.
“Kalau sedang banyak aktivitas, tubuh akan lebih cepat lapar. Jadi, penting makan secara teratur meskipun sedang dalam perjalanan,” jelasnya.
Selain sering melewatkan jam makan, kesalahan lain yang sering dilakukan traveler adalah makan berlebihan ketika makanan tersedia banyak. Misalnya, saat di pesawat atau hotel, makanan prasmanan yang berlimpah sering membuat seseorang tergoda untuk mencoba semuanya.
Dr. Luciana mengingatkan bahwa kebiasaan ini tidak sehat. “Kalau lagi disediakan banyak, dimakan terus itu enggak bagus, apalagi untuk yang punya penyakit,” katanya.
Makan berlebihan bisa memicu gangguan pencernaan seperti kembung atau mual, bahkan memperburuk kondisi penyakit kronis seperti diabetes atau kolesterol tinggi.
Kuncinya adalah makan secukupnya dengan tetap memperhatikan komposisi gizi seimbang — terdiri dari sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Pola makan seimbang membantu tubuh memperoleh energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah atau rasa berat di perut.
Selama perjalanan, ketersediaan makanan bergizi seimbang memang tidak selalu mudah. Namun, prinsip dasarnya tetap harus dijaga:
Karbohidrat kompleks
Pilih sumber energi yang tahan lama seperti nasi, roti gandum, kentang rebus, atau sereal. Hindari makanan tinggi gula sederhana yang membuat kenyang cepat hilang.
Protein berkualitas
Konsumsi lauk seperti telur, ikan, ayam, atau kacang-kacangan. Protein membantu memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga daya tahan selama perjalanan.
Sayur dan buah
Meski sering terabaikan, sayur dan buah penting untuk memperlancar pencernaan dan memenuhi kebutuhan vitamin serta mineral. Serat dari sayuran juga membantu mencegah sembelit — masalah yang umum dialami traveler.
Air putih cukup
Hidrasi yang baik menjaga tubuh tidak mudah lemas dan mencegah dehidrasi akibat udara kabin yang kering atau cuaca panas di tempat tujuan.
Menurut dr.