Keboncinta.com-- Kebiasaan untuk menunda tugas merupakan gambaran yang begitu akrab dalam kehidupan banyak orang.
Ia hadir diam-diam dalam rutinitas harian, sering dimulai dari sebuah niat sederhana—“nanti saja”—yang kemudian berubah menjadi penundaan berjam-jam atau bahkan berhari-hari.
Di meja belajar atau meja kerja, tumpukan buku, daftar pekerjaan, atau layar komputer seakan menatap tanpa suara, sementara pikiran mencari alasan untuk menunda memulai.
Baca Juga: Desa Pabuaran Jadi Sorotan Internasional: Delegasi Austria Belajar Harmoni Lintas Iman di Indonesia
Potret Kebiasaan Menunda
Dalam banyak kasus, menunda tugas dimulai dari rasa tidak nyaman menghadapi pekerjaan tertentu. Tugas yang terlihat rumit tampak seperti gunung tinggi yang sulit didaki.
Di sisi lain, pikiran lebih tertarik pada hal yang lebih mudah dan menyenangkan—membuka ponsel, menggulir media sosial, menonton video singkat, atau sekadar merapikan meja yang sebenarnya sudah cukup rapi.
Kebiasaan ini seringkali muncul bukan karena malas semata, melainkan karena adanya pergulatan batin. Ada ketakutan tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
Ada rasa kewalahan saat memandang pekerjaan yang tampak begitu besar. Ada pula rasa jenuh ketika tugas terasa tidak bermakna.
Semua ini membentuk gambaran seseorang yang terus berputar dalam lingkaran “ingin memulai tetapi tidak tahu harus dari mana”.
Baca Juga: Rasputin dan Keluarga Romanov: Kisah Gelap di Balik Jatuhnya Kekaisaran Rusia
Suasana Mental Saat Menunda
Saat menunda, pikiran biasanya dipenuhi rasa bersalah. Meskipun tubuh sibuk melakukan hal lain, di sudut kesadaran selalu muncul bayangan deadline yang semakin dekat.
Suasana mental menjadi campuran antara kelegaan sementara dan tekanan halus yang makin menumpuk.
Malam menjadi lebih panjang, dan jam-jam terakhir sebelum tenggat waktu dipenuhi panik, terburu-buru, dan kualitas kerja yang menurun.
Gambaran seperti ini banyak dialami pelajar yang menunda belajar hingga ujian tinggal esok hari, atau pekerja yang membuka lembar kerja hanya untuk menutupnya kembali sambil berkata “sebentar lagi”.
Fenomena ini begitu umum sehingga seolah menjadi bagian natural dari keseharian.
Baca Juga: “Merawat Semesta dengan Cinta”: Makna Mendalam di Balik Hari Guru Nasional 2025
Upaya Mengatasi Kebiasaan Menunda
Meski kebiasaan menunda terlihat kuat, ia bukan sesuatu yang tak bisa diatasi. Upaya untuk mengubahnya bermula dari langkah kecil. Membagi tugas besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil membuat pekerjaan terlihat lebih mudah didekati.
Mengatur meja kerja agar lebih rapi dapat menciptakan suasana yang mendukung. Mengatur waktu dengan memberi jeda setiap beberapa menit bekerja membantu pikiran tetap ringan.
Ada pula kebiasaan positif seperti memulai tugas selama lima menit saja. Meski tampak sederhana, lima menit pertama sering menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan seluruh tugas.
Memberi hadiah kecil pada diri sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan juga dapat menambah semangat. Sementara memahami manfaat dari tugas yang dikerjakan membuat motivasi terasa lebih jujur dan alami.
Baca Juga: Sejarah Perang Khandaq: Strategi Cerdas Rasulullah SAW Menghadapi Pengepungan Pasukan Ahzab
Ketika seseorang berhasil mengurangi kebiasaan menunda, suasana harinya berubah. Tugas tidak lagi menjadi beban menakutkan, tetapi bagian dari ritme yang dapat dikelola dengan baik.***