Khazanah
Rahman Abdullah

Pelestarian Bahasa Cirebon Dimulai dari Sekolah, Ini Catatan Penting untuk Para Guru

Pelestarian Bahasa Cirebon Dimulai dari Sekolah, Ini Catatan Penting untuk Para Guru

23 Juli 2026 | 11:07

Keboncinta.com-- Pelestarian bahasa dan sastra daerah tidak hanya bergantung pada masyarakat, tetapi juga pada dunia pendidikan yang menjadi tempat generasi muda mengenal identitas budayanya.

Karena itu, kompetensi guru yang mengajarkan muatan lokal memiliki peran sangat penting agar nilai-nilai budaya dapat diwariskan secara benar kepada peserta didik.

Di Cirebon, perhatian terhadap kualitas pembelajaran bahasa dan sastra daerah kembali mengemuka. Para guru dinilai perlu terus meningkatkan pemahaman mengenai materi kearifan lokal agar tidak terjadi kekeliruan saat menyampaikan pelajaran di kelas, terutama mengenai perbedaan antara parikan dan wangsalan.

Baca Juga: Jam Mengajar Guru Kini Lebih Fleksibel! Simak Ketentuan Terbaru Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025

Kompetensi Guru Dinilai Perlu Terus Ditingkatkan

Peningkatan kompetensi guru pengampu mata pelajaran kearifan lokal Bahasa dan Sastra Cirebon dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.

Harapan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah daerah di Cirebon yang terus mendorong pelestarian bahasa dan sastra daerah melalui jalur pendidikan formal, mulai dari jenjang PAUD dan TK hingga SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, serta SMK.

Melalui pembelajaran yang berkualitas, generasi muda diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.

Pelestarian Bahasa Daerah Masih Memiliki Harapan

Budayawan Cirebon sekaligus Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Dr. H. Casta, M.Pd., menilai bahwa upaya menjaga bahasa dan sastra Cirebon belum terlambat untuk dilakukan.

Menurutnya, pelestarian budaya dapat dilakukan secara bertahap melalui pendidikan sehingga peserta didik memiliki rasa bangga terhadap identitas daerahnya.

Ia menekankan bahwa sekolah menjadi salah satu media paling efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa, sastra, dan nilai-nilai kearifan lokal sejak usia dini.

Baca Juga: Data Peserta Didik Lama Hilang di Dapodik 2027? Ini Penyebab dan Solusi yang Perlu Diketahui Operator

Masih Banyak Guru Keliru Membedakan Parikan dan Wangsalan

Salah satu persoalan yang masih ditemukan di lapangan adalah kekeliruan dalam menyampaikan materi sastra Cirebon.

Menurut Casta, masih ada guru yang belum mampu membedakan antara parikan dan wangsalan, padahal keduanya merupakan bentuk sastra yang memiliki karakteristik berbeda.

Kesalahan tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan pemahaman yang kurang tepat bagi peserta didik mengenai sastra daerah Cirebon.

Parikan Berbeda dengan Wangsalan

Dalam penjelasannya, Casta menerangkan bahwa parikan memiliki kesamaan bentuk dengan pantun dalam sastra Indonesia.

Parikan terdiri atas susunan kalimat yang memiliki pola tertentu dan biasanya digunakan untuk menyampaikan nasihat, sindiran, maupun pesan moral melalui rangkaian kata yang indah.

Sementara itu, wangsalan merupakan bentuk sastra yang berisi kalimat dengan makna tersirat atau teka-teki. Jawaban dari wangsalan sebenarnya telah tersirat melalui petunjuk atau makna tertentu dalam kalimat tersebut sehingga pembaca atau pendengar diajak menemukan jawabannya.

Perbedaan inilah yang menurutnya harus benar-benar dipahami oleh guru sebelum mengajarkannya kepada peserta didik.

Baca Juga: Tak Perlu Menunggu Lagi! Kenaikan Pangkat PNS Kini Bisa Diusulkan Setiap Bulan, Ini Aturan Terbaru dari BKN

Guru Perlu Menguasai Dasar-Dasar Sastra Daerah

Selain memahami definisi, guru juga diharapkan mampu memberikan contoh yang tepat sesuai jenis karya sastra yang sedang dipelajari.

Parikan harus dikenalkan sebagai parikan atau pantun, sedangkan wangsalan harus dijelaskan sebagai bentuk sastra yang berbeda dan tidak disamakan dengan pantun.

Pemahaman dasar tersebut dinilai menjadi fondasi penting sebelum mempelajari bentuk-bentuk sastra Cirebon yang lebih kompleks.

Apresiasi untuk Guru yang Peduli Kearifan Lokal

Di sisi lain, Casta menyampaikan apresiasi kepada para guru yang selama ini tetap berkomitmen mengajarkan Bahasa dan Sastra Cirebon di sekolah.

Menurutnya, dedikasi para guru menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya tak benda yang dimiliki masyarakat Cirebon.

Meskipun mata pelajaran Bahasa dan Sastra Cirebon belum diterapkan secara merata di seluruh sekolah, keberadaannya dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda.

Pelestarian Bahasa dan Sastra Cirebon memerlukan dukungan berbagai pihak, terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam memahami materi kearifan lokal menjadi hal yang sangat penting agar pembelajaran berlangsung secara benar dan sesuai dengan kaidah sastra daerah.

Baca Juga: Berapa Nilai Minimal Agar Lolos CPNS 2026? Jangan Puas dengan Passing Grade

Dengan pemahaman yang tepat mengenai perbedaan parikan dan wangsalan serta berbagai bentuk sastra Cirebon lainnya, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga semakin mencintai budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.***

Tags:
pendidikan Gaya Bahasa Guru

Komentar Pengguna